Sumber gambar: panditfootball.com

Menanti Tangis Messi di Piala Dunia 2018


Seputarsulawesi.com, Sudah empat kali Messi meratap di depan Piala. Tiga kali di hadapan trofi Copa America dan satu kali di muka trofi Julies Rimet. Ratapan Messi seusai empat final tersebut, bukanlah sebuah kebahagiaan, tetapi anasir kegundahan. Tinggal satu langkah, sisa satu kemenangan, untuk mengangkat piala. Tapi Messi, setidaknya sejak membela Argentina di level senior, hanya mampu menatap dengan penuh ratapan.

Messi telah membela tim senior Albiceleste sejak 2005. Pemanggilan El-Messiah ke level senior, bukan tanpa sebab. Penampilan perdananya di Barcelona, memukau publik sepakbola dunia. Sebuah bakat baru kembali ditemukan dari tanah Argentina. Bakat yang dianggap bisa melampaui sang raja, Maradona.

Sebelum pemanggilan itu pula, Messi berhasil membawa tim junior Argentina meraih Piala Dunia U-20 di Belanda. Kemunculan Messi seolah membawa harapan baru. Tentang angan-angan untuk kembali membangkitkan Argentina di level dunia. Tumpuan itu tak ayal langsung disematkan di punggung seorang Messi.

Messi juga sempat kembali membela timnas U-22 Argentina pada Olimpiade Beijing tahun 2008. Satu assistnya kepada Angel Di Maria di laga final, berhasil menuntaskan perlawanan Nigeria. Dan Messi dkk pun, berhasil menggondol medali emas.

Di level junior, Messi memang sedikit digdaya. Tetapi di usia senior, Messi seakan tak berdaya. Hingga saat ini, Messi telah mengantongi 119 caps bersama timnas senior Argentina, dengan lesakan 61 gol. Namun tak sekalipun Messi mempersembahkan trofi bagi negara kelahirannya.

Berbeda apabila membandingkan dirinya saat berseragam Barcelona. 521 gol Messi telah menelurkan puluhan trofi bergengsi bagi tim Catalan. Mulai dari gelar La Liga, Copa Del Rey, Liga Champions, hingga Piala Dunia antar klub, telah Messi raih.

Messi yang berseragam Argentina, bukanlah Messi yang berbaju Barcelona. Setidaknya jika melirik ke trofi bergengsi yang dihasilkan. Satu hal yang belum diraih Messi, yang akan semakin menegaskan dirinya sebagai legenda dunia. Yang lebih hebat dari Maradona, dan rivalnya saat ini, Cristiano Ronaldo. Nama terakhir bahkan sudah meraih satu trofi mayor, yakni Euro 2016 lalu. Saat ini, Ronaldo satu langkah di depan Messi.

Shaka Hislop, mantan pemain West Ham United, baru-baru ini angkat bicara. Ia mengungkap bahwa jika Messi harus memenangi Piala Dunia sebelum pensiun, apabila ingin dianggap sebagai pemain terbaik dunia sepanjang masa.

"Saya tak berpikir dia memenuhi syarat sebagai pemain terhebat dunia yang pernah bermain tanpa memenangkan hadiah terbesar (Piala Dunia)," ungkapnya, seperti dikutip dari bola.net, Jumat, 13 Oktober 2017.

Kesempatan Messi, untuk mengangkat trofi setidaknya sudah empat kali. Dan semua kesempatan emas itu, raib ditelan takdir. Pada tahun 2007, Brazil menghempaskan Messi, dkk dengan skor 3-0 di laga final Copa America. Piala Dunia 2014, Jerman lah yang jadi momok. Sempat menahan serudukan Panser Jerman hingga 90 menit. Sayangnya, pada babak tambahan, tepatnya di menit 113, Mario Gotze menghempaskan Messi ke tanah. Argentina pun harus puas jadi runner-up.

Tapi nasib paling sial bagi Messi terjadi di dua tahun berikutnya. Pada perhelatan Copa America 2015 dan Copa America Cantenario 2016, Messi kembali meratap di hadapan trofi. Chili dan Alexis Sanchez-nya, berhasil mempermalukan Messi, dua kali di laga final. Sungguh nasib yang tragis.

Yah, Messi bersama Argentina senior, kering prestasi, tetapi basah kuyup dengan tangisan. Messi sudah keseringan memandangi trofi dengan wajah penuh iba. Dan sampai kapan hal ini akan terjadi? Akankah hingga Messi pensiun dari dunia sepakbola?

Tahun depan di Rusia, Messi masih punya kesempatan. Semua orang, apalagi fans Messi, akan menantikan aksi El-Messiah bersama Argentina. Namun pada akhirnya, Messi sendiri lah yang akan menentukan. Apakah ia akan mengakhiri Piala Dunia 2018, kembali dengan tangis kesedihan, atau justru diiringi tangis kebahagiaan.

Seguir adelante, Messi!

  • 209 Dibaca