Saat Teknologi Rebut Ruang Kehidupan Manusia


Seputarsulawesi.com, Makkassar- Saat ini, pola dan cara pandang kehidupan masyarakat kita perlahan mengalami pergeseran. Demikian pula, ikatan kebersamaan yang dulunya menjadi kebanggaan bangsa ini, perlahan mengalami hal yang sama, apalagi saat teknologi moderen hadir dan mendominasi segala lini kehidupan manusia. Bahkan tanpa disadari, produk zaman moderen tersebut telah merubah cara pandang sebagian manusia tetang hakikat sebuah realitas. Samartphone, facebook, BBM dan tweeter, yang saat ini menjadi trend, seolah menjadi fokus perhatian dan teman setia kita, bukan lagi anak, isteri dan sahabat.

Hal tersebut dikemukan oleh Dr. Wahyuddin Naro, M.Hum saat  dimintai pendapatnya terkait pentingnya pendidikan keluarga di tengah kemajuan teknologi moderen, di Black Canyon, Jl. Hertasning Makassar. Minggu pagi  (3/1).

Lebih lanjut, dosen UIN Alauddin Makassar ini mengatakan, terjadinya aksi kekerasan yang lakukan oleh anak usia remaja di kota Makassar, bisa jadi disebabkan karena kurangnya perhatian dan ruang kebersamaan dalam kehidupan rumah tangga. Orang tua sibuk dengan urusan masing-masing, seolah tidak ada lagi waktu untuk memperhatikan keluarganya. Akibatnya anak-anaknya pun mencari perhatian di luar lingkungan rumah tangga.

"Saat ini teman setia kita adalah smartphone dan kitapun rela sibuk dengan benda itu, bahkan sampai tidur dan bangun pun smartphone menjadi perhatian utama kita, bukan lagi anak-anak dan keluarga. Di satu sisi, Smartphone telah membuat kita menjadi individual yang hanya sibuk dengan urusan sendiri. Akibatnya, perhatian kepada keluarga pun menjadi berkurang dan anak kita pun menjadi salah asuh," paparnya.  

Ia menambahkan, jika dulunya, anak-anak tertidur bersama pesan-pesan moral  yang disampaikan oleh orang tuanya, saat ini, hal tersebut sudah sangat jarang ditemukan, karena anak usia remaja tidur bersama teknologi beserta sejuta informasi yang belum tentu mendidik. "Saat ini, anak-anak kita dididik oleh teknologi, dan bahkan ia akan marah jika smartphonenya disembunyikan, ketimbang buku pelajarannya," katanya lagi.

Pola kehidupan seperti ini menurutnya berbeda dengan pola yang dilakukan oleh orang-orang tua terdahulu. Menurutnya, orang tua dahulu, sebelum anaknya tertidur,  ia akan menyempatkan diri untuk menyampaikan nasehat atau pesan-pesan moral kepada anaknya, itu tiada lain untuk menjaga hubungan baik antara anak dan orang tua, serta berharap kelak anaknya hidup menjadi orang yang bermoral dan beretika. "Kenapa hal ini yang saya sampaikan dinda, karena pola pendidikan dalam lingkup keluarga itu sangatlah penting, sebabab di keluargalah nilai dan karakter itu dibentuk" terangnya.

Lebih jauh, pria yang akrab disapa kak Naro ini menjelaskan, kata Birrul Walidain (kedua orang tua) dalam Al-Quran menjadi penekanan, karena anak lebih dekat dengan orang tua, di mana orang tua diharapkan bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. "Olehnya itu, kenapa Allah Swt dalam Al-Quran menyebut kata Birrul Walidain, kanapa bukan ustad atau guru sekolah, karena orang tua punya peran paling peting untuk mewarnai kehidupan anak, menimal melalui sikap dan keteladanannya," papar Alunmi Pondok Pesantren IMIM Makassar, tahun 80-an ini. (SAP)

  • 573 Dibaca