Penyembahan dan Kemusyrikan


Seorang kawan yang pernah kuliah di luar negeri bercerita. Suatu saat, Ia melaksanakan salat di salah satu ruangan di kampusnya. Karena ruangan tersebut bukan Musala, maka banyak orang yang lalu lalang.  Agar orang lain tidak  mondar-mandir di depannya, Ia merasa perlu memberi penanda. Celangak-celinguk  mencari, tak ada, kecuali sebongkah batu. Jadilah batu tersebut diletakkan di hadapannya sebagai penanda.

Salat berlangsung lancar, aman dan sentosa  karena tidak ada orang yang hilir mudik di depannya sampai salat usai digelar. Salah seorang teman kuliahnya ternyata memperhatikan Ia salat, termasuk ketika ia meletakkan batu di depannya . Temannya ini berasal dari Barat dan bukan pemeluk agama Islam. Yang membuatnya terperangah adalah pertanyaan temannya itu;

 “Apakah kamu penyembah berhala?” Setelah rasa kagetnya hilang. Ia pun bertanya kepada temannya yang orang Barat itu mengapa Ia dianggap menyembah berhala. Temannya ini pun lantas menjelaskan perasaan herannya dengan praktik salat yang dilakukan, termasuk menyusun batu di depannya. Cara itu dianggapnya sebagai penyembahan berhala.

Teman saya itu tergelak, lantas kemudian menjelaskan apa yang dilakukannya. Setelah semuanya jelas, keduanya pun berderai-derai bareng-bareng. Tentu saja mereka berdua merasa lucu dengan peristiwa tersebut. Mungkin teman saya itu hanya sekedar memberi penanda agar tidak terganggu salatnya, tetapi sejatinya hampir semua agama membutuhkan simbol-simbol, atau tanda tertentu agar pemeluknya bisa merasakan kehadiran Tuhan yang disembahnya.

Simbol itu tentu bukan Tuhan, tapi hanya melalui itu para umat beragama bisa meraba dan mendekatkan Tuhan dalam alam pikiran dan rasa mereka. Tuhan yang Maha segalanya dan meliputi segenap mayapada tentu tak terjangkau oleh alam pikiran bahkan rasa manusia biasa, simbol mendekatkan mereka. Maka dalam Islam dikenal Allah, dalam Kristen ada Tuhan Bapak, Yehuwa, To ri Akra’na di Kajang, Dewwata Sewwae di Bugis dan seterusnya.

Dalam ritual ibadah pun mereka membutuhkan simbol. Orang Islam menjadikan Kabah tempat menghadap. Yahudi membutuhkan tembok ratapan di Yerussalem untuk memuja. Kristen memerlukan tanda salib atau patung Yesus di altar peribadatannya, Budha menghajatkan patung Budha untuk berkhidmat dst. Komunitas lokal pun demikian, mereka butuh simbol tertentu dalam altar ibadahnya. Boleh jadi simbol itu berupa batu, pohon atau simbol lainnya. 

Apakah mereka sedang melakukan kemusyrikan atau sedang menyembah berhala? Tentu tidak kalau memandang dari kaca mata masing-masing penganutnya, tapi sangat mungkin disalahpahami oleh penganut agama lain. Di sinilah pentingnya untuk memahami ritual yang mereka lakukan dari sudut pandang  penganut agama bersangkutan.

Sejauh kaki saya melangkah di komunitas lokal atau adat, saya memang sering menemukan ritual di seputar tempat-tempat tertentu, misalnya di dekat batu, di hadapan pohon atau di seputar kuburan. Tapi semua satu suara, mereka tidak memuja batu, pohon ataupun kuburan tersebut. Sama halnya tentu orang Islam pun tidak berhikmat pada kabah, Kristen tidak menyembah salib atau Yahudi tidak sedang memuja tembok ratapan.

Ada yang bertanya; “Tapi mereka Islam, mengapa simbol dalam altar pemujaannya berbeda ? “Mungkin karena Kabah sebagai simbol itu masih jauh pula dari jangkauannya.” Begitu saya jawab.  “Tapi itu bisa membuat noda dalam sistem keagamaan kita ?” Tanyanya lebih lanjut tak mau kalah.  “Baiklah mari kita ajak mereka untuk menjadikan Kabah satu-satunya simbol tempat menghadap, tentu dengan cara-cara bijak, santun,  dan transformatif . Tapi perlu diingat bukankah Allah sendiri sudah menyatakan dalam Al-Baqarah 77” :

 “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke Barat atau ke Timur itu suatu Kebajikan. Tetapi kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa....”

Dengan kata lain bukti penyembahan kita pada Allah adalah keimanan yang bersemayam kokoh dalam hati dan  amal saleh yang memancar kepada sesama manusia.  Itulah mungkin, mengapa para sufi tidak membutuhkan simbol-simbol lagi. Rabiah al-Adawiyah tidak membutuhkan Kabah, sebab seluruh hatinya dipenuhi kecintaan pada Pencipta dari Kabah tersebut. Rumi tak butuh simbol bahkan tak butuh altar penyembahan, karena dalam dirinya telah dipenuhi oleh kelezatan iman pada Sang Pencipta.  Untuk apa membutuhkan seluruh benda-benda simbolik ciptaan dari Sang Maha Segalanya jika Dia sendiri telah mengisi seluruh bilik batin dari hamba-Nya?  Tak ada lagi ceruk yang tersisa dalam sanubarinya untuk selain Sang Pencipta, bahkan untuk dirinya sendiri.

Penulis: Ijhal Thamaona

(Dewan Pembina GUSDURian Makassar)

Tag :

  • 117 Dibaca