Kisah Tersisa dari Pilkada Serentak di Sulbar


Seputarsulawesi.com, Mamuju- Pilkada telah usai. Para kandidat Bupati dan Wakil Bupati kini masuk kamar masing-masing. Ada yang bermuka murung, ada yang tampak riang. Sementara tim pemenangan pulang ke rumah dengan sedikit pongah. Sementara rakyat yang telah memilih, telah menghabiskan selembar dua lembar rupiah yang diperolehnya sebelum memilih. Tepat pukul 13.00, Rabu siang (9/12) lalu pertandingan itu telah usai.

Walau telah usai, mungkin tak ada kelirunya bila jalan panjang menuju pilkada pada empat kabupaten di Sulawesi Barat, Rabu (9/12) kemarin "digosip" ulang.

Di kabupaten Mamuju, terdengar kabar bagaimana warga disuguhkan amplop berisi uang. Di kabupaten Mamuju Tengah, kabar seperti itu tak terekam oleh seputarsulawesi.com. Tetapi di kabupaten termuda di Sulbar ini kemenangan fantastis H. Aras Tammauni, politisi partai Demokrat yang berpasangan dengan birokrat H. Amin Jasa bukan hal mengherankan. Sebab, H. Aras Tammauni dikenal sebagai pemilik lahan perkebunan kelapa sawit yang terhampar luas di wilayah tersebut.  

Sementara di Kabupaten Mamuju Utara, seorang oknum Lurah disergap warga membawa amplop berisi uang dan baligho salah satu Paslon Bupati/Wakil Bupati di Desa Makmur Jaya, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Mamuju Utara. Naas bagi oknum Lurah, upayanya menyogok warga dimentahkan warga lainnya (Lihat: http://www.seputarsulawesi.com/berita-oknum-lurah-tertangkap-tangan-hendak-lakukan-money-politik.html).

Di kabupaten Majene, berdasarkan informasi yang beredar, bahwa gempuran uang pada warga yang dilancarkan masing-masing Paslon Bupati/Wakil Bupati persis permainan judi "qiu-qiu". Paslon yang satu misalnya, memberi uang dengan jumlah tertentu, sementara Paslon yang lain membagikan uang dengan jumlah lebih tinggi dari Paslon satunya.

Dalam pilkada, uang mengenal usia, mereka yang berusia telah cukup syarat memilih maka uang mensasar dirinya. Uang bergentayangan bagai mahluk halus; tak terlihat, namun terasa. Uang tak terhingga itu, terberi dimana-mana.

Menurut akademisi Unasman, Abd. Latief, SA,g, MP.d fenomena uang dalam Pilkada adalah tantangan demokrasi lokal. Ia menolak bila uang dijadikan sebagai alat untuk merebut kekuasaan ditingkat lokal. "Saya tidak setuju dengan itu, sebab perilaku seperti itu justeru merusak demokrasi", katanya kepada seputarsulawesi.com via telpon, Sabtu, siang (12/12). (Mirak)


  • 758 Dibaca