Makna di Balik Lomba Hari Kemerdekaan

  • 18-08-2017

Seputarsulawesi.com, Makassar- Setiap daerah punya cara sendiri dalam merayakan dan meriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT)  Republik Indonesia. Mulai dari mempercantik lingkungan, baik itu jalanan, pekarangan rumah maupun lorong-lorong yang di cat dengan warna khas kemerdekaan merah-putih, memasang umbul-umbul, bendera dan gerbang masuk desa-desa atau lorong-lorong.

Perayaan hari kemerdakaan juga selalu diisi dengan berbagai perlombaan yang diikuti masyarakat. Lombanya beragam mulai dari lomba yang menggambarkan ciri khas suatu daerah hingga lomba yang sifatnya menghibur.

Menurut sejarawan JJ Rizal, tradisi lomba dalam peringatakan kemerdekaan RI mulai muncul pada perayaan HUT ke 5 RI tahun 1950. Dan ternyata lomba perayaan kemerdekaan itu memiliki sejarah dan filosofi mendalam serta tidak bisa dipisahkan  dengan pengaruh penjajah kita yaitu Jepang dan Belanda.

Berikut lima lomba yang sering kita temui di perayaan kemerdekaan RI yang menjadi peninggalan penjajah, di antaranya lomba panjat pinang, lomba balap karung, lomba makan krupuk, lomba perang bantal dan lomba tarik tambang.
 
1. Panjat Pinang

Lomba panjat pinang ini sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Katanya, lomba ini sebenarnya memiliki sejarah kelam. Dulunya jadi semacam atraksi hiburan bagi orang Belanda. Permainan ini dianggap sebagai hiburan dalam acara-acara penting bagi orang Hindia Belanda seperti pesta pernikahan. Yang seringkali dipermasalahkan adalah inti dari acara hiburan tersebut tampaknya merendahkan orang pribumi.

Tidak sedikit juga orang yang protes kenapa tradisi kelam itu terus dilestarikan. Tapi di sisi lain, bukankah justru hebat jika bangsa kita bisa mengubah memori kelam jadi sesuatu yang positif? Mungkin saja panjat pinang berawal sebagai sebuah bentuk penjajahan, tapi kini lomba ini malah jadi simbol gotong royong dan semangat pantang menyerah. Semasa Hindia Belanda dulu, orang-orang Belanda mungkin hanya tertawa melihat orang meluncur di tiang bambu yang licin. Tapi lomba panjat pinang sekarang justru jadi semacam pelajaran hidup bahwa kamu tidak akan bisa menang jika mementingkan ego masing-masing.

Lihat saja, meskipun awalnya peserta akan berusaha memanjat tanpa bantuan orang lain, tapi akhirnya mereka harus bekerjasama menjadi tumpuan satu sama lain untuk mencapai puncak. Hadiahnya pun akhirnya sering dibagi-bagi.

2. Balap Karung

Balap Karung sebenarnya memang seakan-akan mengingatkan kita pada zaman penjajahan Jepang. Karung goni digunakan sebagai pakaian karena rakyat dulu sangat miskin.

Meskipun nampaknya sepele, tapi lomba balap karung ternyata punya filosofi yang cukup dalam. Sebelum masa kemerdekaan, terutama selama penjajahan Jepang, orang-orang Indonesia mengalami masa yang serba kekurangan. Termasuk dalam hal sandang. Pada masa itu karung goni pun digunakan sebagai pakaian dan tentu saja nggak sekadar gatal dan panas, tapi karung goni sangat tidak layak dijadikan pakaian. Bagaimana pemain jatuh tersungkur dan bangkit kembali juga menggambarkan bagaimana berjuang sekuat tenaga dengan segala keterbatasan.

3. Makan Kerupuk

Lomba ini pun terinspirasi dari kondisi serba kekurangan di Indonesia selama penjajahan. Karena semuanya terbatas, semua orang diperlakukan secara setara.

Lomba makan kerupuk bisa dibilang lomba yang paling merakyat saat 17-an. Selain menyiapkan lomba ini nggak pakai ribet, hanya mengikatkan tali dan kerupuk aja lalu ditata sejajar. Lombanya pun sangat simpel dan mudah diikuti. Biasanya sih, lomba makan kerupuk selalu jadi lomba buat anak-anak dan ini pun sudah cukup bikin penonton heboh sendiri. Ternyata lomba makan kerupuk punya filosofi mendalam soal kesetaraan dan kesederhanaan.

Kerupuk melambangkan kesetaraan, di mana makanan ini bisa dinikmati dan disukai oleh semua kalangan. Baik orang kaya maupun miskin, kerupuk tidak melambangkan suatu status sosial tertentu dan digemari hampir semua orang. Nggak nyangka ya cuma kerupuk dan tali pun ada filosofi tersendiri.

4. Perang Bantal

Perang bantal, tidak sekadar perang seru-seruan. Lomba ini mengajarkan makna bertahan yang sesungguhnya. Lomba perang bantal ini memang cenderung sulit dan menguras banyak tenaga. Mempertahankan tubuh untuk tetap seimbang duduk di atas bambu sembari menyusun strategi buat melumpuhkan lawan nggak semudah teriak-teriak menyemangati anggota keluarga buat menang.
 
Meskipun hanya bersenjatakan bantal yang sama sekali nggak mematikan, nyatanya memang sulit mempertahankan posisi duduk sementara memusatkan kekuatan untuk menjatuhkan musuh. Ini adalah bagaimana pejuang kita terus bertahan dibawah tekanan para penjajah.

5. Lomba Tarik Tambang

Tarik Tambang jelas bermakna persatuan dan kerjasama dalam tim. Tarik tambang nggak hanya membutuhkan kekuatan ekstra, tapi juga soal taktik dan strategi penempatan formasi peserta dan kontribusi maksimal dari setiap individu yang ada. Kekompakan tim memang sangat dibutuhkan, tapi soal ketangkasan juga nggak kalah. Meskipun secara logika kita hanya membutuhkan tenaga buat menarik tambang, tapi kalau kita tidak menggunakan strategi kita bisa kalah.

Sama juga dengan bagaimana pejuang kita merebut kemerdekaan. Meskipun persenjataan kita tidak sekuat lawan, namun dengan strategi dan kontribusi dari setiap elemen masyarakat akhirnya kita bisa merebut kemerdekaan. Itu filosofi sebenarnya dari tambang yang dilambangkan sebagai simbol kemerdekaan Indonesia.

Lomba-lomba khas kemerdekaan ini ternyata punya makna yang dalam dan sesuai dengan perjuangan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan. Orang-orang pendahulu kita yang membudayakan lomba-lomba Agustusan ternyata nggak sekadar asal pilih lomba. Ada faedah di setiap lomba yang memeriahkan peringatan proklamasi kita.

Post Tags:

Nasional