Menelusuri Jejak Pengabdian Ulama di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Abad XX


Seputarsulawesi.com, Makassar- Setelah beberapa tahun sebelumnya menggelar seminar Jaringan Ulama di Sulawesi Selatan, Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan dan Manajemen Organisasi kembali menyajikan seminar hasil penelitian dengan tema yang sama yakni Jaringan Ulama di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Abad XX. Kegiatan tersebut digelar di Hotel Claro Makassar, Kamis, 20 September 2018.

Bila seminar sebelumnya riset jaringan ulama terpokus pada jaringan yang sudah populer dikaji oleh banyak kalangan peneliti dan akademisi seperti jaringan ulama, santri As'adiyah dan santri lulusan  pengkaderan Pulau Salemo, maka konsentrasi pelacakan jaringan  ulama kali ini menjangkau hingga wilayah Selatan dan Utara Sulawesi Selatan. Selain itu, jaringan ulama Sulawesi Barat juga disajikan pada seminar kali ini.

Husnul Fahimah Ilyas, koordinator penelitian, menelisik sebab-sebab runtuhnya sentra-sentra angngaji kitta, khususnya yang terjadi di Gowa dan Takalar. Menurutnya, Gowa dan Takalar merupakan pusat pengembangan Islam sekaligus pengkaderan ulama dengan hadirnya Pesantren Bontoala yang diinisiasi oleh Sayyid Alwi Abdullah dan Sayyid Djalaluddin Aidid Cikoang Takalar.  Salah satu kader pesantren Bontoala adalah Syekh Yusuf al-Makassari dan Sayyid Muhyiddin Tajul Bima. Kedua pesantren generasi awal ini, semuanya diarsiteki oleh ulama-ulama keturunan Arab.

Konsentrasi kedua pusat pengembangan Islam tersebut khususnya Bontoala, lanjut Husnul, meredup awal abad XX.  Ada beberapa hal yang menjadi pemicunya, antara lain, perang Rompegading pada 1824 dan Sayyid Muhammad Zainuddin Assegaf, tokoh penting Pengkaderan ulama Bontoala setelah Sayyid Alwi memindahkan pengajian Bontoala ke Pappadangan Labuang Maros. Di tempat baru itu, Sayyid Puang Raga, sapaan populer masyarakat di daerah itu pada ulama ini, selain sebagai Kadhi, juga mendirikan tempat halaqah baru sebagai basis pencetak ulama.

Selain dua hal itu, ada kecenderungan baru awal abad XX yakni munculnya ulama-ulama alumni Haramayn yang mendedikasikan dirinya pada halaqah-halaqah atau mangaji tudang. “KH. Ahmad Bone, satu anrongguru yang banyak dikunjungi di kawasan Bantaeng Bulukumba, Jeneponto dan Bulukumba merupakan salah satu alumni Haramayn yang sangat populer,” urai Husnul.

Baca jugaMeraih Berkah dengan Merawat Tradisi Budaya Masyarakat

Sementara meredupnya pusat pengembangan keislaman di Takalar yang didirikan oleh Sayyid Djalaluddin Aidid diakibatkan massifnya sentra-sentra pendidikan Muhammadiyah. “Tahun 1926, Muhammadiyah menyebar dan mendirikan sekolah-sekolah Muallimin. Kurikulumnya sama dengan kurikulum sekolah bentukan pemerintah Hindia Belanda, tetapi disisipkan pendidikan agama di dalamnya,” jelas Husnul.

Pentingnya peran alumni Haramayn dalam pembentukan kader ulama abad XX juga ditunjukkan oleh Muslimin Effendy dan Bambang Sulistyo. Muslimin Effendi yang menelusuri Tafsir Keagamaan dan Wacana Intelektual Ulama di wilayah Jeneponto dan Bantaeng menunjukkan peran penting alumni Haramayn dalam melahirkan kader-kader ulama.

Muslimin mencontohkan Pesantren Darul Falah yang didirikan oleh KH. Ahmad Daeng Mapuji pada 1947 terinspirasi dari Madrasah Darul Falah, tempat Kiai Ahmad Daeng Mapuji belajar di Mekah. Sedangkan transmisi keilmuan yang dilakoni alumni Haramayn di Bantaeng, antara lain hasil bentukan KH. Minhaz Benuas, KH. Imam Gazali, KH. Abdul Jabbar Puang Arafah.

Penelitian Bambang Sulistyo juga menunjukkan hal yang sama tentang peran penting alumni Haramayn dalam membentuk tradisi keislaman beserta segenap jaringannya di awal abad 20. Meski  demikian, ada temuan penting Bambang yang menarik yakni masih eksisnya jaringan ulama Nusantara yang dibangun oleh Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro di awal abad ke-17. Setidaknya ditunjukkan oleh figur Muhammad Said yang konsentrasi pengabdiannya di Pulau Rajuni Kepulauan Selayar.

Muhammad Said, jelas Bambang adalah bagian dari konektisitas keilmuan yang dibangun oleh Datuk ri Bandang di Selayar. Jejaring Datuk ri Bandang juga tampak pada penelitian Jaringan Ulama Enrekang dan Palopo yang digagas oleh Muhammad Subair. Ada tiga tokoh yang menjadi murid Datuk ri Bandang pada abad ke-17, Ismail Mulla Sallang, Jenggo Ridi dan Puatta Janggo. Hanya saja, awal abad XX, jaringan ulama hasil didirikan MAI As’adiyah Sengkang, kader ulama Campalagian dan Muhammadiyah yang membentuk tradisi keislaman pada dua wilayah penelitian Subair.

Jaringan dan pergerakan para Sayyid dalam temuan para peneliti juga tampak sangat menonjol dalam mengajarkan tradisi keagamaan di Sulawesi Selatan dan Barat awal abad XX. Penelitian Bambang Sulistyo di Selayar dan Bulukumba, Muhammad Sadli Mustafa di Pangkep dan Maros 1900-1950 dan Syarifuddin dan Hamzah untuk wilayah Sulawesi Barat, setidaknya menunjukkan bagaimana proses transmisi keilmuan keislaman yang dimainkan para sayyid di wilayah tersebut.

Hanya saja, ada hal yang berbeda antara Selayar dan Bulukumba seperti tersaji dalam penelitian Bambang. Jika Selayar, ungkap Bambang, peran sayyid sangat penting di awal abad abad XX. Semetara di Bulukumba peran penting para sayyid tampak kurang menonjol.

Adapun di Maros, seperti paparan Sadli, sosok Sayyid Puang Raga sebagai seorang Sayyid tampak sangat menonjol dalam melahirkan generasi-generasi ulama setelahnya. Meski tidak sedikit kader ulama jaringan Pulau Salemo dan jaringan Haramayn juga menggelar halaqah-halaqah ngaji tudang.

Hal yang sama terjadi di Sulawesi Barat, tampak jaringan ulama alumni kader pendidikan lokal, Pulau Salemo, As’adiyah dan berbagai bentuk pengkaderan ulama lokal lainnya saling berebut pengaruh dengan ulama-ulama dari Arab, seperti yang tampak pada sosok KH. Maddepungan dan Syekh Hasan Yamani, yang menjadi fokus riset Syarifuddin dan Hamzah.

Gagasan penting lain yang mengemuka pada seminar jaringan ulama kali ini adalah bahwa ada dominasi yang bergeser pada pejabat-pejabat keagamaan yang disebut sebagai kali atau qadhi. Jika sebelum abad XX, sebagian besar qadhi dijabat oleh kalangan bangsawan. Tetapi awal abad XX, tampak terjadi pergeseran di mana posisi jabatan qadhi dijabat oleh ulama-ulama hasil didikan pusat-pusat pengkaderan ulama, baik itu haramayn atau halaqah dan pesantren yang tumbuh subur di Sulawesi Selatan dan Barat awal abad XX. Ini antara lain mengemuka pada penelitian Taufiq Ahmad yang melacak gerak jaringan ulama di Bone, Wajo dan Soppeng pada 1900-1950.

Abu Muslim, moderator seminar mengemukakan beberapa poin inti. Pertama, ada jaringan dan koneksitas yang terbentuk dalam membangun tradisi keilmuan keislaman hingga hari ini. Kedua, jaringan tersebut pada akhirnya membentuk berbagai tipologi aktor atau ulama, ada yang berdiaspora di masyarakat, ada yang membangun jaringan dengan penguasa-penguasa lokal dengan tetap mendampingi masyarakat dalam menyebarkan ajaran agama dan ada juga yang menginisiasi institusi pendidikan, halaqah-halaqah atau masjid. Ketiga, keseluruhan penelitian menunjukkan ada batasan-batasan yang disebut ulama yaitu memiliki kapasitas pengetahuan agama yang memadai, adanya pengakuan dari masyarakat, menguasai kitab kuning dan mentransmisikan apa yang diketahuinya kepada masyarakat di mana ulama-ulama tersebut mengabdikan hidupnya.

Laporan: Mubarak Idrus

  • 536 Dibaca