sumber gambar : Teh Tawar

Pangeran Kegelapan

Serial Burik Cilampakna Kindang

Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng Episode XII


By : IjhalThamaona

Baca Kisah Sebelumnya :  Sepasang El-Maut Aneh dari Bawakaraeng (11)

Sosok itu melangkah tersaruk-saruk dalam siraman cahaya rembulan. Saat itu rembulan tepat berada di puncaknya. Sinarnya yang terang benderang membantu sosok yang melangkah perlahan itu dapat melihat jalan yang ada di depannya. Sesekali pepohonan menutupi rembulan yang telah sampai pada purnama penuh tersebut. Rimbunnya dedaunan menimbulkan bayang-bayang gelap yang bisa menggetarkan jantung seseorang, tak terkecuali sosok yang sedang berjalan di tengah malam itu. Sesekali di antara bunyi binatang-bintang malam, terdengar gonggongan anjing-anjing liar. Terkadang panjang bagai auman serigala kelaparan. Lolongan itu seakan menyambut datangnya makhluk dari alam gaib.

Konon di puncak gunung Bawakaraeng memang berdiam makhluk gaib yang memiliki peliharaan bintang yang lebih besar dari seekor  anjing namun tingginya tidak melebihi  kuda. Binatang ini memiliki bulu-bulu tebal yang tumbuh di sekujur tubuhnya. Bulu-bulu itu tajam bagaikan jarum-jarum. Asu Pancing, demikian orang di sekitar lereng gunung Bawakaraeng, termasuk di daerah Kindang menyebutnya. Konon pula,  menurut cerita, setiap matahari terbenam di ufuk barat, asu pancing ini mulai turun dari gunung, berkeliaran di jalan-jalan. Baru setelah fajar menjelang muncul di ufuk Timur, binatang ini akan kembali ke puncak gunung Bawakaraeng.  Asu pancing ini adalah jenis binatang gaib, namun sesekali menampakkan dirinya, sehingga bisa terlihat mata manusia biasa. Salah satu tanda kemunculannya ketika terdengar suara seperti lolongan anjing yang panjang dan bersahut-sahutan. 

Asu Pancing ini kadang tanpa sengaja menyambar orang yang berpapasan jalan dengannya. Bila tersambar oleh bulu-bulunya yang runcing dan tajam itu, maka secara gaib bulu-bulu tersebut akan tertanam pada tubuh yang tersambar itu. Biasanya jika orang kena bulunya, akan merasakan sakit luar biasa pada daerah yang terkena tusuk itu. Hanya dukun-dukun atau sanro tertentu yang dapat mengeluarkan bulu tersebut secara gaib. Jika tidak dikeluarkan maka bulu-bulu tersebut akan tinggal dalam tubuh orang dan akan membuatnya kesakitan terus menerus. Tubuhnya juga akan keracunan, membengkak  dan akhirnya racun itu akan menggerogoti hati dan jantungnya. Jika hanya terkena bulu-bulunya, akibatnya bisa segawat itu, maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika asu pancing itu menerkam manusia.
 
Lolongan anjing kembali terdengar. Panjang dan menyayat. Sosok yang berjalan tersaruk-saruk itu sesaat menghentikan langkahnya. Tangannya memperbaiki letak sehelai kain sarung yang disampirkan di pundaknya.  Setelah menghela nafas, Ia lantas memperhatikan jalan di depannya yang kini semakin menyempit.

Kini Ia telah berada dipinggir hutan Karrasayya atau hutan keramat. Hutan ini berada di lereng bagian timur gunung Bawakaraeng. Hutan yang masih lebat karena belum pernah dirambah oleh para petani di sekitar gunung Bawakaraeng. Orang-orang tua dan para leluhur melarang untuk menggarapnya. Konon hutan ini adalah hutan yang dikeramatkan,  karena di tempat inilah pertama kalinya muncul To Manurung riKindang.  Orang yang pertama kali muncul di Kindangdan kemunculannya tiba-tiba saja. Orang di sekitar Gunung Bawakaraeng meyakini To Manurung ini diturunkan dari langit oleh Batarayya. To Manurung inilah yang menjadi cikal bakal raja-raja pada sebuah kerajaan. Bisa juga menjadi cikal bakal Gallaatau pemimpin dalam sebuah kampung.

Semakin mendekati hutan Karrasayya suasana semakin senyap dan mencekam. Pepohonan semakin rapat sehingga cahaya rembulan semakin sulit menembus rimbunnya dedaunan.

“Aunngg...aung.....auuuunnnnnggggg......”

Untuk ketiga kalinya terdengar lagi suara lolongan anjing, panjang, menyayat dan kini terasa sangat dekat dengan tempat itu. Sosok yang telah berniat melangkahkan kakinya, sontak mengurungkan rencananya. Sosok ini berkerudung kain sarung batik. Di pundak kirinya terlihat buntalan kain, sementara di pundak kanannya tersampir sehelai sarung lusuh. Sarung  itu ternyata digunakan untuk menggendong seorang bayi yang masih berusia enam bulan. Rupanya kain sarung itulah yang dibenahinya tadi. Ketika samar-samar cahaya rembulan tepat jatuh mengenai paras orang ini, terlihatlah raut seorang wanita cantik. Paras yang tak asing lagi. Bunga. Bayi yang ada dalam gendongannya tentu saja juga anaknya. Seorang anak yang terlahir dengan muka dipenuhi totol coklat kehitaman pada bagian kirinya, sementara di sebelah kanan bawah terus ke leher ditumbuhi sisik. Malam itu Ia telah berjalan jauh  meninggalkan kampung halamannya, Kindang. Meninggalkan segenap kenangan yang telah menorehkan lara dalam hatinya.
    
Bunga menoleh ke arah kanan dan kirinya. Ia merasa diawasi oleh beberapa pasang mata. Namun meski telah berusaha keras menembus kerapatan pepohonan, Bunga tidak melihat apa-apa. Bulu kuduk Bunga terasa meremang. Perlahan tangannya meraba badik Lataring Tellu di buntalan pakaiannya.

Pada saat itulah tiba-tiba saja di depannya melintas bayangan berkelebat dengan cepat. Bersamaan dengan itu bau busuk menghampar. Serentak pula dengan lolongan binatang. Entah lolongan anjing,  entah raungan binatang lain. Bunga tersentak kaget, kemudian menutup hidungnya rapat-rapat.

Samar-samar di depan Bunga muncul dua sosok tubuh berdiri tegak. Semakin lama semakin jelas. Bau busuk juga semakin santer tercium. Ketika cahaya rembulan sesaat menerangi tubuh dan paras dua makhluk ini, Bunga melotot menatapnya.

Seumur-umur baru kali inilah Bunga melihat sosok makhluk yang rupanya sedemikian mengerikannya. Matanya hanya satu, merah nyalang. Sementara mata yang sebelahnya lagi hanya berupa geroak yang dalam, tanpa bola mata. Hidungnya rompong sehingga yang terlihat hanya dua lubang, tanpa batang hidung. Dari lubang hidung itu menetas cairan berwarna kehijauan. Sementara mulutnya somplak di bagian kanan, hingga giginya yang besar-besar dan kuning beserta gusinya jelas terlihat. Jika diperhatikan, mata yang bolong, hidung yang rompong, dan mulut yang sobek itu bersambung membuat geroak yang mengerikan di bagian kanan wajah makhluk ini.  Sementara itu sekujur tubuhnya, khususnya kedua lengan dan lehernya yang terbuka tampak koreng-koreng yang mengeluarkan nanah. Kiranya bau busuk itu berasal dari koreng-koreng yang bernanah itu.

Sementara makhluk yang satunya, juga serupa. Mata geroak, hidung gerumpung dan mulut somplak. Bedanya hanya pada letak mata yang geroak dan mulut yang somplak. Jika makhluk pertama, yang geroak adalah mata kanan dan mulut yang sobek adalah bagian kanan, maka makhluk kedua sebaliknya mata geroaknya adalah yang sebelah kiri, demikian halnya dengan mulutnya yang somplak.

Bunga tiba-tiba merasa dengkulnya gemetar dan tengkuknya bagai disiram es. Rasa ngeri merobek-robek perasaannya. Isi lambungnya terasa berputar oleh bau busuk yang semakin menusuk-nusuk itu. Bunga tidak bisa menahan rasa mual. Ia pun muntah di depan makhluk yang tak jelas juntrungannya ini.
 
“Ha..ha...ha...”
   
Tiba-tiba  suara tawa merobek kesunyian malam. Suara tawa itu membahana mengentakkan dada, dan menusuk-nusuk pendengaran. Meskipun suara tawa itu dahsyat tapi kedengarannya seperti dari liang yang dalam. Dari menutup hidung, Bunga kini menutup telinganya rapat-rapat. Ia tak tahan mendengar suara tawa yang seakan-akan menusuk gendang telinganya.  Bunga mencoba memperhatikan dua makhluk busuk yang ada di depannya. Kecuali sisi mulut tertentu dari masing-masing makhluk itu yang memang sudah sobek,  mulut keduanya terkatup dengan rapat. Jelas bukan salah satu dari keduanya yang tertawa.
 
“Ganda Mayit Mata Satu cepat ringkus perempuan itu, kita harus segera meninggalkan tempat ini”.
 
Begitu suara tawa lenyap, tiba-tiba kembali terdengar suara dari kegelapan. Sebagaimana halnya suara tawa sebelumnya, suara kali ini pun seakan berasal dari liang yang dalam.

Rupanya yang dipanggil Ganda Mayit Mata Satu adalah dua makhluk di depan Bunga, karena serentak keduanya menoleh ke arah kiri, dari mana suara itu berasal. Mula-mula dari arah tersebut,  tak ada sosok yang terlihat. Hanya kegelapan yang sesekali tersaput sinar rembulan. Namun samar-samar mulai muncul sosok yang berupa bayang-bayang. Untuk sesaat bayang-bayang itu terlihat bergoyang-goyang. Lalu perlahan-lahan bayangan itu mulai diam tak bergerak, lantas semakin nyata dan akhirnya  muncullah tiga sosok yang lain.
Tiga sosok  yang tak kalah mengerikannya dari dua makhluk yang dipanggil Ganda Mayit Mata Satu itu. Sosok pertama yang rupanya tadi berbicara pada dua makhluk busuk yang berdiri di depan Bunga, mengenakan jubah hitam. Jubah ini memiliki kerah yang tinggi sehingga jika makhluk ini dilihat dari samping atau belakang seakan Ia tak memiliki kepala. Namun jika orang berhadapan langsung, nyatalah dengan jelas parasnya.

Paras makhluk berjubah hitam dan berkerah tinggi ini sebenarnya tidak seburuk rupa dua makhluk yang dipanggil Ganda Mayit Mata Satu. Namun paras itu menyiratkan sesuatu yang angker. Selain karena mukanya yang terlihat pucat seperti mayat, matanya yang merah terlihat sangat dingin dan angker. Siapa pun yang menatapnya akan merasakan kengerian luar biasa. Sementara mulutnya tidak sebagaimana lazimnya mulut manusia biasa, tapi berbentuk segitiga. Makhluk ini tidak memiliki oreng yaitu alur di antara bibir dan hidungnya. Konon makhluk yang tak memiliki oreng di atas bibirnya biasanya adalah jenis makhluk halus.
 
Sementara dua sosok lainnya di sisi makhluk berjubah ini adalah dua ekor binatang hampir setinggi kuda. Kepala binatang ini mirip kepala singa, matanya berwarna merah. Binatang serupa ini pulalah yang sebelumnya ditunggangi oleh Sepasang El-maut Aneh Bawakaraeng.  Asu Pancing. Bedanya dua binatang yang ada di sisi makhluk berjubah ini berbulu lebat warna hitam dan runcing serta matanya berwarna merah. Makhluk ini bernama Asu Pancing Cucuk Hitam.

Menyaksikan kemunculan tiga makhluk lagi di tempat itu, Bunga merasa tengkuknya semakin dingin. Ia paham makhluk-makhluk mengerikan yang ada di tempat itu bukan makhluk biasa. Namun Ia sendiri tidak punya jalan untuk meninggalkan tempat itu. Dalam situasi demikian, yang terbetik dalam benak Bunga adalah sebisa mungkin menyelamatkan putranya yang masih lelapdalam gendongannya.

“Apa lagi yang kalian tunggu, cepat ringkus perempuan itu ! Ambil anaknya dan serahkan padaku”.

Kembali terdengar seruan dari makhluk berjubah hitam dan berkerah tinggi. Dua makhluk  berbau busuk, Ganda Mayit Mata Satu melangkah perlahan ke arah Bunga. Pernafasan Bunga terasa sesak oleh bau busuk yang semakin menusuk-nusuk. Kepalanya pening.    Tangannya berusaha mengambil badik Lataring Tellu dari buntalannya. Namun tangannya terasa lumpuh. Ia hanya bisa memandang membeliak ketika dua makhluk yang bergelar Ganda Mayit Mata Satu itu semakin dekat dengan dirinya. Kedua makhluk itu tiba-tiba melompat ke arah Bunga dengan tangan terentang. Rupanya mereka berdua ingin membekap Bunga dengan cara mendekapnya.

Bunga melaung, anak yang berada dalam gendongannya juga terbangun dan menangis. Insting anak ini juga menyadari bahwa mereka berada dalam bahaya. Hanya satu tombak lagi dua makhluk bergelar Ganda Mayit Mata Satu ini akan membekap Bunga yang hanya tegak bergeming, tidak bisa berbuat apa-apa, tiba-tiba terdengar teriakan menggetarkan yang mencabik suasana. Bersamaan dengan itu satu pukulan menggebu dahsyat ke arah dua makhluk Ganda Mayit Mata Satu ini.
 
Tempat itu terasa berguncang, angin menggebu dahsyat bagai topan melanda ke arah Ganda Mayit Mata Satu.  Merasakan adanya serangan berbahaya, Ganda Mayit Mata Satu membatalkan lompatan mereka ke arah Bunga. Masih di udara mereka berdua segera berjumpalitan ke belakang. Begitu keduanya tegak di atas tanah, lutut mereka terasa goyah. Cairan hijau dari lubang yang tak punya batang hidung itu semakin banyak keluar. Sementara dari matanya yang geroak tampak darah yang merembes keluar. Meski sempat menghindar keduanya tetap tersambar pukulan yang dilepaskan seseorang.
 
Bunga terhenyak di tempatnya. Di lihatnya Ganda Mayit Mata Satu tergontai-gontai, meski tidak sampai jatuh ke tanah. Sementara itu di tempatnya, sosok yang menggunakan jubah hitam, berkerah tinggi memandang lekat-lekat ke arah orang yang baru datang. Matanya yang merah bagaikan berpijar-pijar seperti api. 

Tak jauh dari tempat Bunga berdiri, kini  berdiri sosok lain dengan seekor binatang yang tak kalah angker berdiri di sisinya.   
   
“Balaki Maut dari Bawakaraeng….”. Desis makhluk berjubah hitam itu. Bersamaan dengan itusosoknya samar-samar berubah menjadi bayangan.

“Setan alas…kau datang cari mati mencampuri urusan kami”. Tiba-tiba salah satu dari makhluk yang bagian kanan mukanya geroak dan dipanggil dengan julukan Ganda Mayit Mata Satu berteriak. Suaranya meski lantang tapi terdengar sengau dan disertai dengan bunyi mendesis. Mulutnya yang sobek dan hidungnya yang gruwung membuat cara bicaranya tidak jelas dan disertai desisan seperti ular.

“He…he…he…”

Orang yang baru datang yang tak lain adalah Nenek Canning si Balaki Maut dari Bawakaraeng tertawa menimpali perkataan salah satu dari Ganda Mayit Mata Satu. Suara tawa yang  menindih teriakan makhluk muka geroak ini. Bahkan pengaruh tawa itu juga dirasakan oleh makhluk berjubah hitam yang kini membuat dirinya tersamar. Bayangan samarnya terlihat sedikit bergetar.

“Dua makhluk busuk yang kini bergelar hebat Ganda Mayit Mata Satu, bukannya kalian berdua yang sudah mati, kenapa kalian saat ini tiba muncul luntang lantung dengan rupa tak karuan di atas mayapada ini”.  Kata Nenek Canning setelah tawanya reda. Meski Ia sedang bicara pada dua makhluk yang bergelar Ganda Mayit Mata Satu, namun pandangan matanya diarahkan pada makhluk berjubah hitam yang kini muncul seperti bayang-bayang saja.

“Tak usah banyak bicara nenek peyot. Sekarang....!, tinggalkan tempat ini dan jangan campuri urusan kami !” Perintah salah seorang dari makhluk bernama Ganda Mayit Mata Satu ini.
 
“Begitu...?” Bertanya Nenek Canning, namun tak menunggu jawaban Ia lantas melanjutkan ucapannya. “Untuk apa aku mencampuri urusan makhluk busuk sepertimu. Wujudmu saja sekarang ini tak jelas juntrungannya,  entah manusia entah siluman....hi..hi..”. Nenek Canning mengakhiri ucapannya sambil terkekeh. Namun begitu selesai tawanya, nenek Canning tiba-tiba menatap tajam ke arah Ganda Mayit Mata Satu dan melanjutkan perkataannya dengan tandas.
 
“Aku akan pergi dari sini, tapi dengan perempuan bersama anaknya itu”.

“Balaki Maut dari Bawakaraeng, selama ini kita tidak pernah berurusan. Saya tidak pernah mencampuri urusanmu, aku harap kali ini engkau tidak mengganggu pula urusan kami”.
 
Yang bicara kali ini adalah makhluk berjubah hitam yang hanya berupa bayangan itu. Suaranya lagi-lagi menggaung aneh seperti berasal dari satu liang yang dalam. Tetapi yang hebat adalah pengaruh suaranya. Tanah yang dipijak bergetar, sementara dedaunan bergoyang-goyang, beberapa malah rontok ke tanah. Bunga yang tidak memiliki tenaga dalam yang tinggi merasakan telinganya mendenyut sakit, dadanya seperti di himpit. Anehnya ketika dia perhatikan anaknya dalam gendongan, anak itu tampak tenang saja. Bahkan anak itu terlihat mulai tertidur lagi.

“Aku tidak mencampuri urusanmu Siluman yang berasal dari Puncak Utara Lompobattang, bergelar Pangeran Kegelapan, tapi aku berkepentingan dengan perempuan dan anaknya itu. Timpal Nenek Canning  sambil menyebut dengan jelas gelar makhluk berjubah hitam itu. Suaranya juga membuat tanah yang dipijak bergetar. Dua makhluk yang bergelar Ganda Mayit Mata Satu merasakan telinganya juga seperti dicucuk jarum. Kedua makhluk itu segera mengerahkan hawa murni ke telinganya. Anehnya Bunga yang tadinya merasa telinganya mendenging sakit dan dadanya sesak, perlahan-lahan tidak merasakan lagi. Telinganya tidak berdenyut-denyut dan dadanya terasa longgar.

“Tapi...., aku juga tidak suka diperintah-perintah oleh dua makhluk busuk bermuka geroak itu. Suruh dia berhenti bicara ! Atau mulut mereka akan aku sobek semakin lebar lagi” Lanjut Nenek Canning, sambil menudingkan telunjuknya tepat-tepat pada Ganda Mayit Mata Satu.

“Ho’....o...Apa boleh buat, kalau kau bersikeras.Hari ini kita akan lihat seberapa hebatnya orang yang bergelar Balaki Maut dari Bawakaraeng. Aku akan menjajal ilmu silatmu yang hebat dan terkenal di delapan penjuru angin itu”  Ucap Pangeran Kegelapan terkesan memuji Nenek Canning. Namun sambil berkata demikian bibirnya menyunggingkan senyum mengejek. Begitu senyumnya pupus dari bibirnya. Terdengar teriakannya yang seakan berasal dari liang yang dalam itu,  lantang menggema mengoyak malam.

“Ganda Mayit Mata Satu, lanjutkan tugasmu, ringkus perempuan bersama anaknya itu, biar nenek rongsokan ini aku yang pesiangi”
Begitu selesai ucapannya. Pangeran Kegelapan yang saat itu masih menyamarkan dirinya seperti bayangan melesat ke arah Nenek Canning. Dua tangannya yang hanya berupa bayang-bayang lurus mencakar ke depan. Dua binatang yang menemaninya, Asu Pancing Cucuk Hitam ikut menerjang ke arah Nenek Canning.

Bersamaan dengan melesatnya Pangeran Kegelapan beserta dua binatang peliharaannya, Ganda Mayit Mata Satu juga melompat ke arah Bunga. Nenek Canning untuk sesaat tergagu. Ia harus menyelamatkan Bunga, tapi serangan ke arahnya oleh Pangeran Kegelapan juga sangat berbahaya.
 
Masih setengah jalan serangan dari Pangeran Kegelapan itu, Nenek Canning  sudah merasakan hawa dingin dan bau  yang menyesakkan nafas. Di saat yang sama dua binatang Asu Pancing Cucuk Hitam menggoyangkan badannya. Bulu-bulu hitam yang seperti jarum-jarum tajam melesat ke arah Nenek Canning.

“Serangan Pangeran Geblek dan peliharaannya itu berbahaya dan mengandung racun, aku harus menghadapinya dulu, baru menyelamatkan Bunga” Batin Nenek Canning. Tangannya kemudian mengusap kalung Warisan Alam Gaib di lehernya. Bersamaan dengan itu nenek Canning menghantam ke depan dengan pukulan yang sama ketika Ia menghantam Ganda Mayit Mata Satu. Inilah pukulan Topan Lembah Menindih Bukit. Pukulan ini tidak mengeluarkan sinar apa-apa, tapi kekuatannya seperti topan yang bergulung-gulung menghantam bukit. Begitu selesai menghantam ke arah Pangeran Kegelapan, Nenek Canning segera berbalik arah. Ia ingin  melepas pukulan yang sama ke arah Ganda Mayit Mata Satu.
 
Dalam situasi seperti itulah tiba-tiba terdengar suara.

“Aih...aih....dua makhluk busuk bermuka  setan itu serahkan padaku Daeng..., kau hadapilah siluman tak jelas dari Lompobattang yang menjuluki dirinya Pangeran Kegelapan  itu”.

Dua sosok melesat dalam gelap, satu langsung menerjang ke arah Ganda Mayit Mata Satu, satunya lagi yang rupanya adalah seekor binatang berbulu putih melompat ke arah dua ekor Asu Pancing Cucuk Hitam yang sedang menerjang ke arah nenek Canning.

Bersambung...

 

  • 113 Dibaca