Makassar Hutan Ruko


Seputarsulawesi.com, - Sebutan “Makassar sebagai kota dunia” populer dalam tiga tahun terakhir, melambangkan ibu kota Sulawesi Selatan ini sebagai kota terbuka bagi siapa saja. Semua berhak mengakses kota megah di kawasan Timur Indonesia ini. Namun, getaran kalimat itu terasa sebagai bentuk sikap yang hanya dititikberatkan untuk tujuan-tujuan ekonomi. Dengan kata lain, keterbukaan Makassar yang di-makna-kan pada kalimat itu, sesungguhnya untuk mendorong pertumbuhan investasi.

Kita bisa menyaksikan, investasi itu kian mekar di mana saja. Mulai dari kawasan darat kota, hingga kawasan pesisir. Saban hari pembangunan sarana fisik bangunan komersil digenjot di kota megah ini. Mulai dari hotel, properti, tempat jajan mewah, hingga hiburan dan sebagainya. Semua itu bertumbuh subur di kota Daeng.

Pembangunan yang sangat signifikan dengan peraturan yang masih kurang tegas dan tidak adanya pengendalian yang baik tentu saja akan menimbulkan dampak negatif secara nyata, hilangnya ruang terbuka hijau dan banyaknya pengerasan tanah yang dilakukan untuk mempermudah akses perjalanan ataupun untuk lahan parkir, akibatnya lahan untuk peresapan air berkurang, tingkat penyerapan air tanah berkurang dan terjadi genangan bahkan banjir. Genangan air sering terjadi di jalan-jalan utama.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Makassar, menyebutkan pada tahun 2014, tercatat sebanyak 1.537 Izin Mendirikan Bangunan (IMB) diterbitkan dan tahun 2015, IMB yang diterbitkan sebanyak 1.954, Sementara pada tahun 2016, mengalami peningkatan dua kali lipat yaitu sebanyak 4.111 IMB.

Bahkan pada tahun 2017, per bulan Mei, jumlah izin yang diterbitkan sudah melebihi setengah dari jumlah IMB tahun 2016 lalu, yakni sebanyak 2.161 dan ini akan terus mengalami peningkatan. Semua Izin IMB ini, sudah memuat segala jenis bangunan di Kota Makassar.

"Tahun ini kami baru mencatat hingga bulan Mei, tetapi jumlahnya telah mencapai seperdua dari tahun 2016 kemarin, yang jelas tiap tahun ada peningkatan," kata Kepala bagian Sistem Informasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Makasssar, Muh. Al Ghazali, kepada Seputarsulawesi, Selasa, 22 Agustus 2017 kemarin.

Pembangunan di Kota Makassar seolah tak mau berhenti. Jumlah bangunan komersil terus bertambah setiap tahunnya.Kota Makassar semakin doyan mengganti tanah lapang dengan bangunan.

Salah satu yang paling mencolok adalah mekarnya pembangunan ruko (rumah kantor) di kota Makassar. Hampir setiap pinggir jalan, ada ruko yang berdiri atau sementara ditegakkan bangunannya. Tak cuma dipinggiran jalan utama, ruko pun kini mudah ditemukan dikawasan jalanan selevel lorong. Sungguh menakjubkan. Winarni KS dalam sebuah tulisannya menyebut kota ini “hutan ruko” (http://inart.web.id).

 

Hutan Ruko yang Kian Lebat

Ruko adalah jenis bangunan tanpa batas, tanpa pagar yang tergolong bangunan komersil. Ia berdempetan rapat dan hampir tidak menyisakan lahan terbuka. Bentuknya persis sebuah kotak yang tersusun dengan jendela dibagian depan lantai dua, atau lantai diatasnya. Dengan model begini, ruko tergolong bangunan tak ramah lingkungan. Selain itu, bentuk kotak membuat ruko tak tersinari matahari.

Untuk mendapatkan cahaya di siang hari, ruko mesti diterangi lampu. Dengan demikian, ruko pun sebenarnya adalah tipe bangunan yang boros energi. Meski begitu, ruko adalah sebuah inovasi manajemen ekonomi dalam menghadapi kerasnya kehidupan kota tanpa penggunaan teknologi yang rumit.

Dilansir dari Winarni KS yang mengutip Setiadi Sopandi, dalam tulisannya Peran Ruko dalam Sejarah Kota mengungkapkan bahwa ruko secara terminologi diduga berasal dari dialek Hokkian, tiam-chu, yang berarti rumah dan toko. Etnis Hokkian mendominasi populasi Cina perantauan di kota-kota Asia Tenggara sehingga kebiasaan menetap dan berusaha di ruko sering dikaitkan dengan budaya mereka. Biasanya ruko memiliki muka yang sempit, sekitar empat sampai dengan lima meter saja, namun panjangnya bisa mencapai 20 meter lebih. Ruko lazimnya memiliki satu hingga dua lantai yang ditujukan untuk menampung aktivitas ekonomi sekaligus juga hunian.

“Aktivitas perdagangan di Makassar sebelum 1850, terpusat di deretan toko dan gudang yang terbentang dari utara ke selatan, yang diantarai oleh dua jalan yang terletak sejajar dengan pantai, yaitu Pasarstraat (Jalan Pasar sekarang Jalan Nusantara) dan Chinastraat (Jalan Cina sekarang Jalan Sulawesi). Disanalah banyak berderet ruko,” tulis Winarni KS.

Sebuah ruko pada zaman itu, urai Winarni, lazimnya juga memiliki sebuah altar leluhur yang merupakan simbol kehadiran anggota keluarga yang telah tiada. Dengan demikian, ruko juga memiliki arti penting sebagai simbol status keluarga yang terus dipelihara dan diturunkan ke generasi berikutnya. Kadang juga ruko berfungsi sebagai rumah klan/abu keluarga atau mengemban fungsi sosial sebagai rumah perkumpulan atau organisasi.

Seiring waktu, perkembangan ruko makin fleksibel terhadap perubahan fungsi dan adaptif terhadap lingkungan tempatnya dan zamannya berada. Banyak dari elemen arsitektur ruko merupakan “pinjaman” dari budaya lain, seperti lisplank berprofil ukiran Melayu dan detail-detail Eropa.

Ruko pun dirancang agar adaptif terhadap iklim dengan penyelesaian yang sederhana, tetapi elegan. Bentuk muka dan bukan, jendela dan pintu, bervariasi di tiap kota dan juga dipengaruhi oleh status/peran sosial serta orientasi budaya penghuninya karena heterogenitas dan dinamika masyarakat penghuninya.

Ruko-ruko yang makin banyak di Kota Makassar, juga tak bisadilepaskan dari aktivitas perdagangan. Sejumlah kawasan pinggiran kota yang mulai banyak diisi oleh perumahan-perumahan, menimbulkan efek ekonomi berkelanjutan. Salah satunya adalah pendirian ruko, sebagai tempat usaha perdagangan. Ruko-ruko itu didirikan oleh pihak pribadi, yang membeli tanah di sekitar perumahan atau didirikan sendiri oleh pemilik bisnis perumahan tersebut. Bahkan, ada yang secara khusus memang bergelut di bisnis properti jenis ruko.

Ruko juga menjadi ruang sederhana untuk berkantor bagi beberapa perusahaan. Bahkan, bank-bank milik negara, kebanyakan memilih ruko sebagai kantornya. Berkat hal ini, bisnis properti ruko mampu memberikan keuntungan yang melimpah. Sewa ruko, berkisar 50 – 75 juta per tahun. Bahkan, bisa lebih dari itu, jika ruko berada di lokasi strategis.

Harga ruko sendiri, melansir olx.id, rata-rata untuk ukuran minimalis, baik berlantai satu atau dua, dibanderol antara 450 juta – 1 miliar. Sementara, harga itu akan melonjak apabila ruko tersebut semakin besar ukurannya dan terletak di kawasan strategis. Harga jualnya bisa mencapai dua miliar.

 

Akal-Akalan Terhindar Dari Beban Pajak

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Makasssar belum memiliki data secara lengkap mengenai berapa jumlah bangunan untuk tiap jenis, karena belum melakukan klasifikasi mengenai jumlah bangunan ruko, hotel, dan lain sebagainya.

“Belum ada data spesifik mengenai jumlah ruko di Makassar, kalau berdasar pada Izin Mendirikan Bangunan. Itu karena keterbatasan aplikasi yang kami gunakan,” ujar Al Ghazali.

Meski bisa menarik data jumlah ruko atau jenis bangunan lain kedepannya, masih akan terdapat ketidak validan data. Karena, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) masih sering diakal-akali oleh pihak yang ingin membangun.

“Perhitungan itu juga tidak bisa tepat, nanti kita mengira. Ini karena banyak orang 'kalasi' (tidak jujur), pada saat survei lapangan berbeda dengan gambar yang diajukan pemohon. Biasa ada yang berizin rumah tinggal, tetapi setelah disurvei, ternyata yang dibangun adalah ruko,” katanya.

Hal yang tentu saja merugikan tersebut kerap terjadi, karena menghindari beban pajak bumi dan bangunan, untuk rumah tinggal lebih rendah ketimbang ruko atau bangunan komersil.

“Faktor besar pajak itu yang biasa membuat akal-akalan itu sering terjadi,” ujanya.

Selain itu, masih adanya pengurusan “ilegal” yang melibatkan oknum-oknum tertentu menjadi kendala dalam penataan dan penertiban Izin Mendirikan Bangunan (IMB), membuat akal-akalan ini marak terjadi dan cenderung susah untuk dihindari.

“Kalau ada tandatangan dari Lurah atau Camat setempat, ya kita mau tidak mau harus kasi izin. Biasanya ada oknum yang mengurus hal itu. Kan itu usahanya, kita tidak bisa cegah,” kata Al Ghazali. 

Maraknya akal-akalan pendirian ruko, mengindikasikan semakin diminatinya ruko oleh masyarakat Kota Makassar. Prospek ruko sebagai tempat usaha memang menggiurkan. Ruko bisa menjadi tempat untuk mengembangkan usaha kecil menengah, semisal warung kopi atau tempat fotokopi. Juga sebagai kantor bagi perusahaan-perusahaan tertentu.

Ruko yang berlantai dua pun bisa menjadi tempat hunian, sembari melakukan usaha perdagangan. Inilah yang menjadi salah satu keunggulannya. Ruko makin hari makin diminati, yang membuat kota Makassar makin dipadati.

  • 230 Dibaca