Illustrasi Parakang

Mengapa Seseorang Menjadi Parakang?


Seputarsulwesi.com, Makassar - Mitos makhluk jadi-jadian di Indonesia sangat banyak, seperti di Sumatra ada Palasik, di Bali ada Leak dan di Makassar dan daerah sekitar dikenal nama Parakang.

Saat ini, sebuah film produksi Artalenta Media Sinema serentak tayang di Bioskop seluruh Indonesia. Film yang di Sutradarai oleh Abdul Rodjak yang selama ini dikenal sebagai Petta Puang mulai tayang di Bioskop pada 18 Mei 2017.

Cerita parakang cukup melegenda dan sangat populer di Sulawesi Selatan, dan sampai sekarang masih sering kali menjadi perbincangan masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di pedesaan.

Masyarakat Sulsel meyakini bahwa parakang adalah manusia yang bisa berubah wujud menjadi apa saja baik benda maupun hewan, namun ada juga yang beranggapan bahwa parakang adalah manusia yang memiliki kekuatan gaib dan kerap mengganggu masyarakat.

Mengapa Seseorang Menjadi Parakang ?

Cerita yang berkembang di tanah Bugis Makassar, bahwa seseorang menjadi Parakang, ialah karena orang itu salah dalam menerima ilmu. Rata-rata yang jadi parakang adalah dari kalangan wanita. Mereka ini kebanyakan menerima ilmu kecantikan, mudah dapat jodoh yang diinginkan, juga ada yang menerima ilmu kekayaan. Hanya saja mereka ini salah dalam menerima ilmu. Akibatnya ilmu itu merusak dirinya dan jadilah mereka Parakang yang senang minum darah manusia sebagai akibat ilmu hitam yang masuk kedalam diri mereka.

Karena dalam pengauaasn ilmu hitam, orang yang menjadi Parakang bisa mengubah-ubah wujudnya menjadi apa saja, namun apa pun yang dijelmanya tidak pernah sempurna. Konon katanya, Parakang paling sering mengubah wujudnya menjadi binatang yang tidak sempurna, seperti anjing tanpa bulu dengan tangan dan kaki menyerupai manusia, atau kaki belakang yang lebih tinggi dari kaki depan. Binatang lain seperti babi dan monyet juga sering diceritakan orang-orang yang pernah melihat sosoknya. Namun, apa pun binatang jelmaan Parakang, makhluk jadi-jadian itu selalu tidak memiliki ekor.

Wujud lain jelmaan Parakang adalah menjadi tangkai-tangkai bambu, ampoti – (keranjang ayam yang terbuat dari daun kelapa) atau pohon pisang bertangkai daun tiga. Namun, di zaman modern ini, Parakang juga sering diceritakan menyamar menjadi manusia biasa. Di kesempatan lain lagi, Parakang juga bisa merasuki seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Makhluk jadi-jadian ini mengubah wujudnya sedemikian rupa dalam upaya mendekati atau menjerat korbannya.

Parakang tak berarti hidupnya akan mudah, karena ilmu hitam itulah yang akhirnya menguasai dirinya. Ketika seseorang menjadi Parakang, dia akan selalu merasa haus darah dan memandang manusia seolah-olah makanannya, terutama orang yang sedang sakit dan bayi. Dia juga diceritakan sangat suka mencicipi rektum. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, banyak yang tahu istilah yang berbunyi “Parakang pakanre pello”‘ . “Pakanre” dalam bahasa Bugis berarti pemakan, dan “Pello”‘ artinya rektum. Parakang sangat suka makan Pello, yang berbuntut korbannya meninggal.

Di kalangan orang-orang tua di Sulawesi Selatan, mereka mempunyai cara menghindari Parakang, terutama bila di sebuah rumah ada yang sakit atau ada bayi. Caranya ialah menyebarkan garam di sekeliling rumah. Karena Parakang dikenal lebih suka dengan orang sakit, maka dengan garam itu diharapkan dia tidak menyelinap masuk ke dalam rumah.

Cara lainnya, ketika kamu melihat wujud seekor binatang dengan ciri-ciri yang ganjil dan menyerupai penampakan jelmaan Parakang, maka mengusirnya dengan memukul jelmaan tersebut sekali atau tiga kali. Konon jika memukul Parakang tersebut tiga kali, ketika dia berubah menjadi manusia biasa, dia akan mengalami cacat pada bagian yang dipukul. Jika hanya sekali, maka Parakang tersebut akan langsung meninggal di tempat.

Menjadi Parakang sesungguhnya merupakan sebuah kutukan yang menyedihkan. Menurut cerita, seorang Parakang akan meneruskan ilmu sekaligus kutukan akibat kesalahannya kepada keturunannya. Jadi, jika seseorang merupakan anak atau dialiri darah dari orang yang menjadi Parakang, maka kelak dia akan menjadi Parakang juga.

Parakang ketika hendak menemui ajalnya akan merasa sangat menderita. Dia tidak bisa meninggal sebelum ilmu tersebut diambil oleh keturunannya. Saat itu dia akan terus mengucapkan kata “Lemba” yang artinya “Pindah” untuk diterima oleh keturunannya. Dalam menerima ilmu Parakang, seorang keturunannya tidak harus menyetujuinya secara langsung. Tatkala hatinya sudah dapat menerima, maka secara alami dia telah menjadi seorang Parakang juga. Sesaat setelah itu, barulah orangtua dari Parakang tersebut bisa meninggal dengan tenang.

Ritual pemindahan ilmu Parakang ke keturunanya, menjadi masalah pula di tengah masyarakat. Mereka tak ingin ada keluarganya yang menikah dengan keturunan Parakang. Sebab nanti anak cucu mereka dipahami salah satu dari mereka juga akan jadi Parakang. darna

dari berbagai sumber

Tag :

Tips wisata
  • 477 Dibaca