Foto: abdillahmandar.wordpress.com

Saiyyang Pattuqduq: Pergumulan Islam dan Budaya Lokal di Tanah Mandar


Seputarsulawesi.com- Sejak Islam pertamakali hadir di jazirah Arab, pergumulan Islam dan budaya sudah terjadi. Ajaran Islam yang berasal dari langit dan diyakini oleh pemeluknya sebagai sesuatu yang sakral telah bergumul dengan budaya Arab pada saat itu. Penggunaan bahasa Arab sebagai media sang pencipta untuk menyampaikan pesan-pesan ke masyarakat, menjadi bukti terjadinya pergumulan antara Islam dan budaya Arab.

Salah seorang sejarawan Islam, Khalil Abdul Karim, sebagaimana yang dikutip oleh Dr. Muh. Idham Khalid Bodi dan Ma'lum Rasyid dalam bukunya yang berjudul "Saiyyang Pattuqduq, dan Khataman Al-Quran di Mandar" menyebutkan, hampir sebagian besar ajaran Islam (syariat Islam) sudah memiliki akar historisnya di tanah Arab, diantaranya ibadah haji, shalat, penghargaan terhadap bulan tertentu untuk berpuasa, hudud dan jinayat sudah ada dalam masyarakat Arab pra Islam. Sehingga dengan demikian, syariat Islam tidak turun dalam ruang yang hampa, melainkan hadir di tegah kehidupan sosial masyarakat yang telah mempratikkan sebahagian ajaran Islam.

Demikian pula, saat Islam tersebar ke seantero dunia, juga mengalami hal yang sama, sehingga tidak mengalami banyak benturan dengan budaya lokal dimana ajaran Islam dihadirkan, dan bahkan di satu sisi, budaya lokal setempat diakomodir sepanjang tidak bertentangan dengan akidah Islam. Itulah kenyataan sejarah dalam Islam yang tidak tidak pernah sunyi dari pergumulan budaya lokal.

Olehnya itu, anggapan yang mengatakan bahwa Islam sangat erat kaitannya dengan budaya dapat dibenarkan, khusunya di negara ini, karena dalam faktanya, ulama-ulama Nusantara juga tidak mengabaikan kebudayaan dalam menyebarkan Islam.

Adalah Sunan Kalijaga, salah seorang Waliullah di tanah Jawa, menyampaikan ajaran Islam lewat pewayangan, demikian pula dengan Syekh Abdurrahman Singkel saat menulis kitab Mi'rah al-Thulub, ia menimbah pengetahuan dari kitab Ahkam al-Sulthaniyah yang ditulis oleh Imam Mawardi dan sekaligus juga menimbah pengetahuan dari tradisi Nusantara, (Idham & Ma'lum, 2016: 40). Dari sini kita dapat melihat, kontekstualisasi ajaran Islam sudah terjadi di Nusantara, jauh sebelum Islam berkembang secara pesat seperti sekarang ini.

Hal yang sama juga ditemukan di daerah Sulawesi Barat, sebagaiamanana yang menjadi objek kajian dalam buku "Saiyyang Pattuqduq, dan Khataman Al-Quran di Mandar" ini, Idham dan Ma'lum Rasyid menyebut tiga ulama besar di Tanah Mandar yang cukup berjasa dalam menyebarkan Islam, yaitu Abdurrahman Kamalauddin, Abdul Mannan dan Muhammad Thahir (Imam Lapeo). Ketiga ulama tersebut tidak pernah mengesampingkan tradisi dalam menyebarkan Islam, jesteru mereka merangkul tradisi dan mendialogkannya dengan agama.

Ketiga ulama ini menyadari, bahwa untuk mengeksiskan agama di suatu tempat atau wilayah, agama harus mampu berdialog dengan tatanan tradisi dan kebudayaan lokal masyarakat. Menurut Idham dan Ma'lum Rasyid, di Mandar, Sulawesi Barat, proses dialog dan pergumulan antara Islam dan budaya lokal adalah hal yang lumrah terjadi. Untuk menguatkan argumen ini, keduanya pun mengutip pesan-pesan lokal Mandar.

"Adaq makkesaraq, saraq makkeadaq, naiyya saraq adaq nala gasiing, naiya adaq, saraq nala sulo; matei adaq muaq andiang saraq, matei toi saraq muaq andiang adaq." Artinya; Adat lebur dalam agama, agama lebur dalam adat. Adapun agama, adat adalah kekuatan, adapun adat, agama adalah sulu; mati adat kalau tidak ada agama, mati agama kalau tidak ada adat. (Idham dan Ma'lum Rasyid, 2016:43).

Proses pergumulan antara Islam dan budaya lokal di tanah Mandar, Sulawesi Barat dapat dilihat pada tradisi khatam al-Quar'an. Bagi suku Mandar, khatam al-Qura'an merupakan sesuatu yang sangat istimewa, sehingga mereka pun punya acara khusus, dimana anak-anak yang telah khatam al-Qura'an akan diarak keliling kampung dengan mengendarai kuda khusus yang diiringi tabuhan rebana. Disebut kuda khusus karena ia bisa menari menyesuaikan bunyi tabuhan rebana. Inilah, yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Saiyyang Pattuqduq (kuda menari).

Saiyyang Pattuqduq adalah sebuah tradisi untuk merayakan tamatnya seseorang (anak-anak) mengaji. Mengendarai kuda menari, meskipun sesaat menjadi kebanggaan tersendiri bagai orang tua, terlebih lagi bagi mereka (anak-anak) yang telah berhasil manamatkan al-Qur'an. Meski tradisi ini belum diketahui seacara persis kapan mulai dilakukan, namun tradisi Saiyyang Pattuqduq ini, diperkirakan dimulai saat Islam menjadi agama resmi di beberapa kerajaan di tanah Mandar pada abad XVI. (Idham dan Ma'lum; 2016:44)

Awalnya, Saiyyang Pattuqduq hanya berkembang di kalangan Istana yang dilaksanakan pada perayaan maulid Nabi Muhammad SAW. Kuda digunakan sebagai sarana, karena dulunya, di Mandar, kuda merupakan sarana transfortasi utama masyarakat, sehingga kalangan muda pun dianjurkan untuk piawai berkuda.

Baca: Cerita Pelatih Kuda Penari Dari Tanah Mandar

Seiring dengan perjalanan waktu, Saiyyang Pattuqduq pun menjadi alat motivasi bagi anak-anak untuk belajar mengaji, dan segera menamatkan al-Qura'an. Bahkan tidak jarang orang di Mandar menjanjikan anak-anaknya jika kelak mereka tamat mengaji akan disewakan Saiyyang Pattuqduq guna merayakan keberhasilannya menamatkan al-Qura'an.

Seperti itulah gambaran Islam dan  pergumulan budaya lokal di tanah Mandar  yang ditulis oleh Dr. Muh. Idham Khalid bodi  dan Ma'lum Rasyid dalam buku berjudul, "Saiyyang Pattuqduq dan Khataman Al-Quran  di Mandar," sebuah narasi yang mengambarkan perjumpaan antara Islam  dan tradisi lokal masyarakat Mandar. Buku  yang juga merupakan hasil penelitian ini  mencoba menggali nilai-nilai tradisional  masyarakat Mandar dan persentuhannya  dengan Islam.

Buku ini, selain menyajikan data-data  lengkap tentang tradisi Saiyyang Pattuqduq, juga berupaya untuk melestarikan nilai-nilai  kebudayaan Mandar, khususnya kearifan  Mappatamma (khatam al-Qur'an) di tegah  kehidupan sosial budaya mengglobal. (SAP)

 

Identitas Buku : 


Judul   : Saiyyang Pattuqduq dan Khataman Al-Quran di Mandar
Penulis : Dr. Muh. Idham Khalid bodi dan Ma'lum Rasyid
Penerbit : Zadahaniva Publishing, Solo
TahunTerbit : Juni 2016
Jumlah halaman : 210

 

 

  • 970 Dibaca