setwall.ru

Masa Jaya Para Bajak Laut


Seputarsulawesi.com - Situasi pelayaran dunia pernah dihebohkan oleh aksi perompak yang dilakukan oleh kelompok bajak laut. Era itu disebut sebagai “The Golden Age”. Era keemasan dari pembajakan yang berlangsung sejak tahun 1620-1720, di perairan Samudera Atlantik, di kawasan Karibia. Banyak kelompok bajak laut yang terlibat, terutama dari Spanyol, Portugis, Prancis dan Inggris.

Selain di wilayah Samudera Atlantik, kawasan Laut Asia Tenggara sepanjang abad XVII sampai XIX, dipenuhi beragam aksi pembajakan. Kawasan Laut Asia Tenggara memang terkenal sebagai jalur penting perdagangan kapal-kapal yang berasal dari India dan dari-ke Tiongkok. Perairan Asia Tenggara yang dipenuhi pulau-pulau, selat-selat sempit dan muara sungai, menjadi penunjang geografis yang tepat bagi para perompak untuk bersembunyi.

Menurut beberapa ahli, pembajakan bukanlah hal yang baru terjadi di masa “The Golden Age” saja. Tetapi, kasus ini sudah dimulai sejak lebih dari 2.000 tahun yang lalu, ketika perampok laut mengancam rute perdagangan Yunani kuno. Melansir The Guardian, seperti orang Yunani, orang Romawi termasuk di antara bajak laut awal dan korban awal yang terkenal adalah Julius Caesar, yang dikatakan telah dimintai uang tebusan saat kapalnya dicegat dalam pelayaran melintasi Laut Aegea.

Selain itu, sejarah perompakan juga bertalian erat dengan sejarah navigasi. Saat itu pula, di mana terdapat kapal-kapal yang mengangkut barang dagangan, muncul pula bajak laut yang siap memilikinya secara paksa. Fenomena bajak laut muncul dalam sejarah bersama-sama dengan berita pertama tentang pelayaran.

Pada umumnya, bajak laut didefinisikan sebagai orang yang melakukan tindakan kekerasan di laut. “Untuk membedakannya dari petugas negara yang juga menggunakan kekerasan di laut dan bertindak atas nama negara, maka dibuat pembatasan bahwa yang diartikan sebagai Bajak Laut adalah orang yang melakukan kekerasan di laut tanpa mendapat wewenang dari pemerintah untuk melakukan tindakan itu,” tulis Adrian B. Lapian dalam Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut; Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX (2009).

Aksi pembajakan pada era “The Golden Age”, kemudian menginisiasi dirumuskannya hukum internasional yang menegaskan yang mana tindakan bajak laut dan yang bukan. “Dalam hukum internasional, definisi ini dirumuskan lebih lanjut lagi dengan menegaskan bahwa apa yang disebut tindakan bajak laut adalah suatu tindakan kekerasan tanpa diberi wewenang suatu pemerintah tertentu di perairan bebas, yakni di laut yang terletak di luar yuridiksi suatu negara tertentu,” Lanjut Adrian B. Lapian.

Margarette Lincoln, dalam buku British Pirates and Society 1680-1730 (2016), juga menegaskan situasi mencekam di Laut Karibia yang mengganggu aktivitas perdagangan mempengaruhi dirumuskannya hukum internasional. “Seiring berjalannya waktu, hukum internasional dikembangkan untuk menghadapi kasus bajak laut. Bagaimanapun, pada akhir abad ke-17 upaya untuk membasmi pembajakan pun mulai berefek,” tulisnya.

Kelompok bajak laut biasanya terdiri satu suku bangsa. Seperti pada masa “The Golden Age” di perairan Karibia, bajak-bajak laut Spanyol, Portugis, Prancis dan Inggris, banyak beroperasi di wilayah itu.

Begitu pula bajak-bajak laut yang beroperasi di kawasan laut Asia Tenggara. Bangsa Lanun yang berlayar di sepanjang perairan Asia Tenggara pada abad XVIII, berasal dari pulau di Filipina Selatan. Kelompok ini banyak melakukan aksi pembajakan terhadap kapal-kapal dagang dan kapal nelayan. Begitu juga dengan Suku Bangsa Manginando yang mendiami Pulau Sulu di Filipina Selatan dan Suku Tobelo di Halmahera Utara. Bangsa Papua juga pernah tercatat berlayar dan melakukan pembajakan pada abad XVII.

Namun, kadang juga satu kelompok bajak laut, bisa sangat multi-etnis. “Kru bajak laut tersebut terdiri dari pria untuk semua suku bangsa, yang sebagian besar disatukan oleh tujuan bersama - untuk mendapatkan uang dengan mudah. Pelaut hitam, kebanyakan bekas budak kolonial atau pelarian, secara rutin bergabung dengan kru bajak laut sebagai orang bebas, meskipun mereka mungkin juga ditangkap untuk melakukan pekerjaan berat,” tulis Margarette Lincoln, dalam buku British Pirates and Society 1680-1730 (2016).

Bajak Laut Balangingi, yang juga berasal dari Filipina Selatan, seperti yang dikutip oleh Adrian B. Lapian dari catatan Warren, terdiri dari bangsa-bangsa yang mendiami wilayah Filipina Selatan, misalnya Mangindano, Tausug dan bahkan Lanun. Juga disebutkan, tidak mustahil terdapat pula unsur-unsur asing seperti China, India dan Eropa. Di samping itu, ada pula orang pelarian dari segala penjuru.

 

Motif Penyamun di Laut

Adanya hukum internasional yang mengatur definisi bajak laut, tidak bisa dilepaskan dari motif yang melatar belakangi terjadinya aksi kekerasan dan perompakan di laut. Pada masa “The Golden Age”, keberadaan Spanyol di Benua Amerika mulai menyulut aksi perompakan. Seiring ditetapkannya Spanyol dan Portugis sebagai pemilik Dunia Baru (Benua Amerika) oleh Paus Alejandro VI, tahun 1493, kapal asing yang memasuki lautan di Dunia Baru, dianggap bajak laut.

Kerajaan Perancis yang tidak menerima hal tersebut, kemudian memprovokasi pelaut-pelaut swasta untuk membajak, sekitar tahun 1537. Inggris, atas perintah Ratu Elizabeth, juga mengirimkan bajak laut Inggris di Karibia. Kebanyakan dari bajak lait tersebut adalah bangsawan, dan jika bukan, ratu memberikan keleluasaan pada mereka untuk masuk dalam kebangsawanan. Salah satu yang terkenal adalah Sir Francis Drake yang ditangkap oleh pihak Spanyol, setelah merampok di beberapa tempat yang dikuasai Kerajaan Spanyol.

Dari motif politik tersebut, pendefinisian bajak laut dalam literature barat, dibagi menjadi dua, yaitu korsario dan pirata. Korsario dapat mengadakan tindakan kekerasan di laut, karena telah membawa surat izin yang diberikan oleh negara atau pemerintahan tertentu (lettre de marquee). Sedangkan pirata, adalah aksi kekerasan di laut yang secara bebas untuk kepentingan individu atau kelompok sendiri dan tidak ada hubungannya dengan negara tertentu.

Namun, pendefinisian ini tergolong bias. Karena, kadang penilaian tergantung dari siapa yang menilainya. Seperti kisah Sir Francis Drake di perairan Karibia. “Penulis Spanyol menyebut Drake sebagai seorang pirata, sedangkan penulis Inggris menganggapnya sebagai korsario atau privater,” tulis Adrian B. Lapian dalam Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut; Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX (2009).

Bangsa Perompak Lanun di kawasan Asia Tenggara juga pernah ikut bergabung melawan Belanda. Atas izin dari Sultan Mahmud, penguasa Riau kala itu, bajak laut Lanun menyerang pemerintah Belanda pada tahun 1787. Sehingga bajak laut Lanun bisa disebut korsario pada masa tersebut. Meski, sebelum dan setelah itu juga, perompak Lanun banyak melakukan aksi perompakan atas kepentingan ekonomi kelompok sendiri.

Selain itu, motif ekonomi juga dianggap sebagai asal mula fenomena bajak laut. Fenomena ini sebagai tingkat awal dari perdagangan. Interaksi antar kelompok, akibat adanya peningkatan kebutuhan, dijalankan dengan cara tukar-menukar dan dalam tingkat yang lebih maju dilakukan dengan transaksi jual-beli. Namun, jika tidak ada hubungan yang damai, maka terjadilah perampasan – di lautan disebut aksi bajak laut.

Dorongan avonturir, atau jiwa petualangan juga bisa dianggap sebagai pendorong terjadinya kegiatan berlayar, bahkan aksi bajak laut. Dalam kebudayaan tertentu, sebagaimana dijelaskan Adrian B. Lapian, prestise seseorang dinilai dari kejantanannya untuk berpetualang. Semangat avoturir ini biasanya berasal dari dorongan kaum wanita.

Dalam kasus Perang Salib antara pihak Eropa yang beragama Kristen dan pihak Turki yang beragama Islam, aksi perompak terjadi antarkedua bela pihak. Baik oleh armada swasta yang direstui oleh pemerintah atau para bajak laut pirata. Demikian halnya dengan kelompok korsairo Belanda, ‘Watergeuzen’ yang beragama Protestan menyerang Kapal Spanyol yang beragama Katolik. Kedua kasus tersebut telah mencampurkan antara motif politik dan agama.

Motif yang mengiringi aksi bajak laut tidak dapat digeneralisir begitu saja. Bagi Adrian B. Lapian, dalam praktiknya, agak sukar memisah-misahkan satu motif dari motif yang lain. Begitu juga dengan siapa yang dapat dianggap sebagai bajak laut atau bukan. Hal itu, bisa bergantung kepada yang menilai.

Tag :

  • 316 Dibaca