Para Korban dan Pernyataan Perang Kahar Muzakkar Melalui Piagam Makalua

  • 19-08-2017

Membaca Motif Gerak DI/TII di Sulawesi Selatan (Bagian 4)

Seputarsulawesi.com - Kahar Muzakkar menyatakan dukungan terhadap DI/TII pimpinan Kartosoewirjo di Jawa Barat, pada 20 Januari 1952. Ia pun diangkat sebagai panglima Divisi IV TII (disebut pula Divisi Hasanuddin). Pada 1 Januari 1955, Kahar menjadi Wakil Pertama Menteri Pertahanan NII yang meliputi seluruh wilayah Republik Indonesia. Semenjak itu, beragam teror pun terjadi.

Eko Rusdianto, dalam penelusurannya mengenai kesaksian tentang Kahar Muzakkar yang dimuat di Historia.id, memaparkan beragam aksi yang dilakukan oleh pasukan DI/TII. Aksi itu termasuk menghilangkan praktik-praktik tradisional di Sulawesi Selatan dan menghapuskan penggunaan gelar-gelar bangsawan seperti Andi, Daeng, Puang, Bau, dan Opu.

Bahkan, dicetuskanlah Piagam Makalua yang menyatakan perang terhadap bangsawan, juga kelompok mistik. “Maka tak heran, dalam piagam Makkalau dinyatakan perang terhadap aristokrat yang tidak mau membuang gelarnya, demikian pula terhadap kelompok-kelompok mistik yang fanatik,” tulis Van Dijk dalam Darul Islam, Sebuah Pemberontakan (1992).

Di wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepuluan (Pangkep) Sulawesi Selatan, pasukan DI/TII melakukan Operasi Toba’ (Tobat). Mereka memburu para waria dan bissu, yang kemudian dipaksa untuk memakai pakaian maskulin dan melakukan pekerjaan laki-laki seperti mencangkul dan menggarap sawah. Jika tidak melakukan hal tersebut, nyawa menjadi taruhannya.

Bissu Saidi (almarhum) dalam wawancaranya dengan Historia, mengenang peristiwa tersebut sebagai sebuah bencana yang mengerikan. Ia bersama teman-temannya melewati hutan dan berlari menuju Bone. “Kalau didapati, digerekki nak,” katanya.

Komunitas Tolotang di Kabupaten Sidrap pun mengalami hal yang serupa. Kelompok DI/TII menganggap Komunitas Tolotang sebagai “penyembah berhala”. Banyak orang Tolotang yang dikejar-kejar oleh gerombolan DI/TII.

“Pada masa itu orang Tolotang juga melakukan perlawanan, di antaranya dengan bergabung menjadi pasukan sukarela yang membantu TNI memerangi Kahar Muzakkar dan kawan-kawan,” tulis Heru Prasetia, Riwayat Tolotang; Narasi Kecil yang Terlupakan (2010), dalam buku Agama dan Kebudayaan; Pergulatan di Tengah Komunitas.

Saprillah, dalam tesisnya Siasat Lokalitas; Studi Tentang Cara Komunitas Tolotang Mempertahankan Indentias (2006), juga memaparkan teror yang dilakukan oleh pasukan DI/TII terhadap komunitas Tolotang. Pada zaman DI/TII, menurut uwa’ Toboriu (Salah seorang tokoh komunitas Tolotang), komunitas Tolotang menjadi salah satu sasaran tembak DI/TII. Dugaan ini muncul karena paradigma gerakan DI/TII yang cenderung puritan.

“Keluarga Tolotang yang hidup di luar Amparita seperti daerah Otting (Tanru Tedong) mengalami peristiwa menyedihkan. Uwa’ menuturkan, bahwa saat itu keluarganya banyak yang meninggal,” papar Saprillah.

Komunitas lain yang mendapat teror dari gerombolan DI/TII, selain komunitas Bissu dan Tolotang adalah Komunitas Cerekang di Luwu dan Jemaah Bawakaraeng. Semua komunitas ini mengalami tekanan fisik yang luar biasa seperti pembunuhan dan pemusnahan benda-benda ritual kepercayaan lokal. Kelompok-kelompok masyarakat yang dianggap sebagai “penyembah berhala”, akan segera dimusnahkan.

Selain komunitas lokal, gerombolan DI/TII juga meneror penganut agama lain. Mereka memaksa penganut agama lain untuk berpindah agama, dan memeluk agama islam. Melansir dari Historia.id, Thomas Lasampa, seorang tokoh adat Padoe, terpaksa belajar membaca Alquran demi bertahan hidup. Ia bahkan menghafal beberapa ayat Alquran dalam surah Al-Baqarah beserta terjemahannya, “Kalau tidak seperti itu, pasti kita sudah dibunuh,” katanya.

Begitu juga dengan Sabaruddin, seorang Nasrani taat yang mampu membaca Alquran dengan fasih. Ketika kampungnya diserang oleh DI/TII, pada 1958, semua warga mengungsi. Di beberapa lokasi pengungsian yang terjangkau oleh pasukan DI/TII, semua wajib masuk islam. “Akhirnya saya belajar mengaji pertama kali tahun 1958,” katanya pada laman historia.

Di Seko, Kabupaten Luwu Utara, masyarakat setempat juga tak luput dari penindasan gerombolan DI/TII. Sejak awal tahun 1950-an, masyarakat Seko menghadapi kenyataan derita penindasan dan kekejaman. “Masyarakat Seko menolak berpindah ke Agama Islam. Masyarakat Seko mengungsi ke daerah-daerah tetangga di Kalumpang (Karama, Karataun) sampai Tanah Toraja dan ke Lembah Palu,” tulis Zakaria J. Ngelow dan Martha Kumala Pandonge (eds), dalam buku Masyarakat Seko Pada Masa DI/TII (1952-1965) - (2008).

Zakaria J. Ngelow juga mengungkapkan cerita pembunuhan terhadap warga Seko di pengungsian. Pada tahun 1962, Gereja Toraja mengirimkan proponen muda ke wilayah pengungsian, tetapi para proponen tersebut dibunuh oleh gerombolan DI/TII. Selain para proponen, Kepala Distrik Seko, 30 pemuka adat dan warga Seko di pengungsian turut menjadi korban.

Tak hanya itu, pasukan DI/TII juga menyerang kelompok ideologi berbeda. Andi Nyiwi, Koordinator BAJAK (Barisan Anti Jawa Komunis) di palopo, mengatakan bahwa komunis tak boleh hidup di Indonesia karena itu adalah paham tanpa agama. BAJAK bertugas menandai dan mengawasi para pendatang yang berhaluan komunis. Ketika ada yang terdeteksi maka akan langsung dibunuh.

Teror yang dilakukan DI/TII, juga memutus rantai perekonomian di daerah-daerah pelosok. Petani-petani kopi di Enrekang dan Toraja tidak bisa memasarkan hasil pertanian mereka ke Kota. Hal itu karena, jalur-jalur penghubung utama antar wilayah telah dihancurkan. Penghadangan dan perampasan juga marak dilakukan oleh gerombolan DI/TII, kepada para petani.

Banyak akses utama yang digunakan untuk suplai bahan pangan, tidak bisa digunakan akibat dikuasai oleh gerombolan DI/TII. Van Dijk dalam Darul Islam Sebuah Pemberontakan, menuliskan ada beberapa daerah yang bahkan menderita kekurangan pasokan pangan, pada tahun 1950-an. Dan pada akhir tahun 1963, dilaporkan terjadi kekurangan pangan di seluruh Sulawesi Selatan.

Begitu banyak teror dan nyawa yang melayang sejak pergolakan Kahar Muzakkar di mulai antara tahun 1950-1965. Ribuan orang kehilangan orang tua, anak, keluarga, dan akhirnya hidup sebatang kara. Banyak juga yang dipisahkan dari kebudayaan dan kepercayaan lokal mereka. Juga, intimidasi terhadap penganut agama selain islam, yang kadang berujung pada kekerasan fisik.

 

baca juga: Membaca Motif Gerak DI/TII di Sulawesi Selatan (Bagian 1)

                      Penataan Militer (TNI), Kronologi Awal Perlawanan Kahar Muzakkar

                      Naga Merah Dalam Gerak Kahar Muzakkar

Post Tags: