Konvergensi HMI dan Indonesia: Kontemplasi Gelar Kepahlawanan Nasional Pendiri HMI


Oleh: Santa
(Kader HMI Cabang Manakarra/Mamuju)

"Hari ini adalah rapat pembentukan organisasi Islam, karena semua persiapan dan perlengkapan telah beres. Siapa yang mau menerima berdirinya organisasi mahasiswa Islam ini, itu sajalah yang diajak, dan mereka yang tidak setuju biarkanlah mereka terus menentang" 
(Lafran Pane dalam: Habiqo Wibawa Satria, Halaman 13)

Lafran Pane adalah anak keenam dari Sutan Pangurubaan Pane, seorang tokoh pergerakan di Kecamatan Sipirok, di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Sumatera Utara pada. Sipirok terletak 38 Kilometer dari Padang Sidempuang, Ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan. 

Sutan Pangurubaan adalah Tokoh Partindo (Partai Indonesia) di daerah Sumatera Utara, disamping berprofesi sebagai wartawan dan penulis, juga Sutan Pangurubaan adalah pengusaha, dan menjabat sebagai Direktur jasa angkutan Oto Dinas Pengangkutan (ODP)  Sibualbuali yang berkedudukan di Sipirok dan bersiri tahun 1937. 

Dalam pergerakan Islam, Sutan Pangurubaan termasuk salah seorang pendiri Muhammadiyah Sipirok tahun1921.Sedangkan neneknya, adalah adik dari ulama besar di Sipirok yaitu Syekh Badurrahman Pane. Dua orang Abangnya, Sanusi Pane dan Arman Pane, tokoh dan pelopor Pujangga Baru dalam kesusastraan Indonesia (Agussalim Sitompul dkk, 2015:40-41).

Lafran Pane dilahirkan pada tanggal 5 Februari 1922 di di Padang Sidempuang, Kampung Pangurubaan, Kecamatan Sipirok, tepatnya di kaki Gunung Sibualbuali, berjarak 38 Kilometer ke arah utara dari Kota Salak Padang Sidempuan, Ibu Kota Kabupaten tapanuli Selatan Sumatera Utara. 

Dari sosok manusia bernama Lafran pane inilah kelak pada tahun 1947 berhasil mendirikan sebuah organisasi mahasiswa Islam pertama di Indonesia, yang kemudian dikenal dengan nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi kemahasiswaan yang berlatar belakang keislaman, Keilmuan, kebangsaan dan keindonesiaan ini digagas dan diprakarsai oleh Sosok Lafran Pane pada jam-jam perkuliahan Dosen Hussein Yahya dalam ruangan kelas di Kampus Sekolah Tinggi Islam (STI) dan sekarang menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). 

Saat itulah pada hari Rabu Pon 1878, 14 Rabiul Awal 1366 Hijriah, yang bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947, jam 16.00 Sore, Jalan Setyodiningrangtan Kampus STI.  Adapun tujuan pendirian awal HMI, ialah untuk mempertahankan Negara Republik Indonesia, mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam, yang kemduian dipimpin oleh Lafran Pane, sebagai ketua pertama, Wakil Ketua Asmin Nasution, Penulis satu Anton Timur Djaelani, Penulis dua Kartono, Bendahara Satu Dahlan Hussein, Bendahara dua Maisaroh Hilal, dan Anggota Suwali, Jusdi Gozhali, dan mansyur.

Inilah struktur kepengurusan HMI pasca  resmi didirikan oleh Lafran Pane bersama rekan-rekannya. Dalam fase-fase sejarah  selanjutnya, HMI ternyata banyak mengalami tantangan, baik di internal Indonesia waktu itu maupun kondisi eksternal. Dimana dari internal waktu itu, HMI dicurigai sebagai underbouw Masyumi, sebuah partai Politik yang menampung dan memperjuangkan aspirasi politik kaum muslim waktu. 

Sementara situasi eksternal waktu itu datang dari pihak musuh-musuh lama Indonesia yang tetap ingin menjajah Indonesia, yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai agresi militer kedua (Masa Perang kolonial kedua). Peristiwa terjadi pada Desember 1948 kurang lebih setahun HMI lahir. Hal ini kemudian menyebabkan banyak tokoh-tokoh HMI ikut melakukan pertempuran di lapangan. 

Meski demikian, akhirnya HMI dan Indonesia mampu melewati fase-fase sulit ini.
  Dari sosok Lafran Pane yang berlatar belakang agamais dan jiwa patriotisme, kemudian melakukan transformasi atas ide-ide dan gagasan-gagasanya ke dalam suatu wadah organisasi HMI. Dimana dari awal kelahirannya tidak bisa terlepas dari aspek Keislaman, Kebangsaan, dan Keindonesiaan.

HMI dan Indonesia   

Berbicara tentang HMI mustahil terlepas untuk membicarakan Indonesia. Mengapa? Sebab kelahiran HMI sangat dipengaruhi oleh kondisi Indonesia pada waktu itu. Kondisi itu, dapat kita lihat dari tiga aspek: 

Pertama; Keislaman, bahwa sejak awal negara republik Indonesia digagas dan dibangun tidak terlepas dari pengaruh tokoh-tokoh islam seperti, Cokroaminoto (Tokoh Sarekat Islam) KH.Ahmad Dahlan(Tokoh Muhammadiyah) Hadratussyai KH. Hasyim Assyari (Tokoh Nahdlatul Ulama/NU) dan sederet tokoh-tokoh islam lainnya. 

Hemat penulis, mereka semua punya andil dan pengaruh besar atas gagasan keislaman, yang menjadi ruh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dalam perdebatan yang terjadi dalam sidang BPUPKI, PPKI yang diwakili oleh generasi dari ketiga tokoh tersebut.

Faktanya hari ini, sila pertama dari lima dasar berdirinya Negara Republik Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dimna dalam semangat pemikiran keislaman dianggap sebagai bentuk tauhid. Dalam konteks ini, HMI yang sejak awal menjadikan Islam sebagai nafas perjuangannya mendapat afirmasi atau konvergensi dengan Keindonesiaan.

Kedua: Kebangsaan, dalam kondisi ini, Indonesia dikenal sebagai negara yang multi etnik, agama, suku bangsa, adat istiadat, bahasa telah menjadi kesadaran dari awal oleh para pendiri HMI, bahwa Indonesia harus dikelolah dengan dengan cara pandang multikulturalisme, dimana pandangan-pandangan yang dikedepankan adalah bagaimana membangun harmonisasi sosial dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. 

Ketiga: Keindonesiaan, HMI dari awal telah tegas menyatakan bahwa Negara Republik Indonesia harus dipertahankan dan bahkan hal tersebut, HMI menjadikan sebagai salah satu tujuan awal pendiriaannya, yaitu mempertahankan Negara kesatuan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Dalam konteks latar dan historis inilah, penulis meyakini bahwa HMI dan Indonesia terjadi kesamaan pemahaman atas nilai Keindonesiaan.      

Pahlawan Nasional

Tepat pada jumat 10 November 2017 seluruh keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diseluruh tanah air tercinta, ikut merasakan riuh kebahagiaan. Sosok Pemakarsa berdirinya HMI Prof.Drs.Lafran Pane secara resmi mendapatkan gelar "Pahlawan Nasional". 

Hal ini tentu mendapat respons positif bagi seluruh masyarakat Sumatera Selatan dan secara khusus bagi seluruh kader HMI se Indonesia. 
Kepahlawanan Lafran Pane telah diuji dan diproses secara mendalam oleh tim pengkajian dan pemberian tanda gelar dari Kementrian Sosial Republik Indonesia, dan hasilnya dianggap telah memenuhi unsur sebagaimana yang diatur dalam UU No 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. 

Sumber:

  1. Makalah Seminar Nasional KAHMI,7 Desember 2015, Unhas Makassar: Hariqo Wibawa Satria:Lafran Pane, Posisi dan Perannya Untuk Indonesia
  2. Sitompul Agussalim dkk, 2015: Lafran Pane Penggagas Besar. Kahmi Centre.Jakarta.
  3. Alfian Alfan M, 2013: HMI 1963-1966: Menegakkan Pancasila Ditengah Prahara. PT.Kompas Media.Jakarta

Tag :

  • 172 Dibaca