Gambar Ilustrasi (kompadansamandar.blogspot.co.id)

Pesan Todilaling Tentang Kepemimpinan


Ada begitu banyak pasang (pesan-pesan) tentang kepimpinan di Mandar pada masa lalu. Bahkan hingga saat ini, pasang tersebut masih sering diperdengarkan. Salah seorang budayawan Mandar, Dr. Muhammad Idham Khalid Bodi  merangkum pesan-pesang kearifan leluhur Mandar itu dalam sebuah karyanya yang berjudul “Local Wisdom, Untaian Mutiara Hikmah dari Mandar Sulawesi Barat”.

Pasang tentang kepemimpinan dalam buku itu lebih banyak mengutip petuah-petuah bijak yang pernah disampaikan oleh para Maraqdia dan pimpinanan adat di Mandar pada masa lalu. Pasang tersebut di dalamnya tersirat pesan-pesan philosofis tentang karakter dan integritasnya seorang pemimpin di tanah Mandar.

Demikian pula, lewat buku itu, kita juga dapat memahami sikap dan tanggungjawab seorang pemimpin di Mandar pada masanya. Mereka senantiasa bermusyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi. Hal itu bermula dari sistem kempemimpinan yang diterapkan oleh Tomakaka[1] yang oleh masyarakat Mandar Balanipa dinilai sebagai sebuah sistem pemerintahan yang kokoh dan kuat pada masanya.

Pendapat tersebut didasarkan pada nilai-nilai budaya penyelamat negeri yang senantiasa mendasari sistem kepemimpinan Tomakaka[2]. Selain itu, cara pandangan yang jauh kedepan, serta kemampuan memprioritaskan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadi, juga menjadi bagian dari teladan kepemimpinan yang diwariskan oleh Tomakaka.

Model kepemimpin seperti ini, menurut Darmawan Mas’ud menjadi tujuan akhir dari sistem kepemimpinan Tomakaka. Atas dasar itu, lanjut Mas’ud, Tomakaka dinilai mampu menggapai kesuksesan dalam masa yang cukup panjang.[3]

Keberhasilan kepemimpinan Tomakaka ini, disatu sisi, tentunya tak bisa dilepaskan dari keteguhan mereka dalam mematuhi aturan adat, diantaranya adalah adaq litaq (adat negeri) yang berintikan empat unsur aturan yang harus senantiasa dijalankan, yaitu; adaq mesangana' (aturan sistem kehidupan kekerabatan), adaq akkatuoang (aturan sistem kehidupan sosial ekonomi), adaq apparettang (sistem pemerintahan) dan adaq akkeadang (aturan sistem kehidupan kebudayaan).

Pentingnya mematuhi aturan adat negeri, juga ditegaskan dalam pasang yang berbunyi “adaq banua motu'u petabung maroro bassi tambottu (aturan adat kebiasaan negeri adalah jalan yang lurus, bagaikan garis tapal batas yang tak akan putus)[4].

Atas dasar itu, kita dapat memahami, bahwasanya pasang tentang kepemimpinan di Tanah Mandar tak hanya sebatas amanah Ilahiah, tapi juga erat kaitannya dengan nilai-nilai kebudayaan, dan bahkan ia telah menjadi bahagian siriq (harga diri seorang pemimpin).  Siriq inilah yang membentuk karakter mereka, dan sekaligus menjadi pijakan dalam mengembang amanah kerakyatan.

Seorang pemimpin akan merasa malu (masiriq) jika ia tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Demikian pula, seorang pemimpin akan merasa masiriq ketika ia tidak bisa berbuat adil, jujur dan mampu mempertahankan martabat dan harga diri negaranya. Nilai-nilai kebudayaan inilah yang mendorong para pemimpin di Mandar pada masa lalu untuk senantiasa peduli terhadap nasib yang dialami oleh rakyat, bangsa dan negaranya.

Meski pasang yang tertulis dalam karya Muhammad Idham Khalid Bodi ini sangat klasik, namun masih sangat relevan untuk diaktualisasi dalam konteks kepempinan di Tanah Mandar dewasa ini[5]. Relevansi pesan-pesan kepemipinan itu, sekaligus menjadi bukti kedalaman philosofi todioloqna to Mandar. 

Pasang Todilaling

“Madondong duambongi anna matea’ mau anaqu mau appou, da muannai menjari Maraqdia mua tania tomaasyanggi litaq, na tonamaassyanni paqbanua. Da muannai dai’ dipe’uluang muaq masu’angi pulu-pulunna, mato’dori kedo-kedona, apa iyamo tu’u namarrupu-ruppu’ litaq”

Artinya: Manakala besok atau lusa saya mangkat, sekalipun anak atau cucu saya, jangan diangkat menjadi raja (pemimpin) kalau ia tidak cinta tanah air dan rakyat kecil. Dan jangan pula diangkat menjadi raja, jika mempunyai tutur kata yang kasar dan berperagai tidak terpuji, karena manusia seperti itulah yang akan menghacurkan Negeri.

Pasang ini erat kaitannya dengan pemilihan pemimpin di Mandar pada masa lalu. Pasang tersebut diungkapkan oleh raja pertama Balanipa, Imanyambungi (Todilaling) sekitar abad ke 15 Masehi.  Meski terbilang singkat, dan hanya berlaku di internal kerajaan Balanipa, namun pasang itu sarat akan makna serta mampu menginspirasi konsep kepemimpinan di jazirah Mandar pada masa itu, dan bahkan hingga saat ini.

Lewat pasang ini, kita dapat melihat cara pandang Todilaling yang mampu melampaui zamannya. Hal itu terlihat dari penegasan beliau untuk tidak memilih pemimpin yang kasar (baik secara perilaku maupun tutur kata), tidak peduli terhadap bangsa dan negara, karena pemimpin seperti ini, katanya, hanya akan membawa malapetaka bagi sebuah negara.

Demikian pula, lewat pasang itu, kita juga dapat melihat wujud kecintaan Todilaling terhadap negaranya, sehingga pasang ini tentu saja masih sangat relevan untuk dijadikan sebagai cara pandang dalam melihat perkembangan sistem kepemimpinan di bangsa kita dewasa ini. Apalgi jika orientasi kepemimpinan itu hanya untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, serta menjadikan kekekuasaan sebagai sarana untuk memperkaya diri dengan cara mengesampingkan urusan kesejahteraan rakat.

Pandangan lain menyebutkan, bahwasanya ungkapan Todilaling di atas merupkan kearifan luhur Mandar yang luar biasa. Dimana puncak tertinggi dari kearifan itu terlihat pada kemampuan memahami dan merasakan fenomena serta dampak yang akan ditimbulkan dari kesalahan memilih seorang pemimpin.

Olehnya karenanya, ungkapan Todilaling itu, bukan hanya sekadar ungkapan yang sifatnya teoritis, melainkan juga sebuah motivasi yang di dalamnya tersirat masa depan sebuah negara dan rakyat. Jika ditelaah lebih jauh, inti dari pasang ini mewasiatkan kepada kita agar hati-hati dalam memilih pemimpin. Kesalahan dalam memilih pemimpin akan berbuah malapetaka bagi negara atau daerah.

Olehnya itu, dalam memilih seorang pemimpin, paling tidak kita harus mengedepangkan tiga pilar, yaitu:  Pertama; Kepantasan (naratan), hal ini penting, sebab banyak orang yang berambisi menjadi pemimpin, tapi pada kenyataanya ia tidak pantas. Singkatnya, kata Mario Teguh, kepantasan menjadi tolak ukur utama untuk memilih seorang pemimpin.

Kedua; Mampu menyinari (naindo), seorang pemimpin haruslah mampu memberi cahaya terang bagi kehidupan rakyat, pemimpin harus mampu menyinari atau mengayomi rakyatnya baik dari segi ekonomi, politik, budaya, hukum dan pendidikan, sebab hal inilah yang menjadi fundamen utama keberlangsungan kehidupan rakyat secara menyeluruh.

Ketiga: Diandalkan (dipattuangan), seorang pemimpin harus mampu diandalkan dalam segala hal, sebab ia merupakan tumpuan dan harapan hidup rakyat.  Terbukanya lapangan kerja, kesejahteraan rakyat yang berdasar pada keadilan sosial, pemberantasan korupsi, pendidikan murah bagi kaum miskin, kemajuan sektor pertanian yang notabene menjadi urat nadi kehidupan rakyat, serta adanya kebebasan dan jaminan dalam menjalangkan nilai-nilai kebudayaan dan agama yang menjadi hak setiap individu tidak boleh luput dari perhatian seorang pemimpin.[6]

 

 


[1] Menurut Darmawan Mas’ud, Tomakaka adalah orang yang dianggap kakak, atau orang yang lebih dewasa, mengerti dengan baik adat kebiasaan, aturan adat, tata cara pemerintahan, serta dewasa dalam berpikir dan bertindak.

[2] Awal kepemimpinan Tomakaka dapat dikaitkan dengan masa akhir neolit di Kalumpang, Mamuju, karena akhir neolit itu diperkirakan sampai abad pertama masehi. Menurut Darmawan, sebagaimana yang dikutip dari Brandes, keadaan masyarakat saat itu dalam keadaan tentram, teratur, rapi sebelum datangnya pengaruh bangsa asing di Kalumpang. Menurutnya, masa kepemimpinan Tomakaka di Balanipa terus berlangsung sampai masa terbentuknya Amara’diang (kerajaan) pada akhir abad ke- 15 yang ditandai dengan naiknya I Mayambungi Todilaling sebagai maraqdia pertama di Balanipa. Baca Darmawan Mas’ud, Puang & Daeng di Mandar, h. 110.

[3] Lebih jelasnya baca Darmawan Mas’ud, h. 120-121

[4] Ibid

[5] Menurut Idham dan Saprillah, membaca ulang sistem politik pada masa lalu, tidak berakhir hanya pada upaya meromantisasi sejarah sebagai cerita kosong. Nilai moralitas yang menjadi elemen utama dari seluruh sistem politik menarik untuk ditarik menjadi sistem politik kekinian. Baca “Malaqbi Identitas Orang Mandar” (147).

[6] Syarat-syarat untuk memilih pemimpin ini diolah dari hasil wawancara dengan Idham Khalid Bodi di Makassar pada tanggal 27 Sepetember 2009.

Tag :

mandar
  • 1017 Dibaca