PMII Bone Bedah Buku Akuntansi dalam Prespektif Kebudayaan Bugis


Seputarsulawesi.com, Bone- Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat IAIN Bone menggelar kegiatan bedah buku "Akuntansi dalam Kebudayaan Bugis". Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sekretariat PMII IAIN Bone, Sabtu 09 September 2018.

Muhammad Aras Prabowo, penulis buku yang hadir sebagai pembicara tunggal dalam kegiatan ini mengatakan, buku tersebut merupakan kumpulan tulisannya yang pernah dimuat di berbagai media dan ditulis selama dua tahun.

"Buku ini merupakan hasil kolaborasi antara ilmu akuntansi dengan nilai-nilai kearifan lokal budaya Bugis, seperti Sipakatau, Asitinajang, Sima, dan Sipakainge," katanya.

Lebih lanjut, Aras menjelaskan makna akuntansi dalam presfektif sipakatau. Ia mengatakan, nilai kemanusiaan menjadi tujuan utama dari proses transaksi, tidak boleh mengedepankan keuntungan, hingga harus merugikan konsumen.

Konsep akuntasi dalam presfektif sipakatau katanya harus bermuara pada terciptanya harmonisasi antara perusahaan sebagai produsen dan konsumen sebagai pembeli. Demikian pula makna akuntansi dalam presfektif asitinajang (kesesuaian) juga harus senantiasa dikedepankan dalam proses transaksi dan penyusunan laporan keuangan.

"Misalnya, dalam menawarkan produk,  harga dan barang yang ditawarkan harus sesuai atau saling menyesuaikan. Begitupun saat melakukan pencatatan dan penyusunan transaksi, harus memperhatikan nilai asitinajang. Artinya, kita harus menjunjung tinggi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)," jelasnya.

Tak hanya itu, dalam kesempatan tersebut, Mantan Ketua Rayon PMII Fakutas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia ini juga menjelaskan fungsi sima (pajak) dalam kerajaan Bone. Menurutnya, sima tak hanya sebagai sumber pendapatan kerajaan di masa lalu, tapi juga sebagai alat kontrol kerajaan kepada rakyatnya.

"Penjelasan tentang nilai-nilai kearifan lokal ini, lebih lanjut bisa dibaca dalam buku saya ini," jelasnya.

Aras berharap, karya perdananya itu bisa menjadi motivasi bagi para dosen, mahasiswa, dan peneliti, khususnya di bidang akuntansi untuk pengembangan kajian ilmu akuntansi berbasis nilai-nilai kearifan lokal.

"Semoga saja karya perdana saya ini bisa berkonstribusi dalam kajian-kajian akuntansi, khususnya akuntansi dalam presfektif kebudayaan," katanya lagi.

  • 315 Dibaca