Makassar Menjelma sebagai Kota Niaga Terkemuka

Jauh sebelum Makassar menjelma sebagai satu-satunya bandar niaga di Sulawesi Selatan, terdapat kota niaga lain di wilayah pantai barat yang cukup mendominasi. Kota tersebut adalah Siang. Siang bersama Luwu, merupakan dua kerajaan awal yang memiliki kekuasaan politik tertinggi di Sulawesi Selatan.


Seputarsulawesi.com - “Wilayah Makassar dari laut terlihat sebagai daerah yang paling subur dan paling menyenangkan. Wilayah ini berupa daratan, indah hijau dan tidak begitu tertutup hutan seperti daerah-daerah lain di Hindia; penduduknya sangat padat. Makassar adalah daerah persawahan yang indah, di mana-mana padi tumbuh; hal ini dapat dilihat jika berlayar menyusuri pantai, terutama pada bulan Maret, April, Mei, dan Juni.”

“Pada bulan-bulan ini, padi belum dituai. Lebih ke dalam lagi terdapat kebun kelapa yang indah. Pohon ditanam berjejer-jejer teratur dan daunnya yang rindang melindungi orang dari terik matahari...,” papar Edward L Poelinggomang tentang kisah seorang Belanda yang mengunjungi Makassar pada awal abad ke-17 dalam Makassar Abad XIX; Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim (2002).

Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa Makassar adalah wilayah yang coraknya agraris, sebelum kemudian menjelma sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang termasyhur ke penjuru dunia. Hal lain yang turut menandai corak agraris Makassar sebelum abad ke-17, yakni letak istana dan pusat pemerintahan Kerajaan Gowa di Tamalate, berjarak enam kilometer dari wilayah pantai.

Melihat kecenderungan perairan Sulawesi Selatan yang sudah mulai ramai dilalui dan dikunjungi pedagang dari Jawa dan Malaka, bahkan sejak akhir abad ke-15, membuat Raja Gowa ke-9 Karaeng Tumaparissi Kallonna memindahkan ibukota ke Benteng Sombaopu, di pesisir dekat muara sungai Jeneberang. Pemindahan ini menandai dimulainya corak maritim Kerajaan Gowa, sembari tetap mempertahankan sumber-sumber agrarisnya.

Sombaopu pun diposisikan sebagai bandar niaga kerajaan. Menurut Edward L Poelinggomang (2002), belum diketahui secara pasti apa yang mendorong sang raja memberi perhatian lebih pada dunia niaga. Kendati demikian, mungkin saja motif utamanya adalah keuntungan ekonomi, dilihat dari perkembangan niaga di wilayah tersebut.

Pascapemindahan ibukota, supremasi Kerajaan Gowa dilanjutkan dengan penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan di sekitarnya, termasuk Kerajaan Siang, Parigi, Garassi, Sidenreng, dan beberapa kerajaan lainnya. Selain itu, Kerajaan Gowa juga menjalin persahabatan dengan kerajaan Tallo dan sekutu-sekutunya, termasuk Maros dan Polombangkeng. Hal ini bertujuan agar Sombaopu dapat menjadi bandar niaga terpenting di Sulawesi Selatan.

Menyatunya dua kerajaan, yakni Gowa dan Tallo pada masa Karaeng Tumaparissi Kallonna, semakin memperkuat posisi Sombaopu. Karena pada masa itu, Tallo sudah mulai melakukan kegiatan niaga bersama sekutu-sekutunya, yakni Maros dan Polombangkeng. Penyatuan ini tidaklah berlangsung begitu saja, tetapi didahului dengan perang.

“Namun, peperangan itu berakhir dengan perjanjian yang berisi sumpah untuk menyatukan dua kerajaan. Bunyinya: “Barang siapa mengadu domba Gowa dan Tallo akan dikutuk oleh Dewata”. Sejak itu dikenal ungkapan “satu rakyat dua raja” (sereji ata narua karaeng), sehingga sering disebut sebagai kerajaan kembar, atau Kerajaan Makassar,” tulis Edward L Poelinggomang (2002).

 

Dari Strategi Cerdik ke Politik Pintu Terbuka

Jauh sebelum Makassar menjelma sebagai satu-satunya bandar niaga di Sulawesi Selatan, terdapat kota niaga lain di wilayah pantai barat yang cukup mendominasi. Kota tersebut adalah Siang. Menurut Leonard Y. Andaya dalam Warisan Arung Palakka (2004), Siang bersama Luwu, merupakan dua kerajaan awal yang memiliki kekuasaan politik tertinggi di Sulawesi Selatan.

Dalam penelitian Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (2013) yang mengutip Edward L Poelinggomang (2002), terdapat satu kota dan bandar niaga penting di Jazirah selatan Sulawesi, yakni Siang yang telah berkembang pesat dalam kegiatan perniagaan. Antonie de Paiva, yang telah mengunjungi Siang selama dua kali (1542 dan 1544) untuk melakukan pembabtisan kepada raja Siang, memberitahukan bahwa pedagang-pedagang Melayu telah menetap di bandar niaga itu sekitar 1490.

Keberadaan Siang sebagai kota niaga yang cukup mapan, membuat kerajaan Gowa yang telah memulai supremasinya, berusaha menaklukan kerajaan tersebut. Namun pasca penaklukan, Siang dan beberapa kerajaan lainnya, masih berusaha mengembangkan bandar niaga mereka. Pada akhirnya, Karaeng Tinipalangga ri Ulaweng, Raja Gowa X, menempuh jalur yang terbilang cukup “ekstrim” dan “cerdik” dibanding pendahulunya.

Selain menaklukan, Kerajaan Gowa mengembosi bandar niaga beberapa kerajaan, terutama Siang, Suppa, Bacukiki. Tenaga-tenaga yang ahli dalam hal niaga dan kemaritiman diangkut menuju kerajaan Gowa. Begitu pula dengan para penduduk yang sebagian besar dibawa menuju Gowa dan dipekerjakan sebagai budak. Terakhir, sumber-sumber ekonomi penyokong kerajaan dan bandar niaganya, direbut. Praktis, bandar niaga kerajaan-kerajaan tersebut lumpuh total.

Edward L Poelinggomang (2002), menyebut strategi yang dilancarkan Raja Gowa X ini mengantarkan Gowa (Makassar) sebagai satu-satunya bandar niaga di Sulawesi Selatan. Karaeng Tunipalangga ri Ulaweng ini pun terkenal dengan diktumnya, makkanam nu mammio, yang artinya aku bertitah dan kamu menaati.

Keberhasilan Raja Gowa X dalam mewujudkan supremasi Kerajaan Makassar sebagai satu-satunya bandar niaga di Sulawesi Selatan, mulai menandai kegiatan maritim yang serba sibuk di perairan wilayah ini. Makassar kemudian semakin tersohor sebagai bandar niaga. Dan banyak menjalin hubungan dengan pedagang dari berbagai wilayah, termasuk Eropa.

Hubungan dengan berbagai pedagang dari wilayah manapun, merupakan salah satu bagian kebijakan politik kerajaan Gowa. Kebijakan itu, oleh banyak peneliti disebut sebagai “Politik Pintu terbuka”. Gowa (Makassar) juga mempersilahkan perairan yang berada di wilayahnya, bebas untuk dilalui siapa saja. Dalam hal ini, sering disebut sebagai “prinsip laut bebas”.

“Politik pintu terbuka yang dijalankan oleh Kerajaan Makassar bukan hanya diarahkan untuk memikat pedagang dan pelaut di daerah sekitar (Bugis, Makassar, Mandar, Selayar dan Bajo) atau Portugis di Malaka dan Melayu, tetapi juga mereka yang bergiat di Asia Timur dan Asia Tenggara (pedagang Eropa, Asia Timur dan Asia Tenggara),” tulis Edward L Poelinggomang (2002).

Bahkan, berkat kebijakan politik ini, pelabuhan Sombaopu dikunjungi pedagang-pedagang asal Cina, Spanyol, Denmark, Inggris dan sebagainya, pada akhir abad ke-16 dan permulaan abad ke-17. Demi menambah daya pikat pelabuhan, pihak kerajaan memberi izin kepada para pedagang untuk mendirikan perwakilan dagang mereka di Makassar.

Keterbukaan itu, memberi dampak baik bagi pedagang-pedagang asal Makassar yang hendak berniaga ke pelabuhan-pelabuhan, baik di dalam dan di luar wilayah . Hal ini juga mempererat hubungan antara kerajaan Makassar dengan pihak kerajaan lain. Edward L Poelinggomang (2002) menyebutkan mangkubumi Kerajaan Makassar (Raja Tallo), diberikan izin untuk menempatkan wakilnya di Banda pada 1607. Begitu pula dengan pemerintah Spanyol di Filipina, yang memberikan izin kepada penguasa Makassar untuk mendirikan perwakilan di Manila.

Makassar kemudian berkembang begitu pesat sebagai pusat niaga dan pangkalan bagi para pelaut. Pelabuhan Sombaopu menjadi lokasi transit penting bagi komoditas rempah-rempah dan kayu cendana. Dari situ, kedudukan Makassar kian terkenal ke luar nusantara dan dianggap sebagai salah satu bandar niaga internasional.

 

 

 

 

  • 154 Dibaca