Maulid dan Natal


Oleh: Kiai Mahmud Suyuti
(Ketua MATAN Sulsel)

Dua agenda besar pemeluk agama yang berbeda di bulan ini, maulid dan natal. Maulid dilaksanakan umat Islam mulai sejak Jumat/01/12 dan natal bagi umat Kristen pada Senin/25/12. Maulid memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan natal memperingati kelahiran Isa Almasih. 

Maulid sebagai peringatan kelahiran Nabi saw, mentradisi dalam dunia Islam termasuk di Indonesia yang bertujuan agar dengan maulid dapat menimbulkan al-Mahabbah (rasa kecintaan) kepada Nabi SAW.

Karena itu, setiap acara maulid, selain ada tausiah, juga dibacakan syair Salawat Diba yang berisi tentang sejarah hidup nabi yang mulia sebagai ekspresi pengungkapan rasa cinta mereka kepada Nabi SAW yang diperingati maulidnya. Disebut dalam hadis, siapa yang mencintaiku, maka dia bersamaku kelak di Surga (HR.al-Turmuzi). 

Lebih terasa syahdu lagi karena saat maulid dibacakan syair Kitab Barazanji yang berisi pujian-pujian terhadap Nabi SAW dan ungkapan keselamatan atas hari lahirnya, Assalamu Alaika ya Rasulallah, Asalamu Alaika ya Nabiyallah (selamat atasmu wahai Rasul Allah, selamat untukmu wahai Nabi Allah).

Ungkapan keselamatan seperti itu juga diabadikan al-Qur’an untuk Nabi Isa AS dengan ucapan, Wassalamu Alayya yauma wulidtu (keselamatan atasku untuk hari kelahiranku) sebagai yang disebutkan dalam QS. Maryam/19: 33. 

Umat Islam yang mengucapkan salam keselamatan di hari maulid Nabi SAW dan umat Kristen dengan ucapan selamat Natal memperingati hari kelahiran Isa Almasih, tentulah tidak terlarang sebagaimana Nabi SAW merayakan hari keselamatan Musa AS dengan berpuasa Asyura, bahkan dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda, Kita lebih wajar merayakannya daripada orang yahudi pengikut Nabi Musa AS (HR. Muslim dan Abu Daud).

Nabi Isa AS datang membawa kasih, ”kasihilah seterumu dan doakan yang menganiayamu.” Muhammad SAW datang membawa rahmat, ”Rahmatilah yang di dunia, niscaya yang di langit merahmatimu.” 

Isa AS menunjuk dirinya sebagai ”anak manusia”, sedangkan Muhammad SAW dipertitahkan oleh Allah SWT untuk bersabda, ”Aku manusia seperti kamu”, yang tentu tidak pula terlepas dari redaksi ayat, Yuha ilayya (diwahyukan kepadaku) yang karena itu maka nabi-nabi yang diutus pada hakikanya datang untuk membebaskan manusia dari kemiskinan ruhani, kebodohan dan belenggu penindasan.

Ketika orang-orang mengira bahwa anak Jairus yang sakit telah mati, Almasih yang menyembuhkannya untuk meluruskan kekeliruan mereka dengan berkata, ”Dia tidak mati, tetapi tidur”. Ketika terjadi gerhana pada hari wafatnya putra Muhammad, orang berkata bahwa matahari mengalami gerhana karena kematiannya, Muhammad SAW lalu bersabda, ”Matahari tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang”.

Riwayat di atas dan berbagai dalil berkenaan dengan itu yang ditemukan dalam berbagai kitab, antara lain sebagai sekian titik temu antara Muhammad SAW dan Almasih dan inilah yang dimaksud kalimatun sawa’ (kata sepakat) yang disebutkan dalam QS. Ali Imran/3: 64. 

Kalau begitu apa salahnya mengucapkan kalimat, selamat natal, selama akidah masih dapat dipelihara dan selama ucapan itu sejalan dengan apa yang dimaksud al-Qur’an?
Kecuali bila seorang muslim menghadiri ritual natalan dengan niat yang menyimpang akidah boleh dipertanyakan, tetapi jika sekedar dibibir terucap selamat natal, boleh saja dimaklumi.!
 
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq

  • 749 Dibaca