Mereka yang Menyusui di Ruang Publik Tanpa Nilai Seksual


Seputarsulawesi.com - Aliye Shagieva, putri termuda Presiden Kyrgistan, jadi polemik yang menimbulkan beragam respon di dunia maya, usai mengunggah fotonya melalui akun instagram pribadinya pada April lalu, yang memperlihatkan ia sedang menyusui anaknya dengan bagian dada (tetek) yang sedikit terlihat. Respon yang paling menonjol ditunjukkan oleh warganet adalah tentang menyusui di ruang publik.

Seperti dilansir dari The Independent, Aliye Shagieva mengatakan kalau budayanya yang melihat tubuh perempuan dari sudut pandang seksual menimbulkan kemarahan, “Tubuh yang diberikan kepada saya tidak vulgar, ini fungsional”.

Larrissa Waters, mantan Senator Australia juga menampakkan menyusui bayinya di parlemen Mei lalu. Apa yang dilakukan oleh Larissa menuai komentar beragam. Ada yang setuju kalau ibu boleh menyusui anaknya di ruang publik, namun sebagian menanggapnya tidak bermoral.

Ia menanggapi polemik ini dengan biasa saja, “Saya tidak cuma berharap bisa menyusui anak saya, tapi saya juga berpesan kepada ibu-ibu muda yang ada di parlemen”, ungkapnya kepada The Independent.

Candice Swanepoel, model asal Afrika Selatan, juga pernah merasakan hal demikian saat ia mengunggah foto menyusui anaknya yang baru lahir melalui instagram. Meski banyak komentar pedas bermunculan, baginya menyusui di ruang publik bukanlah sesuatu yang berbau seksual, melainkan proses alamiah. Para ibu yang merasa malu menyusui anaknya perlu dibina tentang pentingnya ASI bagi ibu dan anak. “Hal ini juga perlu disuarakan di masyarakat pada umumnya agar mereka mengerti,”ujarnya.

Menyusui di ruang publik, bukanlah kasus lama. Beberapa tahun belakangan, perempuan di Eropa dan Amerika, mengkampanyekan untuk menyusui, bukan malah memberikan susu formula pada anak yang baru lahir. Di Britania Raya, sudah ada peraturan untuk ibu menyusui di ruang publik. Di sana, siapapun dilarang untuk mengusir para ibu yang sedang menyusui di ruang publik seperti di kafe, taman atau kendaraan umum.

Tahun 2016 lalu, UNICEF pun mulai mengkampanyekan gerakan ibu menyusui di ruang publik. UNICEF, melalui gerakan brelfie atau breastfeeding selfie, berharap stigma buruk tentang ibu menyusui bisa dihapuskan. “Ini adalah tentang dukungan dan memberi semangat agar ibu-ibu tidak lagi harus sembunyi-sembunyi menyusui bayi mereka,” kata juru bicara Badan Kesehatan Dunia (WHO) Fadela Chaib, dilansir dari Reuters.

 

Bangsawan, Siri’, dan Nilai Menyusui

Pemaknaan mengenai tubuh yang tampil di ruang publik memang beragam. Hal itu dipengaruhi, salah satunya adalah latar belakang budaya yang berbeda. Praktik simbolis dalam setiap kebudayaan yang berkaitan dengan tubuh, memiliki muatan nilai sendiri, dan selayaknya tidak dipertentangkan satu sama lain. Karena, praktik dan bentuk kebudayaan itu selalu dinamis dan berubah tiap waktu.

Perihal menyusui di ruang publik dalam kebudayaan masyarakat Bugis-Makassar, pada tahun 60an sampai 70an, hanya dilakukan di dalam rumah “Di keluarga saya, atau yang saya saksikan di tahun 60an dan 70an, kalau menyusui anak harus di dalam rumah, di kamar dan sambil baring. Karena dalam kesehatan kan, anak harus miring saat disusui, tapi dikasi tinggi tangannya yang disebelah, jadi posisi anak tidak rebah,” ujar Prof Nurhayati Rahman saat dihubungi seputarsulawesi.com, Jumat, 04 Agustus 2017.

Menyusui di ruang publik, bagi sebagian masyarakat Bugis-Makassar, dianggap hal yang tabu, karena berkaitan dengan budaya siri’. “Menyusui bayi pada waktu itu dianggap tabu. Seingatku saya tidak pernah menyaksikan begitu, tapi mungkin ada yang ditemukan di pasar yang dilakukan oleh rakyat-rakyat biasa atau tidak terdidik,” katanya.

Terlebih di kalangan bangsawan kelas atas Bugis-Makassar, menyusui atau bahkan menampilkan sedikit saja bagian tubuh yang intim di ruang publik, sangat tidak etis. “Kalau menampilkan hal seperti itu, akan dibilangi kurang siri’. Menurut orang tua dulu, jangankan buah dada dibuka di tempat umum saat menyusui, celana dalam saja dijemur di depan rumah, sama halnya kelamin kita yang di jemur.”

Menurut Nurhayati, menyusui di tempat umum, jika mengaitkannya dengan pandangan Islam tentutlah dilarang. Karena sudah diajarkan mengenai menutup aurat. “Zaman Islam sudah masuk, sudah ada dibilang mappadua lipa’, maksudnya satu diakkawai atau dililitkan menutupi bagian dada sampai bawah tubuh, dan satunya lagi untuk menutupi kepala atau disebut makkalimbu. Itu cara menutup aurat. Tapi ada juga yang tidak melakukan demikian. Mungkin orang-orang itu belum mengenal islam dengan baik.”

Memang pada periode 70an, bahkan sebelumnya, ada juga ibu-ibu yang menyusui anaknya di pasar, atau di tempat umum lainnya. Tetapi, hal demikian tidak menjadi polemik atau perbincangan yang hangat. Bahkan, ketika hal seperti itu terjadi di muka umum, tidak ada sama sekali yang menatap dengan penuh birahi, apalagi berujung tindak pelecehan dan paling parah terjadi pemerkosaan.

“Memang di kalangan rakyat kecil biasa terjadi hal demikian. Tapi tidak ada orang yang mau pegang dan mau menatap dengan penuh birahi. Dan tidak ada pelecehan dan pemerkosaan. Karena semua saling menjaga siri’nya satu sama lain. Nilai siri’ itu, dalam masyarakat kita disebut kejujuran. Makanya tidak terjadi hal-hal itu.” Kata Nurhayati.

Terkait perihal menyusui di ruang publik yang akhir-akhir ini diperdebatkan, Nurhayati mengingatkan bahwa bentuk atau perilaku kebudayaan tidak perlu diperdebatkan, yang penting adalah transformasi nilainya.

“Ukuran etika dan tidak etika jangan dipakai ukuran sekarang. Dalam teori budaya ada namanya teori reseptif. Lihat masalah menurut zamannya. Yang paling penting dari semua itu adalah nilainya. Tempatkan bentuk itu di zamannya, yang perlu kita ambil transformasi nilainya. Kita ada nilai yang dianut, bukan bentuknya yang mesti diperdebatkan,” ujar Nurhayati.

“Menyusui di ruang publik, yang di negara barat sudah ada aturannya, menurut saya diperuntukkan buat wanita-wanita karir ya. Mereka yang sering muncul di ruang publik”, jelas Guru Besar Universitas Hasanuddin.

 

 

Penulis: Andi Ilham Badawi

 

  • 263 Dibaca