Petinggi Organda Polman Dampingi Nindi, Balita Penderita Penyakit Kronis di Makassar


Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Ketua Umum Himpunan Pelajar Mahasiswa Palili Makassar (HPMP-M) dan Ketua Umum Pengurus Pusat Kesatuan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar (KPM-PM) melakukan pendampingan terhadap Nindi Febriyani, balita penderita penyakit kronis asal Desa Bakka-Bakka, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman di Makassar. 

Diketahui, anak berusia 10 bulan itu mengalami pembengkakan sebesar buah kelapa, tepat di bagian dada, sehingga membuat balita tersebut tak bisa berbuat apa-apa.

Saat ini, anak dari pasangan Ical dan Nuraeni ini hanya bisa terbaring lemas di Ruang Rawat Rumah Sakit Wahidin Makassar, setalah dirujuk dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Polewali Mandar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Seputarsulawesi.com, diusia empat bulan, Nindi Febriyani telah divonis menderita penyakit kronis dan disarankan untuk menjalani proses rawat inap di rumah sakit. 

Namun karena suatu dan lain hal, orang tua Nindi memutuskan untuk memulangkan anaknya dari rumah sakit. Diduga orang tua Nindi panik, karena saat akan dilakukan pemasangan infus, urat nadi anaknya itu tak ditemukan.

Diusia 10 bulan, Nindi kembali masuk ke RSUD Polewali dan langsung dirujuk ke Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Namun pihak rumah sakit mengaku tak sanggup melakukan operasi pengangkatan penyakit yang bersaran di dada Nindi tersebut, dan akhirnya ia pun dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin didampingi oleh pengurus HPMP-M dan Ketua Umum KPM-PM Pusat.

"Sekarang bayi tersebut sedang menjalani perawatan observasi selama enam jam, di Wahidin," kata Adi Guna, Ketua Umum HPMP-M, Jumat, 15 Desember 2017.

Adi Guna mengatakan, pendampingan dilakukan, selain karena orang tua balita tersebut tidak mengetahui jalan-jalan di Kota Makassar, yang bersangkutan juga tidak telalu paham prosedur pengurusan administrasi di rumah sakit.  

Perlu Koordinasi 

Sebagai warga desa, kata Adi Guna, seharusnya, keluarga Nindi mendapat perhatian dari pemerintah desa, sebab bagaimana pun juga, Nindi beserta kedua orang tuanya itu berhak mendapat pelayanan dari desa. 

"Tadi siang, kami sempat ketemu salah seorang pak desa dari Kecamatan Luyo di Wahidin, ia sedang mendampingi warganya berobat," kata Adi Guna.

Adi Guna menambahkan, bukan kali ini saja, Kepala desa tersebut mendampingi warganya, tapi setiap ada warganya yang dirujuk ke Makassar, ia akan senantiasa ikut bersama pasien rujukan tersebut. Menurutnya, itu sudah menjadi bahagian dari tanggungjawabnya sebagai kepala desa.

"Ini mungkin bisa menjadi contoh bagi pemerintah desa yang lain, minimal bisa mengurangi beban warga yang terkena musibah atau cobaan," ucapnya.

Hal yang sama juga disampaikan Harun, warga Desa Bakka-baka. Ia mengatakan desa memang harus punya kepedulian terhadap warganya, khususnya dalam hal pelayanan kesehatan, karena hal itu sudah diatur dalam Permendes Nomor. 19 Tahun 2017, tentang hak pelayanan dasar terhadap warga desa.

“Sekitar 10 persen dana desa harus dialokasikan untuk program kesehatan, hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: HK.02.02/Menkes/52/2015 tentang rencana strategis kementerian kesehatan yang mendorong desa untuk mengalokasi dan memanfaatkan dana desa minimal 10 persen untuk Usaha Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat," jelas pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani organik ini.

Tak hanya itu, Harun juga mengapresiasi gerakan yang dilakukan oleh pengurus HPMP-M dan KMPM-PM tersebut. Menurutnya, gerakan yang terbilang langka itu sangat bermanfaat bagi mereka, khususnya bagi warga desa yang membutuhkan pertolongan.

Kata Harun, banyak warga Polman yang berasal dari wilayah pedesaan ingin berobat ke Makassar, namun mereka tak tahu cara dan prosedur yang harus dilakukan, sehingga tak jarang diantara mereka mengurunkan niatnya untuk dirujuk ke Makassar. 

"Apa yang dilakukan adek-adek mahasiswa ini sangat positif, dan saya rasa pemerintah desa perlu melakukan koordinasi dengan mereka, agar setiap warga desa yang berobat di Makassar, tidak terkesan "diterlantarkan"," jelas aktifis Lembaga Ispirasi dan Aspirasi Rakyat (LIAR) Sulbar ini.

  • 867 Dibaca