RRI dan Seruan Pemilu Presiden Soeharto


Seputarsulawesi.com - “Sekali lagi, marilah kita dengan mengucap Bismillahirrahmannirrahim menggunakan hak-pilih kita dengan tenang dan tertib dalam pemungutan suara pada tanggal 2 Mei 1977 ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu meridhoi dan memberkahi usaha-usaha bersama kita,” demikian Presiden Soeharto.

Kutipan di atas merupakan seruan Presiden Soeharto di RRI dan TVRI pada saat menjelang Pemilihan Umum 1977 yang merupakan pemilihan kedua setelah Orde Baru.

Begitu pun dengan Mars Pemilu yang diciptakan Mochtar E dalam pemiliu terus diperdengarkan menjelaang pemilu pada masa Orde baru sejak 1971, 1977, 1982, 1987, dan 1992.

Bahkan teks lirik lagu mars ini pun masih garang teringat, Pemilihan umum telah memanggil kita/Seluruh rakyat menyambut gembira/Hak demokrasi Pancasila/Hikmah Indonesia merdeka/Pilihlah wakilan yang dapat dipercaya/Pengemban Ampera yang setia/Di bawah Undang-Undang Dasar empat lima/Kita menuju ke Pemilihan Umum.

Tepatnya kelahiran RRI pada 11 September sebagai Radio Republik Indonesia merupakan saluran media yang cukup berpengaruh pada saat itu, yang terus dipakai oleh pemerintah khususnya Soeharto.

Sejak berakhirnya masa pemerintahan Orde Lama, tahun 1965, Radio Siaran hanya diselenggarakan oleh Pemerintah, dalam hal ini Radio Republik Indonesia atau RRI. Jauh sebelum seruan Pemilu, berkat peran radio pun teks Proklamasi Kemerdekaan 1945 diserukan melalui udara ke seluruh dunia yang membawa arti penting bagi bangsa dan negara Indonesia.

Radio Republik Indonesia, secara resmi didirikan pada tanggal 11 September 1945, oleh para tokoh yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang di 6 kota. Rapat utusan 6 radio di rumah Adang Kadarusman, menghasilkan keputusan mendirikan Radio Republik Indonesia dengan memilih Dokter Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama.

Tahun 2017 ini, usia RRI sudah berumur 72 tahun. Sampai saat ini masih setia terhadap publik. Pelbagai siaran terus mewarnai hari-hari masyarakat dengan Programa Daerah (Pro 1) dikenal sebagai pusat pemberdayaan Masyarakat, Programa Kota (Pro 2) sebagai Pusat Kerativitas Anak Muda, dan Programa III (Pro 3), siaran jaringan berita nasional.

Pada era - 1970 dapat dikatakan RRI mengalami puncak masa keemasan, pesawat radio menjadi koleksi masyarakat kelas menengah, bahkan kerap dijadikan sebagai simbol sosial di masyarakat sama seperti awal munculnya televisi yang menjadi barang mewah bagi rumah tangga.

Di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, dengan 114 pulau dan 94 pulau yang berpenghuni, peran Radio sangatlah penting bagi informasi di masyarakat, khususnya masyarakat yang bermukim di kepulauan Pangkep. Sejak puluhan tahun sebelum masyarakat juga terhibur oleh sajian televisi, radiolah satu-satunya yang merupakan akses hiburan dan informasi bagi mereka.

Jatuhnya Orde Baru pada tahun 1998 juga membawa akses perkembangan bagi radio swasta, para pendengar tidak lagi terpasung mendengarkan informasi berita dengan jam tertentu, dengan kata lain para pendengar radio bebas mengakses informasi mendengarkan dengan pelbagai pilihan yang disediakan radio swasta. Yang tentu saja menjadi rival bagi RRI yang sejak dulu berperan penting dalam akses informasi kepada publik.

Namun hingga saat gerak RRI pun tetap konsisten dalam membangun identitas bangsa, hal tersebut terlihat dengan tekad menjadi ujung tombak diplomasi Indonesia untuk daerah wilayah perbatasan. Begitu juga gerak RRI dalam dunia perkembangan media saat ini, RRI pun tidak mau ketinggalan dengan menciptakan aplikasi streaming seperti RRI Play dan juga Beyoung. Dan tentu saja itu juga terlihat dari slogan RRI “Sekali di udara, tetap mengudara”.

 

 

 

Tag :

  • 164 Dibaca