Masjid Syekh Abdul Mannan Warisan Budaya Lingkungan Salobose


Seputarsulawesi.com, Majene - Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose merupakan salah satu situs kebudayaan yang ada di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Masjid ini berada di wilayah Lingkungam Salabose, Kelurahan Pangali Ali, Kecamatan Banggae, Kabupatena Majene, Sulawesi Barat.

Berdasarkan hasil survey keperbukalaan berupa registrasi benda peninggalan sejarah dan purbakala oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Majene tahun 2007, terdapat 91 situs yang tersebar di beberapa kecamatan. Dari situs-situs tersebut hanya satu masjid yang ditetapkan sebagai benda peninggalan sejarah dan purbakala yakni, Masjid Syekh Abdul Mannan Sabose.

Dalam berbagai literasi, Syekh Abdul Mannan dikenal sebagai penyebar agama Islam di Kecamatan Baggae. Seperti yang dipublis oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar dalam hasil penelitian Kajian Arkeolog Masjid Tua di Kawasan Timur Indonesia tahun 2011, Syekh Abdul Mannan diketahui berasal dari Jawa Timur.

I Moro Daeng ta di Masigi memiliki peran penting dan menjadi peletak dasar Islamiasisi di Banggae. Sebelum I Moro diangkat menjadi Mara'dia (Raja/Bangsawan), masa mudanya dihabiskan menunjukkan petualangan dengan melakukan pelayaran dan perdagangan,
sehingga ia dikenal anakodha bisa (nakhoda sakti). (Ahmad dan Marjanah. Sejarah dan Kebudayaan Mandar Jilid 1: Sejarah Mandar dan Sejarah Perjuangan Bangsa di Kapupaten Majene. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Majene, 2007).

Dalam pelayarannya ke Jawa Timur, I Moro kemudian bertemu dengan Syekh Abdul Mannan dan kemudian menjadi teman seperguruan. Kemudian I Moro mengajak Syekh Abdul Mannan beserta pengikutnya ke Banggae.

Kemudian Syekh Abdul Mannan secara leluasa menyebarkan di Kerajaan Banggae kerena telah mendapat restu dari Tomatindo di Masigi (I Moro Daen ta di Masigi) selaku Mara'dia Banggae kala itu. Syekh Abdul Mannan juga kemudian mendapat gelr Tosalama di Salabose.

Dikisahkan lain terkait kedatangan Syekh Abdul Mannan melalui tradisi lisan, pada masa kekuasaan Raja Banggae II, Daeng ta I Milanto, ia memerintahkan putaranya I Moro untuk melakukan pelayaran dan perdagangan khususnya di Jawa Timur. Di tempat inilah I Moro memeluk Islam dibawah bimbingan seorang Ulama Gresik.

Tidak diketahui secara pasti berapa lama I Moro mendalami Islam di Gresik, Jawa Timur. Begitupula, tidak diketahui siapa nama guru pertama kali meng-Islamkan kepada I Moro. Namun ada cerita yang mengatakan orang yang meng-Islamkan I Moro sekaligus guru
spiritualnya adalah Syekh Abdul Mannan.

Versi diatas berbeda dengan yang dikatakan Ahmad Hasan. Menurut Budayawan Majene ini seperti dikutip dari publikasi penelitian Kajian Arkeologi Masjid Tua di Kawasan Timur Indonesia Balitbang Agama Makassar (2011), I Moro setelah kembali ke daerahnya dari pelayaran sudah memeluk agama Islam, dan atas saran gurunya ia diminta menyebarkan agama barunya itu ke daerahnya. Namun, I Moro belum berani meyebarkan Islam sendirian. Karena itu ia pun meminta saran gurunya untuk dicarikan teman yang dapat membantunya untuk menyebarkan Islam di derahnya. Kemudian gurunya merekomendasikan enam orang, termasuk diantaranya Syekh Abdul Mannan.

Namun, seperti dikemukakan Ahmad Sewang dkk (2009), tradisi lisan lain di Majene mendeskripsikan, sebelum I Moro berlayar atas perintah ayahnya Daeng ta I Milanto (Raja Banggae II), Syekh Abdul Mannan sebenarnya telah lama menetap dan menyiarkan agama
Islam di dearah Salabose. Hanya saja, pada waktu itu ajaran yang dibawahnya belum menjadi ajaran resmi di kerajaan. Nanti Islam menjadi kuat dan akhirnya menjadi agama resmi kerajaan setelah I Moro memeluk Islam dan menjadi mara'dia.

Nama Syekh Abdul Mannan diabadikan pada sebuah masjid

Masjid Syekh Abdul Mannan sendiri dibangun pada awal abad XVII oleh I Moro (Raja Banggae III) atas prakarsa Syekh Abdul Mannan seorang penyebar agama Islam di Wilayah Banggae.

Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose diyakini sebagai masjid tertua di Banggae, Kabupaten Majene. Namun tidak ada sumber tertulis maupun sumber lisan mengenai sejak kapan Masjid ini diberi nama "Masjid Syekh Abdul Mannan". Pemberian nama ini sendiri adalah sebuah bentuk apresiasi dan penghargaan terhadap Syekh Abdul Mannan sebagai pembawa ajaran agama Islam di Banggae Majene.

Proses Islamisasi di Banggae sangat erat kaitannya degan keberadaan Masjid Syekh Abdul Mannan. I Moro yang bergelar Daeng ta Masigi menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Beliau memusatkan penyebaran dan pengembangan dakwah Islam terhadap
terhadap rakyat Banggae (Salabose) di Masjid Syekh Abdul Mannan. Masjid ini pun didaulat sebagai Masjid Kerajaan Banggae.

Sejak dibangun I Moro Daeng ta di Masigi hingga kini, Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose telah mengalami beberapa tahap renovasi antara lain sebagai berikut:

1. Dibangun pertama kali oleh I Moro Daeng ta di Masigi sekitar tahun 1602 dalam bentuk langgar.
2. Pada tahun 1750, masjid ini keemudian direnovasi dengaan menggunakan batu bata yang terdapat cap VOC.
3. Pada tahun 1982, pemerintah daerah Kabupaten Majene merenovasi kembali bangunan masjid tanpa merubah ukuran dan bentuk masjid. Namun konstruksi atap yang semula berupa limas segidelapan kombinasi limas segi empat yang terdiri dari atap tumpang empat susun dirubah menjadi limas segi empat dengan ataap tumpang tiga susun. Disamping itu juga, dibangun pula serambi pada bagian samping (utara) dan belakang (timur) masjid serta kolam air ataun tempat wudhu yang awalnya setinggi lutut ditambah menjadi setinggi leher.
4.Pada tahun 2000, masjid ini direnovasi dengan menggunakan bantuan swadaya masyarakat. Pada tahap renovasi ini lantai dan dinding masjid dihiasi dengan tegel.

Sebagai warisan masa lalu yang tak ternilai harganya, pemeliharaan Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose mutlak dilakukan untuk menjaga bangunan fisik masjid. Saat ini, pengelolaan Masjid Abdul Mannan Salabose berada di tangan masyarakat dalam seorang qadhi/imam. Imam inilah yang memimpin pelaksanaan shalat berjama’ah.

Hingga saat ini, kondisi fisik Masjid Salabose baik. Hal ini tak terlepas dari kepedulian masyarakat masjid. Masjid dipelihara dan dijaga juga oleh seorang dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar. Oleh petugas tersebut, secara berkala melakukan pelaporan tentang kondisi fisik masjid.

Salah satu ciri khas Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose adalah pelaksanaan ritual Maulid Nabi SAW. Diyakini bahwa maulid Nabi SAW, yang pertarna kali diadakan di tanah Mandar dilaksanakan di Masjid Salabose. Oleh karena itu, terdapat mitos di tengah masyaraka Banggae bahwa tidak boleh ada yang mendahului perayaan Maulid Nabi saw di masjid Salabose. Jika hal itu dilakukan, akan terjadi bencana seperti kebakaran atau ada warga kampung yang meninggal dunia.

Fungsi utama Masjid Salabose sebagai tempat ibadah dan sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat sekitar. Seperti Taman Pengajian Alquran (TPA). Setiap datang waktu salat, masjid ini ramai dipenuhi jamaah. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, rnasjid tersebut sering dijadikan tempat melepaskan nazar bagi sebagian warga Mandar ataupun dari luar Mandar. Masjid itu sering dikunjungi warga yang datang dari berbagai tempat yang jauh. Baik itu sekedar berziarah maupun melepaskan nazar.

Walaupun ukuran utama Masjid Salabose relatif kecil, masjid ini digunakan untuk shalat berjama’ah Jumat. Disamping itu, setiap Malam Jum’at di masjid ini diadakan zikir bersama pengikut tarikat Qadiriah. terkhusus pada bulan Ramadan, rnesjid Salabose ramai
dikunjungi oleh jama’ah untuk beribadah terlebih pada malam ke 25 Ramadan yang hendak melaksanakan ritual Sembahyang bukkuq.

Dinas Kebudaya dan Pariwisata Kabupaten Majene telah menetapkan Masjid Syekh Abdul Mannan Salabose sebagai salah satu situs budaya purbakala yang harus dilindungi. Oleh karena itu bentuk dan konstruksi asli masjid tidak boleh dirubah. (Win)

Tag :

lipsus
  • 262 Dibaca