Pasar Jangan Memanfaatkan Corona

  • 21-03-2020

Berdasarkan penelusuran saya ke beberapa situs berita arus utama, bahwa data terbaru sampai dengan 15:49 WIB seperti yang dilansir oleh news.detik.com total total kasus positif virus Corona (COVID-19) melonjak menjadi 172 orang.

Untuk kasus yang meninggal dunia disebutkan masih sama, yaitu 5 orang. Jika dibandingkan data terakhir yang dirilis oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui akun YouTube yaitu ada kenaikan sebanyak  38 orang dari data sebelumnya 134 orang.

Dari pemberitaan awal mengenai virus Covid-19, jika diamati bahwa penyebarannya cukup signifikan. Tiba-tiba membawa Indonesia pada posisi kedua dengan presentase kematian yang cukup signifikan.

Dari 96 orang yang positif terpapar virus Corona atau Covid-19, 5 di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Tingkat kematian (death rate) karena Covid-19 sebesar 5,2 persen data tersebut pertanggal 15 Maret 2020 dari www.brito.id.

Peringkat pertama diduduki oleh Itali dengan jumlah orang yang terinfeksi virus Corona sebesar 17,660 dengan total kematian 1.266 orang. Alhasil, tingkat kematian di negara ini sebesar 7,2 persen.

Kemudian peringkat ketiga ditempati oleh Iran dengan orang yang terjangkit virus itu sebesar 11.364 dengan total kematian 514 orang atau 4,5 persen.

Berikut tingkat kematian orang akibat virus Corona di berbagai negara menurut analis John Hopkins University & Medicine:

1. Italia = 1266 : 17660 = 7.169%.

2. Indonesia = 5 : 96 = 5.20%.

3. Iran = 514 : 11364 = 4.523%.

4. Cina = 3180 : 80945 = 3.929%.

5. dst

Sumber: Sindonews.com

Berdasarkan data tersebut, pemerintah pusat langsung melalui Presiden Republik Indonesia menerbitkan Keppres nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Guna mempercepat proses komunikasi dan koordinasi antara kementerian, lembaga hingga pemerintah daerah. Sehingga langkah-langkah yang diambil dalam penanggulangan virus tersebut terukur dan massif.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa virus corona tidak bisa dilihat, namun hanya bisa dideteksi lewat gejala medis. Dan hal tersebut tidak cukup untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Harus ada pembatasan kontak fisik antar manusia dengan meminimalkan keramaian.

Hal tersebut sudah diintruksikan oleh Presiden bahwa dalam jangka 14 hari kedepan semua instansi liburkan dan pindah bekerja di rumah masing-masing. Sekolah dan Perguruan Tinggi merespon dengan sangat  baik yaitu mengalihkan perkulian berbasis online.

Jajaran kementerian kesehatan diturunkan secara maksimal sebagai ujung tombak pemerintah dalam penggulangan dan pencegahan penyebaran virus corona. Dengan cepat mereka membuat buku pedoman penanggulangan dan pencegahan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.

Tenaga medis standby disetiap bandara untuk mendata dan memastikan bahwa setiap orang yang keluar atau masuk dari daerah ke daerah (domestik) dan dari luar ke dalam negeri (internasional) terpantau. Dan yang terpenting adalah mereka terbebas dari gejala-gejala yang mengarah pada virus corona.

Pemerintah juga telah menetapkan bahwa virus corona sebagai bencana nasional dan memerintahkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana memimpin percepatan penanganan penyakit menular yang kini telah terdeteksi di delapan provinsi.

Dari sekian banyak usaha yang diupayakan oleh pemerintah, tentu masih banyak celah dan kekurangan. Seperti beberapa yang disampaikan oleh segelintir orang yang mengkritisi kebijakan pemerintah, tentu dengan berbagai pertimbangan dan sudut pandang yang berbedah.

Namun, menurut saya jika kita melihat sebuah celah dan potensi yang dapat memperbesar penyebaran virus corona saya kira hal tersebut adalah perkerjaan yang disisakan oleh pemerintah untuk kita sebagai warga negara.

Bukankah semua yang dilakukan oleh pemerintah tidak lain kecuali untuk warga negaranya. Celah dan potensi tersebut merupakan keterbatasan yang dimiliki pemerintah. Pemerintah telah mengerahkan kemampuannya beserta seluruh jajarannya.

Saatnya seluruh masyarakat dan pihak swasta (corporasi atau pasar) mengambil peran. Misalnya dengan mamatuhi pedoman yang telah diterbitkan oleh kementerian kesehatan, melaksanakan himbauan Presiden dengan tinggal dan bekerja di rumah, menghindari keramaian dan alat transportasi massal.

Dan jangan ada yang memanfaatkan situasi ini untuk keuntungan pribadi, kelompok dan corporasi atau pasar. Misalnya, menimbung persedian masker, hand sanitizer dan bahan kebutuhan pokok.

Mengingat ketiga persediaan tersebut merupakan kebutuhan pokok saat ini. Jangan karena permintaan meningkat corporasi atau pasar kemudian menimbun persedian dan memonopoli penjualan dengan harga yang sangat tinggi untuk keutungan pribadi.

Kemudian jangan membangun sebuah kepanikan dengan menyebar informasi hoax agar masyarakat membeli persediaan bahan kebutuhan pokok sehari-hari secara berlebihan dengan dalih akan terjadi kelangkahan untuk mencapai keuntungan pribadi.

Pemerintah telah melakukan study dan simulasi atas ketersediaan bahan kebutuhan pokok, dan telah menjamin bahwa ketersediaan bahan kebutuhan pokok siap untuk waktu yang akan datang.

Antara Negara satu dengan yang lain dalam penanggulangan dan pencegahan virus corona khusunya terkait ketersediaan bahan kebutuhan pokok tentu berbeda karena kondisi wilayah dan geografis. Untuk Indonesia, saya kira dapat dikendalikan dengan baik, mengingat hampir semua kebutuhan pokok kita berasal dari dalam negeri.

Berbeda dengan beberapa Negara yang harus diimpor dari Negara lain, namun pemerintah lewat kepolisian harus melakukan pengawasan dan pengendalian agar pasar tidak mengambil manfaat dengan melakukan penimbunan dan monopoli penjualan dengan harga tinggi.

Perlu kita sadari bahwa keberhasilan beberapa negara dalam menekan penyebaran virus corona adalah hasil kerjasama yang sangat baik antara pemerintan, masyarakat, corporasi dan atau pasar. Oleh karena itu, jika Indonesia ingin menakan penyebaran virus corona dibutuhkan sinergi seluruh lapisan masyarakat.

Penulis: Muhammad Aras Prabowo

(Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia)

Post Tags:

Opini