Gambar bolanasional.co

Menanti Efek Regenerasi Timnas


Seputarsulawesi.com,- Malam yang teduh di Stadion Patriot Bekasi, punya arti tersendiri bagi sebuah generasi. Adalah Rezaldi Hehanusa dan Septian David Maulana, mengukir secercah narasi. Tentang dua anak muda, yang tampil memukau di hadapan publik sepakbola tanah air. Dua debutan, peraih medali perunggu SEA Games 2017, masing-masing mencetak gol memukau.

Dua pemain muda ini tampil tanpa rasa gugup di tengah para senior, sekaligus mentor. Bersama Febry Haryadi, kompatriot mereka di Timnas U-22, yang juga tampil sebagai starter, ketiganya bahu membahu menabur bahaya ke lini pertahanan Kamboja. Sepertinya, mereka menikmati debut membela sang garuda di level senior.

Rezaldi Hehanusa terlebih dahulu menunjukkan kebolehannya. Golnya pada menit 33’, seolah memberi sinyal kepada Luis Milla, untuk mulai mematenkan dirinya di pos kiri Timnas Senior. Potensi Rezaldi Hehanusa memang layak diakui, karena dia adalah seorang bek sayap modern. Kuat bertahan, efektif dalam menyerang.

Buktinya bisa dilihat pada prosesi gol yang dia ciptakan malam itu. Melihat pergerakan Andik yang mengutak-atik sisi kanan Kamboja, dia dengan cerdik merangsek masuk ke kotak penalti. Dengan posisi yang terkawal lagi, dengan mudahnya dia mencocor bola hasil umpan pendek dari Andik Vermansyah.

Rezaldi juga merupakan bek kiri natural, dengan kaki kiri sebagai kaki terkuat. Tipe bek kiri yang sangat langka di Indonesia. Selama ini, bek kiri timnas sering menggunakan seorang Inverted Left-Back, atau bek kiri tetapi memiliki kaki kanan terkuat. Pada piala AFF 2010, Timnas senior memiliki seorang M. Nasuha. Kemudian, ada nama Diego Michels. Timnas U-19 yang menjuarai AFF U-18 2013 memainkan Faturrahman, juga pemain tipe demikian.

Tak mau kalah dari Rezaldi, Septian David Maulana juga menunjukkan aksi ciamik. Mencetak gol dari luar kotak penalti, adalah spesialis bagi pemain Mitra Kukar ini. Berkali-kali dia melakukan hal yang sama, ketika membela Timnas U-19 dan Timnas U-22. Dan malam itu di Bekasi, gawang Kamboja jadi korban di menit 49’.

Septian David memang kalah populer ketimbang Evan Dimas, tetapi dia tampak lebih disukai oleh Luis Milla. Boleh jadi, Milla melihat seorang Isco Alacron dalam diri Septian David. Pemain yang pernah Milla didik, kala masih menukangi tim muda Spanyol.

Gaya dan posisi bermain yang David miliki, memang terlihat seperti bintang Real Madrid tersebut. Sebagai seorang gelandang serang, Septian David dianugrahi kecepatan, skill di atas rata-rata, visi bermain yang mumpuni, serta akurasi dan power tendangan yang baik.
Milla dengan cermat memanfaatkan kelebihan Septian David, dan menempatkannya sebagai seorang free-role. Septian David dibiarkan beroperasi sebagai nomor 10, yang menginisiasi serangan, menyisir tiap blok-blok pertahanan lawan dan juga bisa tiba-tiba muncul di belakang striker. Dengan adanya pemain seperti dia, Milla mampu memaksimalkan strategi yang dimilikinya. Strategi khas pelatih-pelatih semenanjung Andalusia.

Regenerasi; Apakah Tanda Kebangkitan?

Selain dua nama di atas, Timnas Senior malam itu (Rabu, 4 Oktober 2017), tampak lebih segar ketimbang biasanya. Luis Milla kembali memadukan, nama-nama sarat pengalaman dengan anak muda penuh gairah. Terhitung dari 20 pemain yang dipanggil Luis Milla, sembilan di antaranya adalah pemain di bawah usia 23 tahun.

Ada nama Febry Haryadi yang dipercaya sebagai starter. Evan Dimas harus puas mengisi bangku cadangan. Bersama Ricky Fajrin, Awan Setho, Ilhamudin Armayn dan calon kiper masa depan Indonesia, Satria Tama. Selebihnya, pemain-pemain senior, semacam Andik Vermansyah hingga kapten Fachrudin Aryanto.

Kepercayaan Luis Milla pada darah muda, bukan tanpa alasan. Semua pemain yang dipanggilnya, merupakan pemain-pemain muda andalan klub masing-masing. Dan tentunya, sudah punya jam terbang tinggi di timnas usia junior. Deretan pemain tersebut, bagi Luis Milla, adalah yang terhebat dari puluhan darah muda lainnya, yang belum menerima panggilan dari sang pelatih.

Kala pertandingan usai, yang dimenangkan Indonesia dengan skor 3-1 atas Kamboja, Luis Milla membeberkan salah satu alasannya mengapa mulai sering memanggil para pemain muda ke skuad senior. Baginya, energi pemain muda sangat penting dikolaborasikan dengan pengalaman punggawa senior.

“Kami melakukan pertandingan persahabatan karena kami ingin melihat pemain senior dan pemain muda dalam satu lapangan. Kami ingin menaruh energi pemain muda ke dalam tim senior,” ujarnya.

Kesembilan pemain muda yang dipanggil Luis Milla tersebut, adalah pemain muda yang terbaik di posisinya masing-masing. Evan Dimas misalnya, tak ada lagi yang meragukan kemampuan pemain ini. Masa depan lini tengah timnas ada di tangan pemain yang sering disamakan dengan Iniesta-nya Barcelona.

Nama Ricky Fajrin juga tak kalah mentereng. Salah satu pemain muda serba bisa. Kala membela Timnas U-22 di gelaran SEA Games 2017 lalu, dirinya lebih banyak bermain sebagai bek tengah. Padahal di Bali United, Ricky Fajrin adalah seorang bek sayap kiri.

Dan jangan lupa pada Satria Tama. Penampilan heroik yang dia pertontonkan, juga di SEA Games 2017 lalu, langsung menarik hati Luis Milla. Ini terbukti, kala Timnas akan melangsungkan pertandingan persahabatan melawan Fiji, awal September lalu. Satria Tama dipercaya menjadi pelapis Andritani Ardiansah, setelah Kurnia Meiga absen karena cedera.

Masih banyak darah muda yang akan menunjukkan kemampuannya hingga beberapa tahun depan. Dan mata Luis Milla tak boleh luput dari mereka, jika dirinya masih dipertahankan sebagai pelatih. Apalagi masih ada generasi Timnas U-19, yang tahun depan, salah satu dari mereka punya kans mengisi satu slot skuad Timnas senior. Termasuk, rising star baru, Egy Maulana Vikry. Pemain yang baru saja dinobatkan sebagai salah satu dari 30 Wonderkid Dunia, versi The Guardian.

Meski gelaran AFF masih tahun depan, regenerasi Timnas diharapkan punya efek berarti. Dengan terus memadukan pemain kawakan dan pemain debutan, kekuatan Timnas boleh jadi akan meningkat pesat. Seiring dengan semakin cairnya Luis Milla dalam meramu strategi permainan Timnas Indonesia. Juga, regenerasi ini bisa menjadi tanda persepakbolaan tanah air, yang sudah mulai meninggalkan nalar ‘mie instan’.

  • 209 Dibaca