Laut Sulu-Sulawesi dan Rumah Para Penyamun Laut


Seputarsulawesi.com – Aksi merompak di perairan Afrika pada 2011 lalu, merupakan puncak krisis jalur laut yang menerpa kawasan tersebut. Tercatat, sebanyak 237 insiden bajak laut dilaporkan terjadi di kawasan lepas pantai Somalia. Saat itu, serangan bajak laut, penculikan serta pembayaran uang tebusan di perairan lepas pantai Somalia mendominasi pemberitaan di media-media Internasional.

Pascarentetan kejadian kawasan pantai Afrika dan mulai tingginya pengamanan terhadap kapal-kapal yang melintas di area tersebut, aksi pembajakan turun secara signifikan. Memang, awal 2017 lalu, sempat terjadi pembajakan, tetapi hanya satu kejadian dan hingga sekarang, tidak ada laporan lagi mengenai aksi perompakan.

Berbeda halnya di kawasan perairan Asia Tenggara, ada satu lokasi perairan yang berpotensi menjadi salah satu kawasan yang paling berisiko di dunia maritim. Meski skala kejadian terbilang kecil, tetapi tetap saja mengganggu lalu lintas kapal di kawasan laut tersebut. Di antara tahun 2015-2016, aksi bajak laut terbilang cukup berkurang, oleh karena langkah kongkret dari pemerintah terkait dan pihak perusahaan kapal.

Aksi merompak di kawasan ini memang sangat jarang terdengar di telinga khalayak Internasional. Melansir dari BBC, Laut Sulu-Sulawesi, yang mencakup perairan sekitar Indonesia, di bagian timur Sabah, Malaysia dan Filipina, bisa menjadi kawasan yang mengkhawatirkan kedepannya.

Sejak bulan Maret 2016, serentetan peristiwa penculikan dengan uang tebusan dilaporkan terjadi di sana dan di perairan timur Sabah. Serangan-serangan yang terjadi di kawasan tersebut, seringkali dikaitkan dengan kelompok militan Abu Sayyaf yang beroperasi di bagian selatan Filipina, meskipun beberapa insiden rompak tampaknya dilakukan oleh kelompok-kelompok kriminal biasa.

Para bajak laut sering mencegat kapal-kapal yang bergerak lambat, seperti kapal tunda (biasanya penarik tongkang yang memuat batubara, berlayar dari Indonesia ke Filipina Selatan) dan kapal-kapal pukat ikan. Namun, beberapa waktu belakangan, kelompok tersebut, mulai berani menyerang kapal-kapal besar, seperti kasus yang dialami kapal bermuatan berat berbendera Korea Selatan yang diserang di perairan Filipina Selatan pada Oktober 2016.

Selain rentan dengan aksi perompak, jalur Laut Sulu-Sulawesi juga merupakan area penyelundupan barang-barang ilegal dan buruh migran. Di kawasan laut ini, terdapat banyak celah untuk lolos dari pengawasan penjaga perbatasan, sehingga memudahkan aksi penyelundupan. Kabar terakhir, gejolak di Marawi juga membuat sejumlah simpatisan ISIS di Indonesia dan Malaysia menggunakan jalur ini untuk memasuki Filipina Selatan. Jalur ini juga pernah dipergunakan oleh milisi muslim asal Filipina untuk masuk ke Indonesia, saat terjadi gejolak di Ambon dan Poso, beberapa tahun yang lalu.

Untuk mengantisipiasi meningkatnya aksi pembajakan dan penyelundupan manusia, Indonesia dan Filipina membuat kesepakan yang memungkinkan militer Indonesia melakukan ‘pengejaran’ ke wilayah Filipina. Terkait ancaman yang muncul dari ISIS, didirikan juga pos komando di Bongao Filipina, Tawau Malaysia dan Tarakan Indonesia.

Menyamun di laut, bukan jalur baru

Kawasan Laut Sulu-Sulawesi yang meliputi wilayah laut di utara Kalimantan, Selat Makassar, bagian utara Sulawesi Utara yang memanjang ke perairan Maluku Utara dan Laut Sulu di selatan Filipina, bukanlah jalur baru bagi aksi pembajakan. Pada abad XVIII dan XIX, kawasan ini dipenuhi aksi-aksi merompak dan beberapa pulau bahkan menjadi pangkalan utama para bajak laut.

Orang-orang Tobelo dari Maluku Utara pada mulanya adalah pasukan angkatan laut Sultan Nuku dari Tidore yang berperang melawan tentara VOC pada akhir abad XVIII. Namun, keadaan itu bertolak belakang pada abad XIX, orang-orang Tobelo menjadi pelaut yang sangat agresif dan sering merompak kapal-kapal di laut lepas. “Daerah Operasi mereka menjangkau sampai ke Laut Jawa,” tulis Adrian B. Lapian dalam Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut; Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX (2009).

Bajak Laut Tobelo, tidak hanya beraksi di wilayah perairan Jawa dan Flores saja. Mereka juga menjangkau wilayah perairan Sulawesi Timur, sekitar Banggai dan Teluk Tomini. Di wilayah perairan tersebut, mereka bertemu dengan kapal-kapal perompak asal Filipina Selatan, terutama orang Mangindano. Kekuatan dua kelompok perompak ini, membuat jalur perairan Laut Sulawesi bagian timur, mencekam.

Meski begitu, kekuatan armada laut Belanda yang telah menggunakan kapal uap, beberapa kali menyudutkan kelompok perompak Tobelo. Tempat persembunyian mereka pun telah banyak yang diketahui oleh Belanda dan beberapa orang pribumi yang selama ini melindungi orang Tobelo, justru mulai berpihak ke Kolonial. Pada akhirnya, kelompok perompak Tobelo menghentikan kehidupan mereka sebagai perompak.

Selain orang Tobelo, kawasan Laut Sulu-Sulawesi juga dipenuhi oleh perompak-perompak yang berasal dari Filipina Selatan. Nama-nama seperti Lanun, Mangindano dan Balangingi, tercatat sebagai kelompok besar perompak yang menguasai dan sering melakukan aksi perompakan di kawasan ini.

Bahkan, nama-nama kelompok ini telah dikonotasikan sebagai bajak laut itu sendiri. Dalam kamus bahasa melayu dan Indonesia istilah ‘lanun’ dianggap sebagai nama lain untuk menyebut bajak laut atau perompak laut, tanpa menghubungkan lagi dengan suku bangsa Lanun. Begitu pula dengan ‘mangindano’, ‘mangindanau’, atau ‘mangindanao’, dalam bahasa Bolaang Mongondow, diartikan sebagai bajak laut.

“Dalam bahasa Makassar, kata ‘balangingi’ dulu berarti bajak laut. Kini pengertian ‘balangingi’ masih dipakai dalam bahasa Makassar untuk seorang yang berperilaku kasar atau kurang ajar,” tulis Adrian B. Lapian.

Ketiga kelompok bajak laut ini, memiliki anggota dalam jumlah yang sangat banyak, berikut kapal-kapal yang besar. Jumlah Lanun pada waktu itu, bisa mencapai 5.000 anggota dan masih ada beberapa yang tidak jelas keterangannya. Menurut, catatan Hunt yang dikutip Adrian B. Lapian, di bawah pimpinan beberapa Datu (pembesar suku bangsa Lanun), terdapat sekitar 70-an perahu besar yang digunakan untuk merompak.

Kelompok Mangindano yang pernah terlibat dalam Perang Moro melawan Spanyol, tercatat memilki kekuatan tempur, yang terdiri dari 50 perahu dan 300 orang anggota. Sementara Kelompok Balangingi, belum bisa dipastikan kisaran jumlah anggotanya, tetapi kelompok bajak laut ini, terdiri dari berbagai macam suku bangsa, baik dari Mangindano, Lanun, Tausug, bahkan terdapat unsur asing, seperti Cina, India, Eropa, dan Nusantara.

Sebelum gencarnya kekuatan kolonial di wilayah Asia Tenggara pada pertengahan abad XIX, ketiga kelompok ini sangat dominan di perairan Laut Sulu-Sulawesi. “Perahu Lanun, Mangindano dan Balangingi leluasa berlayar di kawasan ini, bahkan dapat dikatakan bahwa kekuatan merekalah yang paling unggul pada masa itu di antara kekuatan laut setempat,” papar Adrian B. Lapian.

Kawasan Laut Sulu-Sulawesi pada waktu itu memang menjadi areal transaksi perdagangan budak yang cenderung bebas. Bandar Sulu di wilayah Filipina Selatan terkenal sebagai pusat perdagangan budak. Hal inilah yang membuat ekspedisi ketiga kelompok perompak tersebut difokuskan untuk menangkap budak yang merupakan komoditi yang sangat laku pada masa itu.

Kelompok perompak banyak menyerang kapal-kapal besar atau pemukiman di pesisir pantai, guna menangkap sejumlah orang untuk dijadikan budak dan dijual kembali di pusat-pusat perdagangan. Adrian B. Lapian menyajikan beberapa korban yang diserbu kapalnya dan kemudian tertangkap di sekitar perairan Sulu dan Maluku Utara. Umumnya, korban tersebut sedang berlayar untuk berdagang atau menangkap ikan.

Menurut studi Warren yang dikutip oleh Adrian B. Lapian, ekspedisi laut Lanun/Balangingi yang meliputi sebagian besar wilayah Asia Tenggara mempunyai tujuan tertentu, yaitu sebagai usaha memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang pada masa itu masih dilakukan oleh budak.

Tag :

  • 672 Dibaca