Pilkada Polman dan Misteri Politik AIM


Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar - Kabupaten Polman, Sulawesi Barat yang akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) bupati dan wakil bupati, pada 27 Juni 2018 mendatang, dalam beberapa bulan terakhir, mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa pesta demokrasi lima tahunan itu segera digelar.

Walau wacana figur masih terbatas, tetapi sejumlah baliho sosok mulai tersebar disejumlah tempat. Salah satunya adalah baliho Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar (AIM). Bupati petahana ini walau belum secara resmi menyatakan akan turut bertarung, tetapi baliho yang tersebar itu menegaskan sang bupati hendak tampil sebagai salah satu kandidat lagi.

Sejumlah kalangan menilai keinginan adik kandung Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar ini maju sebagai kandidat petahana mengecilkan minat pihak lain untuk tampil sebagai kandidat. Ia dipersepsi sebagai calon tiada tanding. Persepsi ini beralasan, sebab dipanggung politik, AIM bukanlah sosok kemarin dulu.

Ia telah lama menceburkan diri dalam kubangan politik. Sebelum Sulbar bercerai dari Sulsel 2004 silam, AIM telah duduk dikursi legislatif provinsi Sulsel sebagai kader partai yang berlambang pohon beringin.

Tak heran bila ia didapuk menahkodai partai Golkar Polman, lalu terpilih sebagai pemenang Pilkada lima tahun silam. Kinerja politik AIM dalam mengelola partai warisan Orde Baru ini cukup menakjubkan, khususnya di kabupaten Polman.

Pemilu 2014 lalu misalnya, partai Golkar Polman berhasil menduduki 10 kursi legislatif di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Polman. Ini salah satu tanda bahwa, parpol di tangan AIM sama sekali tak kerdil. Tangan dingin AIM tak membekukan parpol. Ditangannya, Golkar menggairahkan. Dan itupun menunjukkan bila AIM adalah sosok matang dalam dunia politik. Dalam politik, kematangan tak dapat diraih semata-mata hanya karena seseorang berkarat diparpol. Tetapi keringat dipolitik sangat menentukan kematangan itu.

Kematangan AIM dalam politik terbukti pula saat ia angkat kaki dari partai Golkar Polman, beberapa pekan sebelum Pilgub Sulbar dihelat Februari 2017 lalu. Padahal, puluhan tahun ia “dibawah lindungan” rindangnya partai pohon beringin itu. Keputusan AIM hengkang dari Golkar karena DPD Partai Golkar Sulbar tak mengusung ABM sebagai kandidat Gubernur yang unggul surveynya, sementara mekanisme internal partai itu menegaskan figur yang unggul dalam survey akan diusung. Kecewa dengan itu, AIM lantas berlalu.

Berlalu dari partai beringin, tak berarti AIM tak laku. Dengan cepat ia dipinang Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) partai Nasdem Sulbar. Kala itu, AIM langsung menduduki ketua DPW Nasdem Sulbar. Posisi ini mempertegas AIM sebagai politisi ulung yang laris.

Pembuktian sebagai politisi ulung pun tertoreh dari gelaran Pilgub Sulbar Februari 2017 lalu. Energi politiknya dikerahkan untuk memenangkan pasangan ABM-Enny, dan itupun terbukti. ABM-Enny memenangkan pertarungan itu, khusus di Polman raihan suara pasangan ini mencapai 104.262 suara (45,5 persen).

 

 

Tergeser dari Nasdem

Meskipun terbilang matang dan ulung berpolitik, tetapi AIM nampaknya harus menerima keputusan DPP Nasdem yang menggeser namanya sebagai ketua DPW Nasdem Sulbar beberapa hari lalu. Dalam jumpa pers yang digelar DPW Nasdem Sulbar di kantornya, Jalan Husni Thamrin pada Jumat ,4 Agusutus lalu, AIM dinyatakan tak lagi menjabat ketua DPW Nasdem Sulbar melalui Surat Keputusan DPP Nasdem Nomor. 299-SK/DPP-Nasdem/VII/2017, tangga 27 Juli 2017. Hal itu disampaikan, H. Abd. Rahim, S.Ag, Sekretaris DPW Nasdem Sulbar yang dalam SK DPP Nasdem itu menggantikan posisi AIM sebagai ketua DPW Nasdem.

Menurut Rahim, argumentasi DPP Nasdem mencoret AIM sebab DPW Nasdem selama ini tidak berjalan baik. “Ini berdasarkan hasil evaluasi dari DPP”, ujar Rahim, yang juga legislator DPRD Sulbar ini. Rahim menyatakan, pascapencopotan AIM itu dirinya tak tahu menahu apakah putra Masdar Pasmar itu akan ditugaskan di tempat pada posisi lain atau tidak.

Lalu, kemana AIM akan berlabuh kelak? Hingga laporan ini diturunkan, redaksi seputarsulawesi.com gagal tersambung dengan Bupati Polman itu. Publik Polman pun tak tahu menahu di mana kelak sang bupati berlabuh untuk mewujudkan kehendaknya sebagai Bupati periode kedua di Bumi Tipalayo itu.

Yang pasti, kemungkinan besar AIM akan menjadi kandidat Bupati tiada tanding dalam perhelatan pilkada Polman, Juni 2018 mendatang. Sebab investasi kekuasaan politiknya di Bumi Tipalayo boleh dikata sejauh mata memandang. Surplusnya ransum kekuasaan politik AIM ini bukan semata karena ia kandidat incumbent , yang menguasai lapisan-lapisan pemerintahan di Polman, atau karena ia cukup berkarat dalam politik.

Tetapi ketokohan sang ayah, mendiang Masdar Pasmar yang juga mantan Ketua DPRD Polman era 90an itu masih cukup kuat. Ketokohan sang ayah ini juga menegaskan bila AIM cukup kental darah politiknya. Belum lagi jaringan keluarga yang tersebar dimana-mana; dimulai institusi negara, hingga non-negara. Apalagi, sang kakak kandung ABM yang kini duduk manis sebagai Gubernur Sulbar tentu saja tak akan “diam” dalam perhelatan pilkada Polman nanti.

Tetapi dengan tiadanya parpol ditangan apakah AIM akan terjungkal dari kursi Bupati Polman yang diperebutkan pada Juni 2018 mendatang? Inilah misteri politik dari sosok AIM. Tetapi sesungguhnya, rakyat Polman lah penentunya.

 

Penulis: Suaib A. Prawono

 

 

  • 294 Dibaca