Perantau Bugis-Makassar di Tanah Nyiur Melambai

Kemudahan adaptasi orang Bugis-Makassar tentu sangat didukung oleh falsafah orang Manado, yakni Torang Samua Basudara.


Seputarsulawesi.com - Orang Bugis-Makassar terkenal sebagai suku yang gemar merantau ke berbagai wilayah. Di beberapa kota besar di Indonesia, cukup banyak ditemukan kampung-kampung yang kebanyakan dihuni oleh perantau asal Bugis-Makassar. Perantau itu datang silih berganti, sejak beberapa generasi yang lalu. Dalam istilah kebudayaan Bugis-Makassar, perantau ini disebut sebagai pasompe’.

Di wilayah Sulawesi Utara, kantong-kantong populasi orang Bugis-Makassar cukup banyak ditemukan. Orang Bugis kerap dijumpai di beberapa pusat perdagangan dan perbelanjaan di Kota Manado. Dalam makalah hasil penelitian Abu Muslim mengenai Pasompe’ Ogi di Sualwesi Utara; Studi Pengembangan Pendidikan Keagamaan di Tanah Rantau (2017), ia menjelaskan bahwa keberadaan orang Bugis di Manado, sebenarnya agak sulit diidentifikasi, jika menilik pada lokasi rumah mereka. Untuk lokasi rumah orang Bugis-Makassar, bertebaran di beberapa wilayah kota Manado.

Orang Bugis di Kota Manado, menempatkan pusat perdagangan sebagai tempat untuk aktivitas ekonomi. Tempat tersebut, kebanyakan hanya disewa. Kawasan Shooping Centre Manado, adalah salah satu kawasan dengan jumlah pedagang Bugis-Makassar terbanyak. Ada juga kawasan Mega Mas, di mana terdapat ketokohan seorang Cina-Makassar bernama Benny Tungka.

Selain sebagai pedagang, orang Bugis yang telah berpuluh-puluh tahun menetap di Manado, juga banyak yang mengisi sentrum aktivitas yang lain. Misalnya, ada yang sudah menjadi birokrat, pengusaha besar, dan bahkan politisi. Untuk membangun komunikasi antara orang Bugis di Kota Manado, terdapat satu organisasi bernama Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).

Komunikasi dengan suku yang lain juga sangat kuat dibangun oleh orang Bugis-Makassar. Terlebih suku-suku yang diasosiasikan sebagai pemeluk Islam, misal keturunan Arab, Jawa, dan Gorontalo. Pola komunikasi yang aktif, terlebih mereka yang hidup di kampung Islam, berhasil mengembangkan pendidikan agama Islam. Komunikasi sebagai jalan silaturahmi ini pula, memperkokoh keharmonisan di Kota Manado, baik antarsesama umat Islam yang berbeda suku atau antarumat Islam dengan penganut agama lain.

Bergeser ke Kota Bitung, orang Bugis-Makassar juga banyak ditemukan di wilayah ini. Sebagai kota pelabuhan, cukup mudah menemukan para perantau Bugis di Kota Bitung. Kebanyakan dari mereka, berprofesi di bidang perikanan dan kelautan. Ada juga beberapa yang terjun ke bisnis kuliner bernuansa laut.

Salah satu kelurahan di Kota Bitung yang paling banyak dihuni oleh orang Bugis-Makassar adalah kelurahan Pateteng. Dominasi orang Bugis-Makassar, dalam bidang kelautan dan perikanan cukup terlihat di tempat ini. Selain itu, mereka juga aktif dalam pengembangan pendidikan agama islam. Salah satu yang terkenal adalah Lembaga Tahfidz yang didirikan oleh Haji Muro’, tokoh agama terkemuka di Kota Bitung.

Namun, tak ada jumlah pasti berapa banyak orang Bugis-Makassar di kelurahan ini. “Secara populatif, tidak ditemukan jumlah pasti tentang kuantitas orang-orang Bugis Makassar di Kelurahan Pateteng. Hal ini karena domisili yang agak terpencar dan beberapa diantaranya sekadar transit dan akan pergi bersama dengan keberangkatan kapal-kapalnya,” tulis Abu Muslim (2017).

Tak jauh dari Bitung, di Kabupaten Minahasa Utara juga terdapat diaspora Bugis-Makassar. Beberapa dari mereka bisa ditemui di Kecamatan Kema. Pettana I Besse merupakan orang Bugis yang pertama kali menginjakkan kaki di wilayah ini. Dan berkat ketokohan dan kharisma yang ia miliki, orang-orang setempat sangat menghormati dirinya.

Di lokasi ini pula, orang Bugis-Makassar berperan banyak di sektor dagang dan bidang kelautan. Juga, dengan agama Islam yang mereka miliki, orang Bugis-Makassar terlibat aktif dalam perayaan hari-hari besar agama Islam dan majelis taklim.

Masih di Minahasa Utara, tepatnya di Kampung Suroso, orang-orang Bugis menjadikan tempat ini sebagai lokasi favorit untuk mencari nafkah. Terdapat satu usaha besar yang bergerak di bidang industri Kopra, milik seorang Bugis asal Pinrang. Arnold Achmad Baramuli namanya, pemilik PALEKO Group. Sang pemilik, banyak mendatangkan orang Bugis-Makassar untuk bekerja di perusahaannya. Hal ini membuat, semakin bertambahnya perantau Bugis-Makassar di Kampung Suroso.

Desa Cempaka di Bolaang Mongondow bisa disebut sebagai daerah dengan jumlah pendatang Bugis-Makassar terbanyak di Sulawesi Utara. Sekitar 98 persen penduduk Desa Cempaka adalah orang Bugis-Makassar. Selebihnya, berasal dari Mongondow, Gorontalo, Sangir dan Buntalo. Mereka pun telah kawin mawin dengan orang-orang Bugis.

Di tanah yang subur dengan hamparan lahan pertanian yang luas, Desa Cempaka terkenal sebagai lumpung Padi di Sulawesi Utara. Orang Bugis-Makassar hidup di wilayah ini dengan memanfaatkan tanah yang subur tersebut untuk bertani. Bersama dengan pendatang lain, asal Jawa dan Bali. Orang Bugis-Makassar juga gemar membeli tanah milik penduduk setempat. Hal ini membuat, dominasi orang Bugis-Makassar cukup terasa di wilayah ini.

Dari Falsafah Tellu Cappa’ ke Relasi Keagamaan

Bagi perantau Bugis-Makassar, ada satu hal yang harus dipegang teguh ketika berada di tanah orang. Hal itu tidak lain adalah filosofi sompe’ yang dikenal dengan istilah Tellu Cappa’. Falsafah rantau ini, senantiasa dipesankan oleh orang-orang tua, kepada anak atau kerabatnya yang hendak mengadu nasib di perantauan.

“Falsafaf Tellu Cappa’ (Tiga Ujung) antara lain yakni Cappa Lila (Ujung Lida) yang mencerminkan kebulatan tekad dan keahlian berargumentasi khususnya dalam hal ekonomi. Kedua Cappa Kawali (Ujung badik) berupa keberanian terhadap segala hal, tanpa mengenal rasa takut yang di dalamnya juga terakumulasi dala siri (rasa malu). Dan yang ketiga adalah Cappa laso’(Ujung Kemaluan), di mana perantau bugis memiliki kebiasaan kawin mawin dengan pernduduk setempat,” tulis Abu Muslim (2017).

Perantau Bugis-Makassar yang sudah lama hidup di Manado, menerapkan falsafah ini demi bertahan di negeri orang. Sehingga, banyak dari mereka yang cukup berhasil dalam bidang ekonomi, dan bahkan ada yang sampai berhasil di bidang politik. Hal ini tak lain karena keluwesan orang Bugis-Makassar dalam hal negosiasi dagang dan politik, yang membuat mereka bisa dengan mudah diterima oleh penduduk setempat.

Banyak juga dari perantau Bugis-Makassar, yang kawin mawin dengan penduduk lokal di Sulawesi Utara. Hal ini demi menipiskan jarak sosial, serta memperkuat pengaruh secara kekeluargaan. Apalagi jika yang dipersunting adalah keturunan raja atau bangsawan setempat. Di Desa Cempaka, Bolaang Mongondow, sering terjadi pendatang Bugis-Makassar yang menikahi penduduk setempat.

Pola adaptasi orang Bugis-Makassar, selain mengandalkan ketiga falsafah tadi, juga dengan menggunakan identitas agama Islam. Setiap perkampungan yang didiami oleh orang Bugis-Makassar, perkembangan pendidikan agama islam tak jauh dari peran komunitas tersebut. Bersama keturunan Arab dan yang datang dari Gorontalo atau Jawa.

Meski dianggap pendatang, orang Bugis-Makassar sebenarnya sangat diterima di Tanah Nyiur Melambai. Persaingan perdagangan dengan sesama pendatang atau penduduk setempat, tak pernah berujung konflik. Juga, tak ada sentimen yang berbau kebencian terhadap agama lain yang muncul, terutama dari mayoritas Nasrani. Kemudahan adaptasi orang Bugis-Makassar tentu sangat didukung oleh falsafah orang Manado, yakni Torang Samua Basudara.

 

Tag :

bugis makassar
  • 455 Dibaca