Pemuda dan Tantangan Dunia Digital

  • 26-03-2020

28 Oktober 1928 silam adalah sebuah momentum tonggak perubahan bangsa dan kebangkitan para pemuda. Kala itu, para pemuda berkumpul untuk mengusung satu konsensus yang di kenal dengan Sumpah Pemuda; bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

Kala itu, keterlibatan pemuda dalam setiap momentum perubahan tak pernah absen. Mengisi ruang-ruang produktif demi menjaga marwah dan martabat bangsa. Peranan pokok angkatan muda pada permulaan revolusi nasional Indonesia tahun 1945 adalah kenyataan politik yang paling menonjol pada zaman itu.

Bagi Belanda yang sedang berusaha datang kembali dan Inggris sekutu mereka, dan juga bagi masyarakat-masyarakat Indo dan Tionghoa, kata pemuda, yang dulu “biasa saja” dengan cepat memperoleh pancar cahaya yang menakutkan dan kejam (David Wehl, 1948: 146).

Artinya, pemuda adalah salah satu elemen bangsa yang tak bisa dihilangkan dalam sejarah perjuangan Indonesia. Seiring dengan itu, laju pergolakan politik di dunia kemudian ikut dirasakan dalam fase perubahan zaman di Indonesia. Pra dan pasca kemerdekan seiring dengan muncul revolusi industri menjadi satu kesatuan yang harus dijawab oleh para pemuda hari ini.

Revolusi Industri 1.0 (Kapitalisme Mendunia), Revolusi Industri 2.0 (Sosialisme), Revolusi Industri 3.0 (Neo-Liberal) dan Revolusi Industri 4.0 (Transformasi). Fase perubahan zaman tetap berjalan, fase perubahan zaman itu harus diterjemahkan secara utuh oleh para pemuda hari ini.

Tantangan Dunia Digital

Tantangan di era digital hari ini antara lain; Hoaks, tempat yang paling disenangi hoaks adalah media sosial. Penulis menganggap bahwa hoaks adalah salah satu simulasi menuju ujaran kebencian dan kekerasan.

Dengan bekerjanya hoaks secara masif maka akan bertransformasi dari alam pikiran menuju tindakan yang telah diframing oleh oknum tertentu di media sosial. Sehingga berbahaya jika orang lain yang melihatnya tidak menerjemahkan secara utuh atas informasi tersebut.

Proses tranformasi dari alam pikiran menuju ujaran kebencian dan kekerasan menjadi bagian dari hipermoralitas. Bersamaan dengan berkembangnya unreason dari irasionalitas, berubah pula pandangan moral di dalam masyarakat kita.

Apa yang kita lihat hari ini, kaburnya batas-batas moral. Kini, apa pun tidak dapat lagi kita lihat dari kacamata moralitas biasa.

Berikutnya, Sumber Daya Manusia (SDM), perubahan zaman tak boleh dibantah sebab ia adalah keniscayaan. Era digital dengan narasi besar Revolusi Industri 4.0 menuntut adanya percepatan dalam pembangunan kualitas dan kapasitas SDM.

Narasi besar Revolusi Industri 4.0 dengan kualitas dan kapasitas SDM yang belum siap merupakan sebuah tantangan tersendiri yang harus segera disadari. Ikut dalam narasi besar seperti Revolusi Industri 4.0 selain kualitas dan kapasitas dibutuhkan kesiapan mental. Sebab, jika beberapa indikator kesiapan tersebut tak ada di kita, itu artinya bahwa Revolusi Industri hanya sebuah ilusi.

Kesiapan SDM dari segi kualitas tak hanya bertumpu pada teori-teori dan konsep-konsep tetapi yang lebih penting dari itu adalah kesiapan soft skill. Soft skill dalam bidang teknologi harus dianggap sebagai tantangan yang seharusnya dibenahi sedari dini.

Salah satu metode untuk mengimbangi arus besar itu ada pada kolektifitas SDM antara konsep, soft skill dan hard skill. Pertanyaannya, Revolusi Industri 4.0 membuka gerbangnya sanggupkah kita menguyusun rencana strategi dan eksekusi itu?

Selajutnya, Minat Baca, menanamkan minat baca pada masyarakat ini menjadi satu kesatuan tantangan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Menurut survei Studi Most Littered Nation In The World 2016 menyatakan bahwa minat baca Indonesia sangatlah rendah. Sebab, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara.

Arus besar dengan kualitas SDM yang belum siap hanya akan menjadikan bangsa sebagai pengikut. Namun kita tak boleh skeptis, setiap masalah ada jalan keluar dan setiap tantangan ada penyelesaian masalahnya.

Penulis: Fathullah Syahrul

(Staf di LAPAR Sulawesi Selatan/Mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Padjadjaran)

Post Tags:

Opini