Menjaga Tradisi Menguatkan Keberagaman


Penulis: Muhammad Aras Prabowo

(Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Mercu Buana Jakarta)

Kuatnya gelombang kelompok transnasional menjadi tantangan tersendiri bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pasalnya manuver kelompok tersebut seringkali mengancam keberagaman yang hidup di Indonesia. Bentuk gerakannya bevariasi, mulai dari dakwah, pendidikan, politik sampai dengan aksi kekerasan yang dikenal dengan terorisme.

Dakwahnya seringkali menyalahkan kelompok yang lain. Menganggap pahamnya yang paling benar paham yang lain salah. Membid’ahkan amalan-amalan kelompok lain. Pamahaman agamanya sangat tekstual dan seringkali mengabaikan konteks. Pandangannya hitam putih/benar salah. Sangat fanatik dengan ulama dan referensi tertentu.

Kelompok tersebut sangat lihai dalam mengambil ruang-ruang strategis dalam masyarakat, termasuk tempat ibadah dan pendidikan. Kedua tempat ini cukup untuk mengembangkan virus-virus pemahamannya dalam masyarakat. Membenturkan pemahamannya dengan kelompok tertentu yang dia anggap tidak sejalan dengan pahamnya. Melakukan kaderisasi yang intens di berbagai institusi pendidikan, mulai dari kelompok pelajar sampai dengan mahasiswa. Keduanya terus didoktrin dengan pamahaman yang disebutkan di atas, sehingga menjadi ekstrim dan menyalahkan semua diluar dari pahamnya.

Gerakan mereka di lingkungan politik tidak jauh beda, juga selalu menganggap kelompoknya yang paling benar dan kelompok di luarnya salah. Menganggap dirinya yang membawa kebenaran, dengan memanipulasi ayat Tuhan sebagai legitimasi kebenarannya. Seakan-akan yang mereka bawa adalah keinginan Tuhan, yang dimau Tuhan. Tidak jarang mereka lancang untuk membela Tuhan. Pandangan politiknya memakai kacamata kuda, sehingga mengabaikan konteks dan realitas sosial, menganggap dirinya membela agama dan kemanusiaan namun melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Klimaks dari gerakan kelompok tersebut yaitu, dihalalkannya aksi-aksi kekerasan dalam menegakkan tujuannya. Di Indonesia telah banyak darah yang mengalir, korban jiwa, keluarga yang kehilangan akibat aksi terornya. Lagi-lagi, mereka memakai legalitas agama dalam melakukan kekerasan dan aksi terorisme. Pemahamannya yang buta membuatnya tidak mampu melihat nilai-nilai kemanusiaan di sekitarnya. Taqlik butanya tidak mampu mendengar nuraninya. Agamapun dikomersialisasi dengan 72 bidadari atas aksi yang mereka anggap sebagai jihad. Aksinya tidak membangun keselamatan, namun menghancurkan nilai kemanusiaan, keberagaman, nilai kesatuan bangsa Indonesia.

Sekali lagi, ini adalah ancaman bagi NKRI. Gerakan harus dilakukan untuk menghambat perkembangan virus ekstriminme yang mengancam keberagamanan, merusak nilai-nilai kemanusian dan kesatuan bangsa Indonesia. Tradisi/kearifan lokal sebagai salah benteng untuk menghambat ekstrimisme seperti yang tertuang dalam salah satu nilai Gus Dur yaitu:

Kearifan lokal bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal Indonesia di antaranya berwujud dasar Negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945, prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradab. Gus Dur menggerakkan kearifan lokal dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.

Salah satu tradisi yang menjadi benteng atas ekstrimisme adalah faslsafah hidup yang dipegang teguh oleh Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Diantaranya adalah Pacce dan pesse adalah suatu perasaan yang menyayat hati, pilu bagaikan tersayat sembilu apabila sesama warga masyarakat ditimpa kemalangan (musibah). Perasaan yang demikian ini merupakan suatu pendorong kearah solidaritas dalam berbagai bentuk yaitu, saling memanusiawi (sipakatau), saling mengingatkan (sipakainge), saling menghargai (sipakalebbi) dan saling membantu (sipakatokkong).

Dalam Suku Bugis sipakatau adalah konsep yang memandang setiap manusia sebagai manusia. Manusia hendaklah saling memperlakukan sebagai manusia seutuhnya, sehingga tidaklah pantas memperlakukan orang lain di luar perlakuan yang pantas bagi manusia. Konsep tersebut sangat mengedepankan sikap penghargaan terhadap manusia. Nilai ini mengajarkan memperlakukan manusia lain sama dengan memperlakukan diri sendiri. Atau dalam falsafah Bugis dikenal ceddi na tau (manusia hanya satu).

Sipakainge adalah sikap saling mengingatkan antar sesama manusia. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Adakalanya manusia terpeleset, kondisi inilah manusia harus saling mengingatkan, sehingga siapapun akan selalu diingatkan untuk berjalan di jalan yang lurus. Termasuk jika paham ekstrimisme terinfeksi dalam masyarakat, maka mereka harus dingatkan dan ditunjukkan jalan yang benar sesuai dengan petunjuk agama.

Sipakalebbi adalah konsep yang memandang manusia sebagai mahluk yang senang dipuji dan diperlakukan dengan baik dan selayaknya. Nilai ini menginginkan agar manusia memandang manusia lain dengan segala kelebihannya, saling memuji akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggairahkan, hingga siapapun yang berada dalam kondisi tersebut akan senang dan merasa tentram. Tidak menonjolkan perbedaan, apalagi saling menyalahkan satu sama lain. Tidak merasa dirinya yang paling benar dan yang lain salah. Atau bahkan merasa bahwa orang kelompok diluarnya bid’ah dan kafir.

Sipakatokkong merupakan suatu nilai gotong royong yang mengharuskun setiap manusia saling membantu atas kesusahan yang dihadapinya. Saling meringankan beban para saudara dan orang-orang disekitarnya. Dalam bahasa Bugis sipatokkong dikenal sebagai sibali peri (saling membantu dalam kesusahan). Konteksnya dalam ekstrimesme bahwa dalam sebuah kesusahan kita harus saling membantu, bukan justru membawa kesusahan kepada orang lain dengan paham ektrimisme yang saling mengucilkan. Paham ekstrimisme menghambat nilai-nilai sipatokkong dalam masyarakat, karena memakai logika benar salah hal tersebut yang menghambat mereka dalam bersosialisasi apalagi saling membantu.

Tradisi yang menjadi falasafah hidup Suku Bugis di Sulawesi Selatan harus dijaga dan dilestarikan agar terus hidup dalam masyarakat dan diwariskan dari generasi kegenerasi. Semakin kuat falsafah yang telah menjadi tradisi atau bahkan nilai, maka akan semakin kuat pula nilai kesatuan dan keberagaman NKRI. Paham ekstimisme akan sangat sulit untuk berkembang apalagi menggoyahkan keberagaman yang telah lama hidup di Indonesia. Menjaga tradisi dan menguatkan keragamanan adalah tanggung jawab semua suku, ras dan agama dalam dalam bangsa ini

  • 410 Dibaca