Mengenang Almarhum Anangguru KH. Umar Mappiabang


Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Usai disalatkan di Masjid al Anwar, jenazah Annanguru KH. Umar Mappeabang di gotong oleh ratusan jamaah yang juga sebagian besar adalah murid-muridnya menuju ke liang lahat yang berlokasi tak jauh dari mihrab mesjid al Anwar.

Kepergiannya pun diringi tangisan dan rasa haru oleh jamaah serta ratusan pelayat saat prosesi pemakaman berlangsung. Dari raut wajah mereka nampak terlihat kesedihan yang amat sangat saat jenazah almarhum dikeluarkan dari masjid.

Suasana pemakaman saat itu penuh sesak oleh ratusan pelayat yang datang dari berbagai kalangan. Begitupun, laki-laki dan perempuan nampak terlihat berbaur dan berdesakan ingin menyaksikan jenazah sosok ulama tawadhu ini sesaat sebelum ia dikebumikan.

“Saya mengenal baik beliau, sebab sewaktu saya sekolah di Mapilli, saya tinggal bersama Annanguru.Beliau bukan hanya guru bagi kami, tapi juga sudah kami anggap sebagai orang tua sendiri. Beliau tak pernah lelah membimbing dan mengajari kami,” papar Nasrul warga Bulo yang juga salah seorang murid Annanguru KH. Umar Mappeabang saat ditemui di lokasi pemakaman.

Sekedar diketahui, Annguru KH. Umar Mappeabang putra dari Bapak Mappeabang (Ujung Tanasitolo, Wajo) dan Ibu Suhuriah (Lawawoi Sidrap) lahir pada 10 Oktober 1930 di Lawawoi Sidrap merupakan murid angkatan kedua AGH. Muhammad As’ad, pendiri Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Wajo.

Semasa kecil, ia banyak menghabiskan waktu di Lawawoi Sidrap dan kemudian belajar agama di As’adiyah Sengkang hingga Tsnawiyah. Almarhum menyelesaikan pendidikan aliyah di DDI Pare-pare yang dipimpin Pendiri DDI AGH. KH. Abdulrahman Ambo Dalle.

Pada Tahun 1952, ia ditugaskan oleh AGH. Ambo Dalle untuk mengajar di Madrasah di bawah naungan DDI dan kemudian diangkat menjadi Kepala Madrasah Ibtida’iyah DDI di Lapeo tahun 1953 Campalagian Polman. Saat itu, Imam Lapeo masih hidup dan sempat bertemu dan berguru ke ulama kharismatik Mandar tersebut meskipun hanya sesaat, sehingga tidak mengherankan jika ulama yang juga tokoh NU ini sangat akrab dengan Imam Lapeo.

Setelah di Lapeo, almarhum banyak bersentuhan dengan para ulama di Polmas (Polman) saat itu dan akhirnya menikah dengan Putri KH. Muh Qosim (Imam Tandung pendiri Ponpes Darul Huda wal Ihsan) tahun 1954. Sekitar tahun 1958, ia pindah ke Pasang Kayu Mamuju Utara (Matra).

Di Matra, ia tidak hanya dikenal sebagai pendidik, tapi juga pengayom dan aktif membina masyarakat setempat. Usai mengabdi di Matra ia kemudian ke Mapilli Polman tahun 1979 dan di daerah inilah Annanguru menetap bersama keluarganya hingga akhirnya Annangguru menghembuskan nafas terakhirnya, pada Minggu siang (28/5) bertepatan saat azan dhuhur dikumandankan di rumah anak tertuanya di Kota Polewali kemudian di semayam di rumah duka kompleks Ponpes Darul Huda wal Ihsan (DHI) Lampa, Mappilli.

Semasa hidup di Lampa, selain diamanahkan untuk memimpin dan membina Ponpes DHI, juga diminta untuk menjadi imam besar di masjid al Anwar Mapilli. “Kurang lebih 36 tahun lamanya dinda beliau menjadi Imam Besar di Masjid al-Anwar,” papar putra bungsu Annanguru KH. Umar Mappeabang saat ditemui usai pemakaman ayahnya.

Sementara itu, di tempat yang sama, Kamaruddin salah seorang warga setempat mengaku kehilangan sosok ulama yang selama ini dikenal begitu ihlas mengabdikan dirinya untuk umat. “Semoga amal ibadahnya senanantiasa menjadi syafaat untuknya. Dan insya Allah Syurga menjadi tempat kembali Annanguru, amin,” katanya ke Seputarsulawesi.com. (SAP)

Tag :

polman
  • 2109 Dibaca