Munafik


Kiai Muda Mahmud Suyuti
Ketua MATAN Sulsel

 

Hadis Nabi SAW, tanda orang munafik ada tiga.
1. Jika berkata dia berdusta
2. Jika berjanji dia menyalahi
3. Jika dipercaya dia berkhianat.

Tiga ciri orang munafik dengan kriteria seperti yang disebutkan dalam hadis di atas, pendusta, pengingkar janji dan pengkhianat kelak akan mendapatkan siksa sebagai akibat dari perbuatan yang telah dilakukannya. Mereka para munafik yang berbuat hipokrit dan tidak konsisten terhadap ajaran Allah lebih parah dari hanya sekadar kekufuran yang nyata.

Jika kekufuran yang nyata, jelas mereka mendemostransikan kekufurannya dengan tanpa tabir dan ada garis demarkasi yang jelas antara mereka dengan orang Islam. Sementara orang-ornag munafik, secara implisit, hatinya telah tercemar dengan kekufuran dan tertanam dalam hatinya yang dalam.

Orang munafik ini menampakkan perbuatan yang sejalan dengan dimensi agama, sehingga banyak yang terkelabui bahwa ia adalah orang-orang yang beriman, padahal secara substansif, ia mengekpresikan demikian hanya sebatas sebagai kilat untuk merobahkan pondasi Islam dari dalam. Jika munafik benar demikian, maka sudah sewajarnya kalau ia menerima balasan yang lebih parah dibandingkan dengan mereka yang secara atraktif dan demonstratif mentransparasikan keimanan.

Sebagaimana dalam hadis bahwa dusta merupakan tabiat dasar orang munafik, diperkuat oleh penegasan Allah dalam QS. al-Munafiqun (63):1, bahwa orang munafik itu adalah pendusta. Mereka datang kepada Nabi SAW menyatakan keimanan mereka dan bersaksi bahwa Muhammad saw adalah rasul Allah. Akan tetapi, Allah mengetahui niat busuk dalam hati mereka.

Sumpah yang mereka ucapkan untuk menguatkan pernyataan iman mereka, ternyata, hanya sarana perlindungan bagi keselamatan jiwa dan harta benda mereka sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. al-Munafiqun (63): 2 dan QS. al-Taubah (9): 56. Dikatakan pula bahwa dusta adalah watak dasar dari orang-orang munafik, dan hal ini diumpakan dengan mereka memakai topeng yang berlapis-lapis untuk menutupi keaslian diri mereka yang sebenarnya.

Untuk lebih menutupi dusta itu, mereka tidak segan-segan mengumbar sumpa palsu. Orang-orang munafik, memang, sangat lihai dalam menyembunyikan kedok. Mereka mengandalkan kelicikan, tipuan, kepandaian bersilat lidah untuk mengambil hati orang lain. Selain itu, mereka amat pandai membuat kilah dan jastifikasi atas kesalahan dan kejahatan mereka dengan memutar balik fakta atau melempat batu sembunyi tangan.

Bila perbuatan jahat mereka terungkap, mereka mengatakan bahwa hal itu dilakukan bukan karena sungguhan melainkan karena main-main semata.

Dalam QS. al-Taubah (9): 65 bahwa jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja"

Sikap kemunafikan sebagaimana yang digambarkan di atas, semuanya terjadi pada diri seseorang sebab pada diri mereka telah tertanam kesenangan berdusta. Selain itu, prilaku dusta tidak dapat dipisahkan dengan ingkar janji dan menyalahi amanah.

Jelasnya bahwa dusta akan membentuk karakter pengecut, tidak kesatria mengakui kesalahan, dan dengan dusta pula merupakan sumber segala keburukan, sehingga harus kita hindari !

Wallahu A'lam

  • 170 Dibaca