Gambar: Istimewa

Qari dan Qariah MTQ, Nasibmu Jelang Pendaftaran CPNS


Seputarsulawesi.com, Makassar- Formasi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di berbagai instansi pemerintahan mulai jadi perbincangan oleh berbagai kalangan, tak terkecuali para mantan juara Musabaqah Tilawatil Al-Quran (MTQ).

Sebagai orang yang pernah ikut serta mengharumkan nama baik daerah atau bangsa, tentu harapan mereka untuk menjadi PNS sama dengan para atlet-atlet olahraga yang sempat menjuarai berbagai pertandingan, baik di tingkat Asean maupun Internasional, dimana para atlet berprestasi itu mendapat garansi dari pemerintah untuk dipromosikan menjadi PNS. Bahkan kabarnya, pemerintah telah melakukan pendataan terhadap atlet peraih medali Asian Games 2018 tersebut, khusus bagi mereka yang ingin menjadi PNS.

Sebagaimana yang dilansir Kompas.com, 3 September 2018 lalu, menyebutkan bahwa para atlet tersebut diberi kesempatan menjadi PNS, atau anggota Polri maupun TNI tanpa melalui tes, dan itu merupakan bagian dari bonus yang diberikan oleh pemerintah. Nah.. pernyataannya kemudian, bagaimana nasib para qari dan qariah lokal, nasional dan internasional, apa mereka juga mendapat perlakuan yang sama?

Meski mereka punya prestasi di dunia "tarik suara", namun sejauh ini belum ada kabar soal nasib atau garansi pemerintah terhadap keinginan mereka jelang pendaftaran CPNS tahun ini, yang tersiar hanya kabar para atlet olahraga, sementara olah suara tampaknya belum menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementrian Agama.

Nasib Qari dan Qariah

Cerita soal nasib qori dan qariah muda ini tentu bukan fenomena baru. Meski mereka (qari dan qariah) kerap tampil melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dalam berbagai acara-acara resmi yang digelar oleh pemerintah, namun nasib mereka tak semujur dengan para atlet olahraga dan para pemenang audisi ajang pencarian bakat yang hampir tiap pekan tampil di berbagai media televisi.

Tak hanya itu, penghargaan berupa hadiah yang diberikan kepadanya, juga kadang tidak manusiawi. Bahkan beberapa tahun lalu, persoalan ini sempat mencuat di berbagai media dan menuai sorotan  tajam dari berbagai kalangan. Hal itu terkait penghargaan (hadiah) yang diberikan oleh Pemprov terhadap pemenang lomba MTQ di salah satu daerah di Sulawesi Selatan. Bayangkan, peserta juara I hanya mendapat uang sebesar Rp. 500 Ribu, juara II Rp. 300 Ribu, dan Juara III, Rp. 200 Ribu ditambah 1 buah tropi plastik bagi masing-masing pemenang.

Bahkan saat itu, matan qari internasional, H. Hasan Basri turut berkomentar soal ini. Sebagaimana yang dilansir makassar.tribunnews.com, Rabu 14 Mei 2014, ia mengatakan, kontestasi ayam ketawa yang digelar oleh Pemprov justru hadianya jauh lebih besar ketimbang penghargaan terhadap para juara MTQ.

Berdasarkan data Tribun  Kontes Kokok Ayam Gaga, yang dilaksanakan di Gedung Celebes Convention Center (CCC), tingkat provinsi yang sempat dibuka oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Sabtu 14 Juli 2012 berhadiah Rp 1,5 juta, dan tentu ini tidak sebanding dengan hadiah yang diterima oleh para pemenang lomba MTQ tersebut.

Jika mental-mental seperti ini masih tetap bercokol di kepala para penentu kebijakan, maka jangan pernah bermimpi nasib qari dan qariah MTQ akan sama dengan atlet-atlet olahraga tersebut. Meski keduanya, sama-sama berkesempatan mengharumkan nama baik daerah atau bangsa, tapi dari segi perlakuan tak mendapat porsi yang sama.  

Tag :

  • 383 Dibaca