Perang Asimetris Dari Diplomatik Qatar - Saudi


Oleh : Ikhlasul Amal Muslim

Ada kalanya menyimak berita di Negara teluk, yang termasuk dalam poros mayoritas sunni. Berita yang mencengankan publik adalah pemutusan hubungan di plomatik antara Arab Saudi dan Qatar. Kedua Negara ini bermayoritaskan sunni, ada apa sebenarnya mereka memutuskan hubungan diplomatik padahal begitu mesranya hubungan diplomatik mereka.

Tapi begitulah pertatungan sekarang, mungking kita sering dengar adagium “ setiap tujuan niscaya membawa korban”. Begitulah kerasnya kerja sama antar negara sampai harus memutuskan negara yang sudah mesra beberapa tahun lamanya, tak memandang lagi mahsab melainkan sebuah kepetingan.

Dari beberapa sumber media berita yang pernah kubaca hampir secara keseluruhan merujuk pada pemberitaan Qatar (QNA). Isi pemberitaan yang di rilis di kantor berita Qatar (QNA), ucapan Emir Qatar, Sheikh Tamin bin Hamad Al Thani yaitu “ Tidak ada kebijaksanaan dalam menyembunyikan permusuhan terhadap Iran”  Katanya laporan QNA ini telah di hapus.

Inilah jadi bahan petimbangan Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatiknya sebab dalam lontaran sang Emir seakan memberikan pernyataan adanya ketegangan antara dunia Islam dengan Trump sekaligus memberikan sebuah Asumsi bahwa Iran notabene musuh Arab Saudi cs mengagumi Iran sebagai kekuatan Islam terbesar.

Emir pun mengatakan hubungan Israel berjalan dengan “ baik” dan bahwa Hamas adalah perwakilan orang - orang resmi palestina. Secara, Hamas sebagai organisasi telah berafiliasi dengan organisasi Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi terlarang di Arab Saudi dan Mesir.

Disisi lain pula QNA membantah penyiaran berita tersebut adalah fake News / Hoax. Kantor berita QNA mengaku bahwa ada yang meretas stasiun televisi teresebut, sehingga Emir dalam video tersebut kedengaran melontarkan  kata – kata yang mengundan kontroversial. Hingga Saudi menjadikan alasan utama untuk memutus hubungan diplomatiknya dengan Qatar. 

Maka dari itu Qatar mengambil sikap, meminta pemerintah Amerika Serikat untuk mengirim intelejen FBI ke Doha, demi membuktikan peretasan stasiun televisi tersebut telah diretas. Namun hal tersebut tidak mengubah pernyataan pemerintah Arab Saudi, tetap percaya dengan ucapan Emir. Dari ketidak percayaan Saudi dengan peretasan kantor berita tersebut, beberapa negara teluk  telah melakukan pemutusan hubungan di plomatik setelah Saudi Press Agency (SPA) di antaraya Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Jordania. Kemungkinan masih bertambah negara  memutuskan hubungan di plomatik di sebabkan afrika barat merestui pemutusan hunbungan di plomatik dengan asumsi bahwa Qatar mendukung gerakan terorisme.

Kerja Sama Sponsor Teroris

Rakuman penjelasan pemutusan hubungan dipomatik Arab saudi dan beberapa negara teluk lainya. Membuat saya harus mengambil kajian strategis Deep Stoat, bahwa konflik di timur tengah tak akan pernah jauh di permasalahan Minyak dan gas bumi karna itulah komiditi paling sexy untuk di dunia. “if you would understand world geopolotic today, follow the oil” itulah kata Deep Stoat. Jika ingin menkaji sebuah kejadian mencengankan di timur tengah ikuti saja aliran Minyak dan gas.

Perihal tentang berita QNA yang menjadi penyebab pemutusan hubungan diplomatik Saudi, hanyalah di jadikan sebagai alasan utama. Namun disisi lain ada hal penting yang membuat saudi mengambil sikap pemutusan diplolmatik, dikarenakan Qatar di isukan telah membeli minyak  dari Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) dan qatar telah membangun kerja sama  secara intens dengan Iran. Itulah dua faktor isu yang menyebabkan Saudi memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar.

Permbelian minyak ISIS dan kerja sama dengan berberapa organisasi separatis, seperti Hamas palestina yang getol melawan Israel, Al – qaeda dan Ikhwanul Muslimin, kesemua organisasi yang di ajak kerja sama adalah organisasi terlarang di Negara Arab Saudi dan Mesir. Dengan isu kerja sama tersebut membuat Arab Saudi begitu gesit mengambil gerakan mereka dengan memutuskan hubungan diplomatiknya, dan kemungkinan apa yang di sampaikan oleh kantor berita QNA bahwa kantor televisinya diretas bisa jadi itu termasuk dalam rancangan Arab Saudi untuk bisa memberikan alasan utama mereka untuk memtuskan hubungan diplomatiknya. Jika gerakan retas di temui dan di dibuktikan oleh tim FBI Amerika Serikat bahwa kantor QNA diretas. Apakah arab Saudi ingin mencabut pemutusan hubungan dipolamtiknya? Retorika sulit untuk di jawab.

Tidak mudah bagi Arab Saudi untuk mencabut kembali pemutusan hubungan diplomatiknya dengan Qatar, sebab ada hal yang mengganggu stabilitas kawasan dengan kerja samanya Qatar dengan organisasi separatis. Di tambah pula dengan pernyataan iran dengan kemunculan imam mahdi sebagaimana pernyataannya  bahwa imam mahdi akan muncul di Mekkah, bukan di Teheran dan Damaskus

Dapat memberikan asumsi bahwa anggapan Iran tentang Imam Mahdi adalah juru selamat bagi mereka. Mengantar sebuah maksud bahwa Iran akan menunggu masa kejayaannya sebagai Negara Islam baru yang menronrong kerjaan Saud yang  di anggapnya sebagai penguasa zalim dan emir diktator. Oleh karena itu Arab Saudi menelusuri negara – negara teluk yang berkerja sama dengan Iran dan Qatarlah menjadi korbannya pemutusan hubungan diplomatik.

Qatar dan Jadi Korban dari Iran Vs Amerika

Pemutusan hubungan diplomatik lewat SPA membuat Qatar mengalami luka – luka sosial politik dan kerusakan aspek lainnya. Kejadian ini lansung merebak di perekonomiannya, banyaknya warga Qatar berlomba – lomba ketokoh untuk membeli bahan pokok mereka di sebabkan akan ada blokade ketiga negara teluk memblokade dari Arab Saudi cs yang berakibat kurangnya bahan makanan. Di parawisata di serang dengan putusan tersebut membuat beberapa perbatasan di tutup, lalu lintas udara dan laut dengan Qatar mulai selasa kemarin. Bahkan yang lebih luar biasanya warga Qatar yang berkujung ke tiga negara Uni Emirat Arab, Mesir dan Arab Saudi meberikan waktu dua minggu untuk berkujung ketiga negara tersebut begitupun sebaliknya ketiga warga negara yang berkunjung ke Qatar di berikan waktu dua minggu untuk pulang ke negaranya.

Ketegasan ini di ambil bersifat mutlak demi menjawan stabilitas keamanan kawasan negara teluk. Begitu juga dengan Qatar menarik kembali pasukannya di Yaman untuk menjaga stabilitas keamanan nasional. Beberapa negara negara sudah mulai memberikan sikapnya kritik kepada Qatar akan isu kerja sama dan ekspor – impor minyak dengan ISIS.

Di satu sisi pula Iran beranggapan bahwa ini adalah permainan intelen Amerika Serikat untuk meretas hubungan antara Qatar dan Saudi, korbannya adalah Qatar. Kementrian intelejen Iran masih menganggap intelejen Amerika serikat salah satu terbaik di dunia. Oleh karena itu pula Amerika Serikat berani melepas Qatar di tangan Arab saudi akan tetapi tetap di lepas kepalanya tapi ekornya tetap dipegang sebab di balik pelepasan ini, ternyata sudah ada 11.000-an tentara pangkalan yang justru berada di Qatar salah satunya pengiriman FBI.

Di balik pemutusan di Plomatik yang di dalangi oleh Trump sebenarnya ujun – ujunnya perebutan minyak dunia. Disamping itu pula Trump melihat Qatar memiliki kemesraan dengan Rusia di pergolakan syria. Hal ini membuat permainan baru yang mungkin tidak akan sama dengan permainan Ala Bush dalam merebut perebutan minyak. Melainkan permainan harga dan menelaah lawan – lawanya di kawasan Timur tengah. Termasuk pula untuk meretas persahabatan mereka di negara teluk hingga terjadi tergonjang – ganjing demi merebut kawan yang dianggap kawasan separuh minyak dunia.

Sebagai ilustrasi misalnya, sewaktu dulu meruncingnya hubungan diplomatik Iran dan As, di akibatkan Iran ingin menutup selat Hormuz karena kepentingan nasionalnya terganggu, maka seketika itu harga minyak melambung tinggi dan industri senjata buatan Amerika pun laris manis. Meski hal ini pernah terjadi itu di akibatkan oleh kata – kata belaka. Ini pula terjadi sebuah ketegangan antar negara poros sunni sekarang yang berawal dari Fake News. Jika kisruh politik hubungan diplomatik berlangsung lama maka harga minyak tak bakal kembali USD 100/ per barel, paling naik turun antara 50 USD/ per barel di karenakan No saudi oil dan America First.

Dengan hal ini Arab saudi harus berbenah dirinya, dari segi minyak. Perushaan Aramco (pertaminanya Arab Saudi) mandiri dalam mengelontorkan dana untuk gaji karyawan, sekaligus meminimalisir perkerja asinnya, selama ini Saudi begitu memanjakan tenaga ahli asinnya. Aramco tidak bangkrut pada persoalan minimalisir pekerja melainkan pemasukan minyak amatlah kurang karena getolnya Iran begerak dengan menggunakan Rusia berhubungan mesra di KTT dengan Qatar dan dari situlah Iran melakukan hubungan diplomasi  ekspor – impor minyak melalui ISIS disitulah kerja samanya menggonjan – ganjing Arab Saudi. inilah yang dinginkan Iran untuk membangkitkan Imam Mahdi di Mekkah tak lepas pula Amerika Serikat bermain pula merebut kawasan separuh minyak dunia ini.Seyognya ini adalah strategi perang asimetris Iran VS Amerika Serika merebut kawan GGC atau negara separuh minyak dunia tersebut.

Analisis menimbulkan dua prediksi, yaitu agenda gonjang – gonjing kawasan berjalan  yang sesuai dengan skenario harganya minyak dunia dan pemutusan hubungan diplomatik mampu di kehendaki oleh sang tuan. Akan tetapi jika skenario ini meleset dari keinginan sang tuan maka harga minyak tidak akan terpengruh dan kereugian akan menimpa  negara yang pertama melaukan pemutusan diplomatik yaitu Arab Saudi sendiri, dikarenakan telah ada luka – luka sosial yang menghantam Qatar, kerusakan politik, ekonomi,budaya dan lain – lain. Mungkin itu saja dalam menganalasis pemutusan hubungan diplomatik. Sebagai warga negara indonesia bersiap saja dengan serangan intoleransi yang beransur – ansur sebab Arab Saudi masih berbenah.

Tag :

Opini
  • 181 Dibaca