Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (4)

Burik Cilampakna Kindang


By : IjhalThamaona

Baca kisah sebelumnya : Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (3)

Jika ada petir yang menyambar di depan wajahnya, Ibu Bunga tidak akan sekaget saat itu.  Untuk sesaat wajahnya tampak pias, lalu mengelam, tetapi sesaat kemudian terlihat pucat lagi.  Dengan perasaan yang tak menentu dan jantung berdebar tak karuan, Ibu Bunga berkata:

“Aku tidak mengerti dengan segala kitab yang kamu katakan, kamu jelas salah mendatangi tempat”.

“Dikau juga boleh bilang apa saja, tetapi kami pasti, kitab itu ada di sini. Datuk Ereng-erenglah selama ini yang menyimpannya. Di mana lagi Ia simpan kalau bukan di rumah ini”

“Hei ! , apa  kamu tidak dengar, segala kitab yang kau sebut-sebut itu tidak ada di sini, mungkin benar seperti katamu, Datuk Ereng-ereng yang menyimpannya, tapi dia tidak pernah menyimpan di rumah reyot ini”.  Ibu Bunga menjawab gusar.

Tiba-tiba pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja ini memberi isyarat kepada anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja lainnya untuk mendekati Bunga.

“Ringkus perempuan muda yang bunting itu, jadikan dia sandera, kalau melawan lakukan dengan kekerasan”

Dua orang bergerak cepat mendekati Bunga. Tapi lebih cepat dari gerakan dua orang itu, Ibu Bunga bergerak menghadang. Tangannya bergerak ke pinggang dan dalam sekejap di tangannya sudah tergenggam sebilah badik.   

Dua orang yang bergerak mendekati Bunga, surut dua tindak. Salah seorang di antara mereka berkata lirih:

“Badik Luhuk Kanre Apia”

Empat Momok Merah Pulau Silaja serentak memandang ke arah badik yang digenggam oleh Ibu Bunga. Pamor badik itu terlihat berwarna kemerah-merahan seperti nyala api. Sesuai dengan namanya badik Luhuk Kanre Apia.

Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja melangkah mendekati Ibu Bunga. Ia menatap ke arah bilah badik yang membersitkan warna merah redup. Sambil menunjuk ke arah bilah badik itu, Ia berkata;           

“Melihat pamor sumpakkale badik itu, jelas yang dikau genggam adalah badik Luhuk Kanre Apia. Ternyata dikau yang memiliki sekarang badik milik Datuk Ereng-ereng”.

“Bagusjika kau sudah paham badik apa yang ada ditangan ku ini. Sekarang aku minta jangan coba-coba ganggu anakku jika tidak ingin tubuh kalian hangus tergores badik ini”. Ucap Ibu Bunga mengancam.   

Seakan tak menghiraukan ancaman Ibu Bunga, Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja, malah menoleh ke arah teman-temannya sembari memberi perintah.

“Cepat ringkus perempuan muda bunting itu, perempuan peyot ini biar aku yang tangani. Kita beruntung kali ini, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali datang ke rumah ini dua benda berharga kita dapatkan ”.

Sambil memerintahkan tiga anak buahnya, Ia melompat ke hadapan Ibu Bunga. Gerakannya ringan, dasere rumah itu jangankan patah, melengkung pun tidak. Sementara itu tiga anak buahnya bergerak ke arah Bunga.

Melihat itu, Ibu Bunga tidak menghiraukan Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja yang sudah tegak. Siap menghadapinya. Ibu Bunga justru bergerak menghadang sambil menghunjamkan badiknya mendatar tepat ke arah dada salah seorang dari tiga orang anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja. Gerakannya cukup sebat. Ia menerapkan jurus pertama dari  Jongka Sagantuju Matanna Anging atau Langkah Delapan Penjuru Mata Angin . Jurus ini bisa dipecah ke dalam  delapan tingkatan jurus yang mengandalkan langkah kaki.  Jurus ini adalah bagian dari beberapa jurus dalam Manca Rahasia yang pernah diajarkan suaminya.  

Meski baru jurus tingkat pertama tapi serangan itu tidak main-main. Selarik sinar merah redup berkiblat di udara. Hawa panas menghampar. Jika sampai terkena dada, orang yang terkena tikaman bisa hangus jantung dan paru-parunya.  Melihat itu salah seorang dari tiga anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja yang mendapat serangan segera mencabut pedang di pinggangnya. Ia bermaksud menangkis serangan badik Ibu Bunga. Tetapi belum sempat Ia mengayunkan pedangnya, dari samping menyambar sesuatu menangkis badik itu.

Ibu Bunga surut setindak, Ia merasakan tangannya bergetar. Sementara itu pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja yang ternyata memapak tusukan Luhuk Kanre Apia, tegak di hadapan Ibu Bunga sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya. Sebilah tombak pendek tergenggam di tangan kirinya.  Mata tombak itu putih berkilat-kilat. Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja rupanya memapaki Luhuk Kanre Apia dengan tombak itu.

“Luhuk Kanre Apia tidak bisa dianggap main-main, tanganku kesemutan dan terasa agak panas setelah benturan tadi. Tombak Pancena Silaja masih kalah tuah rupanya”.

Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja membatin. Tangan yang tadi dikibas-kibaskan mengusap mata tombaknya.
Sementara Ibu Bunga juga memperhatikan badik di tangannya. Tangannya yang tadi bergetar Ia urut pelan-pelan.

“Orang ini memiliki tenaga dalam yang kuat, untungnya Luhuk Kanre Apia ini benar-benar ampuh”. Ibu Bunga masih memandangi badik di tangannya, ketika itulah pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja berteriak memerintah kembali anak buahnya.

“Kalian  lanjutkan meringkus perempuan bunting itu. Cepat !”

Begitu ucapannya selesai, pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja ini menyerang Ibu Bunga. Ia tidak memberi kesempatan ibu Bunga menerjang anggotanya. Gerakannya ringan dan sebat. Mendapat serangan mendadak dan cepat, Ibu Bunga harus melompat mundur hingga punggungnya merapat di dinding rumah. Dia berusaha keluar dari garis serangan pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja dengan mengandalkan Jongka Sagantuju Matanna Anging.  

Kaki Ibu Bunga bergerak melangkah ke samping kiri, namun dengan cepat langkah kakinya berubah maju ke depan. Terkadang terlihat kakinya akan melangkah mundur, namun belum sempat kakinya menjejak dasere, segera berubah arah melangkah ke kanan. Bersamaan dengan itu kaki kirinya terayun menyamping ke atas. Sebuah langkah rumit yang berakhir dengan tendangan yang mengincar sisi kiri leher  Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja.  Sementara tangannya terus memainkan badik LuhukKanreApia. Sesekali menusuk lurus, kadang waktu menikam ke bawah,  namun dengan cepat pula berubah menyabet ke samping.  Sinar merah tua menyambar bersilangan.  
Untuk sesaat pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja ini tidak bisa lagi mendesak maju. Langkah kaki Ibu Bunga berusaha dia imbangi dengan kecepatan bergerak. Tendangan yang mengarah ke lehernya dia hindari dengan merendahkan tubuhnya sambil  mundur tanpa melangkah. Dia melayang pendek ke belakang mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya.  

Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja  tidak ingin gegabah membenturkan tombaknya dengan badik Ibu Bunga. Maka sambil berkelebat cepat mengandalkan kemampuan meringankan tubuhnya, Ia terus menghindar sambil balas menyerang dalam jurus Menusuk Bintang Menikam Matahari.  Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja lebih senang menyebut jurusnya itu dengan nama aslinya Annoddo Bintoeng Annobo Mata Allo.

Jurus ini adalah salah satu jurus hebat yang bisa digunakan dalam memainkan sejata badik ataupun tombak.  Konon jurus ini  berasal dari Datuk Silat aliran lurus, namun entah bagaimana caranya bisa dikuasai oleh Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja.  Jurus ini paling sering dia gunakan saat tombak sebagai senjatanya, meskipun jurus itu sendiri belum dikuasai dengan sempurna.

Tombak Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja berkelebat cepat, berputar dan menyuruk di antara terkaman badik Luhuk Kanre Apia.PimpinanEmpatMomok Merah PulauSilajaberlakucerdik, dia tidak memapaki badiknya, tapi menohok langsung ke tubuh Ibu Bunga. Bagaimanapun pendeknya tombak yang digunakan Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja ini, namun tetap saja lebih panjang dari badik yang digunakan Ibu Bunga. Ini menguntungkan bagi Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja. Terkaman tombaknya akan lebih dulu menyentuh tubuh Ibu Bunga dibanding tikaman badik Ibu Bunga yang  mengincar  sekujur tubuhnya.
 
Hal ini juga disadari Ibu Bunga.  Karena itu, sebaliknya,  Ibu Bungajustru berusaha menyampuk tombak Pancena Silaja dengan badik Luhuk Kanre Apia. Tapi sebelum badik mencium tombak, pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja segera membetot tombaknya, lalu mematuk serangan ke bagian tubuh yang lain.   

Pertarungan keduanya segera berlangsung seru dan cepat. Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja bukan pesilat sembarangan. Ia seangkatan dengan Datuk Ereng-ereng. Dulunya malang melintang dalam dunia persilatan mulai dari Pulau Silaja, sekitar gunung Lompo Battang dan Bawakaraeng, Gantarang Keke, bahkan sampai di daerah Pantai Selatan Turatea. Sepak terjangnya mengenaskan. Dia dan kelompoknya dikenal sebagai gerombolan hitam yang melakukan pekerjaan membunuh siapa pun yang penting mendapat bayaran. Mereka adalah gerombolan pembunuh bayaran yang berilmu tinggi.

Sementara Ibu Bunga meski bukan satria ternama pada masa itu, namun Dia juga biasa berpetualang. Ilmu silatnya didapat dari ayahnya yang merupakan salah satu guru silat Manca di lereng Gunung Bawakaraeng. Setelah menikah dengan Datuk Ereng-ereng, dia juga memperoleh beberapa ilmu silat Manca Rahasia dari suaminya. Apalagi saat itu Ia berbekal badik bertuah titipan sang suami yang memancarkan pamor berwarna merah tua.

Hebatnya meski pertarungan itu berlangsung cepat, namun kedua orang yang bertarung itu tidak membutuhkan arena yang luas. Di situlah keunikan silat Manca, apalagi Manca Rahasia. Mereka bisa bertarung dalam ruang sempit, ruang gelap, juga di atas selembar dasere. Bahkan yang menguasai ilmu ini dengan matang, bisa bertarung dalam selembar sarung. Tenaga yang mereka gunakan juga bisa difokuskan pada arah tertentu sehingga mereka tidak akan merusak selain yang menjadi sasarannya.  Maka saat itu meski mereka bertarung dalam rumah yang terbuat dari bambu berlantai dasere dan sempit, tapi rumah tidak hancur karenanya.

“Melihat jurus yang dimainkan orang ini serta kemampuan bertarung dan tenaga dalamnya yang hebat, Ia tidak berbohong mengaku sebagai salah satudari Empat Momok Merah Pulau Silaja. Aku harus berhati-hati menghadapinya”. Batin Ibu Bunga sambil terus memainkan jurus Jongka Sagantuju Matanna Anging.  Ia Kini bersiap memainkan jurus tingkat kelima. Ibu Bunga secepatnya harus mengakhiri pertarungan itu, sebab anaknya Bunga yang tengah hamil sembilan bulan dalam intaian bahaya.

Sementara itu, tiga orang lainnya dari anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja telah mengurung rapat Bunga. Mereka rupanya yakin bisa meringkus Bunga dengan cepat, bahkan mungkin tanpa harus bertarung.

Bunga merasa tangannya bergetar, dada berdentam-dentam dahsyat dan keringat membasahi punggungnya. Tegang membekap raga. Cemas menyamaki rasa. Meski telah belajar dasar-dasar Manca Rahasia, tapi sebelumnya dia belum pernah berjuak. Bunga adalah kembang lereng gunung Bawakaraeng. Lambang keindahan. Dia hanya menguar kelembutan dan keharuman, bukan mempermaklumkan kekerasan.  

Kini Bunga harus berhadapan dengan kenyataan. Dunia tak hanya melulu keindahan dan kelembutan, buktinya, kini dihadapannya telah menghadang kekerasan. Untuk sedikit menenangkan diri, tangannya menyelusup ke balik pinggang. Menggenggam badik Lataring Tellu pusaka dari Sang Ayah.

Bersambung...

Tag :

sulsel
  • 658 Dibaca