Prof Nasar; Perang Melawan Terorisme adalah Jihad yang Sebenarnya


Seputarsulawesi.com, Belitung - Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa perang melawan terorisme adalah bagian dari jihad yang sebenarnya, karena kejahatan yang dilakukan oleh kelompok teroris mengatasnamakan agama sebagai tamengnya.

"Kita tentu tidak rela agama yang kita yakini kebenarannya disebut mengajarkan terorisme," Katanya saat hadir sebagai pembicara di kegiatan Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama dalam Menghadapi Radikalisme di Kabupaten Belitung,  Bangka Belitung, Kamis 27 September 2018.

Meski berbicara di hadapan penyuluh dari berbagai agama, Prof. Nasar demikian sapaan akrbanya, mencontohkan bagaimana agama tidak mengajarkan terorisme berdasarkan sudut pandang Islam.

Ia mengatakan, secara harfiah Islam sudah memiliki arti damai, sehingga sangat tidak masuk akal jika Islam dikambinghitamkan sebagai agama yang membenarkan adanya aksi terorisme.

"Tidak hanya Islam, saya yakin semua agama tidak membenarkan terorisme. Terorisme adalah kejahatan kemanusiaan, dan tugas bapak ibu sebagai mubalig untuk menyuarakannya ke masyarakat," tegas Nasaruddin.

Untuk menguatkan pernyataannya tersebut, mantan Wakil Menteri Agama ini menyampaikan, 6.666 ayat al-Quran jika disarikan hanya terdiri dari 7 ayat di surat al-Fatihah. Jika disarikan lagi ada di ayat pertama, basmallah, dan akan semakin sempit menjadi 2 kata jika disarikan ulang.

"Dua kata itu adalah rahman dan rahim, pemurah, kasih sayang. Dua kata itu dalam bahasa arab berasal dari kata dasar yang sama, artinya cinta. Bagaimana mungkin kemudian Islam dengan al-Qurannya disebut membenarkan terorisme," tegasnya.

Tak hanya itu, dalam paparannya, Prof  Nasar juga mengingatkan bahwa tugas pencegahan terorisme tidaklah mudah. Mubalig harus terus mengasah kemampuan dan memperdalam pengetahuan, karena jaringan pelaku terorisme tak jarang mengadu domba antaragama untuk mencapai tujuan penyebarluasan ajarannya.

"Islam yang mayoritas jadinya pelindung. Berikan jaminan minoritas dapat mengamalkan agamanya dengan baik. Kemampuan menjaga harmoni antarumat beragama akan menjadi benteng terhadap masuknya radikalisme dan terorisme," tutup Nasaruddin.

Selain itu, di hadapan peserta, Prof  Nasar juga menyampaikan pentingnya pencegahan terorisme dilakukan sejak dini, sebab gerakan ini punya manfaat jangka panjang dalam upaya menyelamatkan masa depan bangsa.  

"Jika tidak sekarang kita bergerak (mencegah), anak cucu keturunan kita yang akan menderita. Pertaruhan dari perang melawan terorisme ini adalah masa depan bangsa ini," katanya lagi.

Kegiatan Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama dalam Menghadapi Radikalisme di Kabupaten Belitung terselenggara atas kerjasama BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bangka Belitung. Kegiatan yang sama sudah dan akan dilaksanakan di 32 provinsi se-Indonesia sepanjang tahun 2018.

Laporan: Muhammad Aras Prabowo

  • 80 Dibaca