Maulid dan Refleksi Kode Etik Akuntan Publik


 Muhammad Aras Prabowo
(Mahasiswa Magister Akuntansi Univ. Mercu Buana Jakarta)

Maulid adalah peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW yang dilaksanakan setiap 12 Rabi’ul Awwal dalam kalender Hijriyah. Peringatan tersebut senantiasa dilestarikan oleh kaum muslim yang ada di Indonesia, khususnya bagi kelompok yang tergabung dalam keluarga besar Nahdatul Ulama (NU).

Menurut catatan Sayyid al-Bakri, pelopor pertama kegiatan maulid adalah al-Mudzhaffar Abu Sa`id, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad. Peringatan maulid pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di suatu tempat. 

Mereka bersama-sama membaca ayat-ayat Al-Qur’an, membaca sejarah ringkas kehidupan dan perjuangan Rasulullah SAW, melantuntan shalawat dan syair-syair kepada Rasulullah SAW serta diisi pula dengan ceramah agama. [al-Bakri bin Muhammad Syatho, I`anah at-Thalibin, Juz II, hal 364].

Di Indonesia bentuk perayaan maulid berbeda-beda antara suatu daerah dengan yang lainnya, ada yang digelar di masjid, di lapangan terbuka bahkan dilakukan di rumah jika yang bersangkutan mampu melakukannya. Selanjutnya, peringatan maulid diisi ceramah oleh para pemuka agama guna mengurai keteladanan Rasulullah SAW. 

Maulid juga menjadi tempat refleksi bagi kaum muslim agar meneladani sifat dan perilaku Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam keluarga, lingkungan masyarakat maupun dalam lingkungan kerja dan profesi. Sehingga terciptalah keharmonisan antar sesama kerena meneladani sifat dan perilaku Nabi Muhammad SAW.

Berkenaan dengan maulid dan kode etik akuntan publik, setiap praktisi agar menjadikan momentum ini sebagai tempat untuk merefleksikan kembali kode etik akuntan publik dalam profesi. Peristiwa kolapsnya Arthur Anderson (2002), salah satu firma akuntan publik terbesar di dunia, kasus Enron merupakan sebagai puncak persoalan yang melahirkan keraguan terhadap profesi akuntansi. 

Kasus tersebut dianggap sebagai kasus yang fenomenal, pasalnya hampir meruntuhkan perekonomian Amerika Serikat.
Onyebuchi (2011), Arthur Anderson menimbulkan kesenjangan yang serius antara apa yang diharapkan masyarakat, skandal Enron telah menimbulkan malapetaka pada profesi akuntan. 

Jamnik (2011) bahwa tantangan besar yang dihadapi oleh profesi akuntan pasca kasus Enron adalah bagaimana membangun kembali kepercayaan kepada masyarakat. Sama dengan kasus Arthur Anderson, di Indonesia beberapa kantor akuntan publik memiliki citra buruk di mata masyarakat karena telah melakukan pelanggaran kode etik.

Peristiwa tersebut menjadi batu loncatan untuk menggali, mengkaji dan mendalami berbagai hal yang berkaitan dengan etika akuntan publik. Sesuatu yang mendasar dalam praktik bisnis dan praktik profesional akuntan publik adalah terabaikannya etika bisnis dan etika profesi. Terabaikan di sini adalah bahwa etika tidak menjadi acuan utama dan kemudian diimplementasikan dalam praktik bisnis dan profesi, Ludigdo (2007).

Padahal seharusnya mereka melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional dengan menggunakan kode etik akuntan publik. Menurut Ludigdo (2007) Etika tidak sekedar ada, namun etika haruslah merupakan kesadaran dan kesengajaan untuk selalu bermaksud dan berbuat baik. 

El Farid (2016), penegakan kode etik profesi akuntan publik nampaknya masih belum sepenuhnya dilaksanakan oleh auditor, karena masih belum bisa objektif dan berpihak pada salah satu pihak. Etika harus merupakan program nyata organisasi, bukan sekedar lips service dan bahan iklan organisasi, Ludigdo (2007).

Bagaimana cara merefleksikan kode etik dalam perayaan maulid Nabi Besar Muhammad SAW? Yaitu dengan meneladani Rasulullah lewat sifat dan perilakunya. Seperti yang kita ketahui bahwa Rasul memiliki empat sifat wajib sebagai berikut:

Sidiq, sifat ini berarti jujur atau benar, artinya Nabi dan Rasul dijaga oleh Allah SWT kejujurannya dan kebenarannya. Jadi tidak pernah ingkar apapun yang dikatakan oleh Nabi dan Rasul kepada umatnya karena mereka adalah laki-laki pilihan Allah SWT. 

Dalam kode etik akuntan publik sidiq sama dengan integritas, artinya setiap praktisi diwajibkan untuk, tegas, jujur, dan adil dalam hubungan professional dan hubungan bisnisnya.

Amanah, sifat ini artinya dapat dipercaya, seperti yang dikatakan diatas bahwa Nabi dan Rasul tidak pernah ingkar maupun berdusta. Nabi dan Rasul selalu bisa dipercaya untuk melaksanakan apapun yang diperintahkan oleh Allah SWT kepadanya.

Dalam kode etik sama dengan objektif bahwa praktisi tidak boleh membiarkan subjektivitas, benturan kepentingan, atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-pihak lain memengaruhi pertimbangan professional atau pertimbangan bisnis.

Tabligh sifat ini artinya meyampaikan, jadi memang tugas utama mereka adalah menyampaikan pesan-pesan Allah SWT atau menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada umat mereka. Dalam kode etik yaitu setiap praktisi harus bekerja berdasarkan pedoman dan aturan yang ada. Misalnya dalam audit harus berpedoman pada Standar Profesional Akuntan Publik.

Fathonah, sifat wajib yang satu ini artinya cerdas, Nabi dan Rasul diberi kecerdasan oleh Allah SWT agar mereka mampu memerangi kaum yang tidak berada dijalan Allah SWT dan mengajaknya untuk berada dijalan yang benar, yakni jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. Kompetensi dalam kode etik akuntan publik bahwa kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian professional diwajibkan kepada setiap praktisi.

Teladan sifat Rasulullah SAW dalam penguatan kode etik akuntan publik dapat direfleksikan lewat peringatan maulid Nabi. Artinya, maulid tidak hanya mampu membangun kecintaan kita kepada Muhammad SAW, namun di lain sisi juga mampu berkonstribusi dalam penegakan kode etik akuntan publik. Sehingga hal tersebut dapat menjawab kekhawatiran Ludigdo (2007) bahwa etika tidak sekedar ada, namun etika haruslah merupakan kesadaran dan kesengajaan untuk selalu bermaksud dan berbuat baik.

Tag :

aras-prabowo
  • 470 Dibaca