Kisah-Kisah Memilukan Jauh Sebelum Kakbah Disterilkan

  • 07-03-2020

Seputarsulawesi.com, Makassar- Jauh sebelum Kakbah disterilkan seperti saat ini, ternyata sudah ada kisah-kisah memilukan yang terjadi sebelumnya. Hal itu, dituturkan oleh Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah  Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Nahdlatul Ulama (NU) di Australia dan New Zealand.

Lewat akun Twitter-nya @na_dirs, pria kelahiran 8 Desember 1973 itu memaparkan dua kisah yang pernah terjadi perihal keberadaan Kakbah itu, yaitu;

Pertama, di masa pertarungan antara Abdullah bin Zubair dengan Dinasti Umayyah seputar rebutan klaim siapa Khalifah yang sah, Kakbah pernah terbakar akibat panah api pasukan al-Hajjaj.

Abdullah bin Zubair dikenal kealimannya sejak di masa Nabi. Setelah wafatnya Sayyidina Husain di Karbala dan wafatnya Yazid bin Muawiyah, Abdullah bin Zubair dibai’at oleh penduduk Mekkah sebagai Khalifah. Dinasti Umayyah menolak klaim ini, maka terjadilah perang.

Imam Thabari mencatat bahwa cucu Sayidina Abu Bakar, yaitu Abdullah bin Zubair, penguasa Mekkah saat itu, dibunuh oleh pasukan al-Hajjaj atas perintah Khalifah Abdul Malik dengan cara kepalanya dipenggal kemudian tubuhnya disalib.

Peperangan terjadi selama enam bulan. Selama pengepungan itu, kota Mekkah dan juga kain Kakbah dilaporkan terbakar akibat panah-panah api yang dilepaskan pasukan Hajjaj. Dan pasukan al-Hajjaj lantas berteriak mengumandangkan takbir.

Imam Thabari melaporkan, tiba-tiba langit menggelegar dan kilat menyambar seolah melindungi batu hajar aswad dari serangan api panah pasukan Hajjaj. Pasukan Hajjaj menjadi ragu, namun panglima Hajjaj terus memerintahkan mereka menyerang.

Kiswah Kakbah mulai terbakar, setelah itu kilat menyambar 12 pasukan Hajjaj dan mati seketika. Hajjaj meminta pasukannya untuk tidak mundur, meski banyak yang ragu melihat langit seolah melindungi Kakbah.

Esok harinya ada berita kilat menyambar di sekitar Kakbah, dan kali ini sejumlah pasukan Abdullah bin Zubair terkena. Hajjaj yang mendapat laporan peristiwa itu segera bangkit dan berkata kepada pasukannya “lihat mereka kena sambar kilat. Kita dalam keadaan yang benar, dan mereka yang durhaka!”

"Ternyata sejak dahulu banyak yang mengklaim kebenaran seenaknya sendiri," kata Nadirsyah Hosen, menanggapi pernyataan Hajjaj itu.

Kisah kedua, pada tahun 930 pemberontak Qaramithah menyerbu kota Mekkah saat musim haji. Mayat-mayat dilempar ke sumur Zamzam, dan mereka berhasil pula mengambil Hajar Aswad. al-Muqtadir remaja 13 tahun yang diangkat jadi khalifah hanya bisa melongo.

Dicurinya Hajar Aswad ini benar-benar menampar Khalifah al-Muqtadir. Ia pun kemudian bernegosiasi hendak memberi Qaramithah uang sebanyak 50 ribu dinar agar mengembalikan Hajar Aswad. Pemberontak Qaramithah menolak tawaran itu.

Walhasil, di masa khalifah al-Muqtadir, Kakbah berpisah dengan Hajar Aswad. Hajar Aswad baru kembali sekitar 20 tahun kemudian. Saat itu, jamaah haji saat thawaf tidak ada hajar aswadnya.

Semua itu terjadi di masa khilafah Abbasiyah, nanti pada masa Khalifah Abbasiyah ke- 23, yaitu al-Mu’thi, Hajar Aswad berhasil diletakkan kembali pada posisinya di Kakbah, setelah ditebus degan uang yang banyak. Meski demikian, kondisi Hajar Aswad dikabarkan tidak lagi utuh.

Aslinya terdiri dari satu batu besar, akhirnya terpecah menjadi tujuh potong. Kemudian diikat degan perak dan dikembalikan ke Kakbah. Menurut Ibn Katsir, pencurinya bernama Abu Thahir Sulaiman bin Abi Sa’id al-Husin al-Janabi.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gus Nadir ini mengatakan, fakta ini memang sulit diterima oleh sebagian pihak dan merasa kesucian dan keagungan Kakbah tercemar. Tapi setidaknya kita bisa meninjau ulang wilayah suci dan profan dalam ibadah kita. "Toh kita tdk menyembah Kakbah. Yang kita sembah itu Allah Swt," katanya.

Dua kisah memilukan itu, menurutnya terjadi di masa khilafah jaman old. Makanya itu, yang terjadi sekarang belum ada apa-apanya. Lagian Kakbah dibersihkan agar jamaah bisa aman beribadah. Tujuannya untuk kemaslahatan umum. "Jadi sabar saja saat Kakbah dan masjidil haram disterilkan," tutupnya.

Sekadar diketahui, cerita sejarah ini bisa juga dibaca dalam buku berjudul "Islam Yes, Khilafah No, Jilid I dan II. Buku ini adalah karya Gus Nadiri sendiri. 

Post Tags:

Islam Nusantara