Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (5)

Burik Cilampakna Kindang


By : IjhalThamaona

 

Baca kisah sebelumnya : Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (4)

Bunga menatap tiga anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja yang tengah mengurungnya. Perasaan Bunga saat itu ibarat digenggam takut mati, dilepas takut terbang. Gundah dan takut, centang perenang tak karuan.

Bunga menggenggam badik Lataring Tellu di balik pakaiannya erat-erat. Ia berusaha keras menindih segala rasa takut, cemas dan tegang.   Perasaan demikian patut dibuang jauh-jauh. Jika tidak  justru akan membuncahkan pikiran dan mempersulit diri. Perasaan cemas akan membuatnya tak dapat berpikir jernih untuk keluar dari situasi yang kalut. Bunga harus menyelamatkan diri. Terutama Ia harus melindungi bayi dalam kandungannya agar luput dari petaka.

“Oh Batara Rihatanku, jangan biarkan ranggasela ini membekap sanubariku.” Bisik Bunga dalam hatinya. Ia menyebut nama yang kuasa berulang-ulang. Tiba-tiba mata Bunga berbinar, selarik pesan ayah melintas dalam bilik ingatannya;

“Dalam situasi runyam maka hendaklah kamu A’manyu-manyuki mange ri Tau ri Ak’rana, berserah diri pada Yang Maha Berkehendak. Percayalah jika ajal belum tiba maka maut berpantang datang.”

Suara ayahnya seolah mengiang-ngiang di telinganya. Bunga serasa mendapatkan semangat berlipat-lipat. Sekilas matanya seperti membersitkan kegarangan. Rahangnya dikatupkan kuat-kuat. Sambil menguatkan tekadnya, Ia berucap, lirih:

“Eja tompi na Doang”

Meski nyaris seperti bisikan, ketiga anggota dari Empat Momok Merah Pulau Silaja, sempat mendengarkan. Salah seorang di antara mereka berkata;

“Apa ? Eja tompi na doang ? Nanti merah baru dikatakan udang…hehe… lebih baik kau menyerah, ucapanmu menunjukkan kau sudah putus asa tapi mau berlaku nekat.”

“Terserah apa katamu, tapi ujar-ujar yang saya tadi ucapkan, bagiku saat ini bermakna saya tak akan pernah menyerah sebelum bertarung dengan kalian.” Tegas  suara Bunga.  Tangannya yang sejak tadi sudah menyuruk ke balik bajunya kini ditarik keluar. Badik Lataring Tellu  terancung tanpa banoang. Terhunus siap bertarung.  Banongnya yang terbuat dari kayu hitam mendekam di balik ikatan sarung Bunga.

Ketiga orang anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja, menatap lekat-lekat badik itu. Di pangkal sumpak kale-nya yang kini tanpa banoang, terlihat tiga gambar bundaran yang diukir bersusun. Salah seorang dari tiga anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja yang tadi bicara, kembali berkata.

“Badik Lataring Tellu tidak untuk bertarung, badik itu hanya hiasan untuk seorang gadis”.

 “Terserah apa katamu, saya tidak peduli. Tapi coba saja mendekat kemari, kita akan lihat apakah kulit kalian sekeras baja.” Jawab Bunga tanpa tedeng aling-aling.

Ketiga anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja  bergerak semakin dekat, mereka mengurung Bunga semakin rapat. Dua orang tiba-tiba menyergap Bunga. Meski sebelumnya Bunga belum pernah berjuak, tapi  jurus-jurus dasar Manca Rahasia masih lekat dalam bilik ingatannya. Begitu dua orang itu menyergapnya dari dua arah secara bersamaan, Bunga menarik kakinya ke Belakang.  Ia menghindari sergapan dengan jurus Sikali Jongka Rua Tassossoro atau lazim dikenal dengan Langkah Setindak Dua Tersungkur. Jurus ini sebenarnya selain satu kaki melangkah menghindar, kaki lainnya menyapu tungkai lawan. Dengan cara seperti itu biasanya lawan akan jatuh tersungkur. Cuma Bunga entah gugup, entah sengaja, Ia tidak menyapu kaki lawannya. Dua lawannya memang tidak tersungkur, tapi justru karena itu, keduanya bertabrakan satu sama lain.

“Sial... !!! Berani melawan rupanya kau perempuan.” Umpat salah seorang dari dua orang yang barus saja saling tubruk.

“Jangan anggap remeh, rupanya dia mengerti ilmu Manca.” Timpal anggota Momok Merah Pulau Silaja lainnya. Sedari tadi orang ini belum bergerak, Ia hanya memperhatikan dua rekannya yang menyerang Bunga dan berakhir dengan saling tubruk.

“Ah...sudahlah, kalau masih mencoba melawan hantam saja lehernya.” Anggota Momok Merah Pulau Silaja lainnya ikut nimbrung.

Pelan-pelan ketiga orang itu mengurung Bunga rapat-rapat. Mereka bertiga belum mengeluarkan senjata masing-masing. Bunga menatap ketiga orang itu berganti ganti. Kemudian memandang ke pakaian yang dia kenakan. Saat itu Ia memang masih menggunakan sarung batik sebagai pakaian bawahnya. Dengan menggunakan sarung, Bunga jelas akan sulit bergerak lincah. Tanpa pikir panjang Bunga merobek bagian bawah sarungnya, persis di bagian tengah memanjang ke atas. Sarung  terbelah. Bunga kemudian mengikat masing-masing belahannya. Dengan cara seperti Ia bisa bergerak sedikit leluasa.

Salah seorang dari tiga orang yang mengepungnya tiba-tiba melompat, bermaksud membekap Bunga dari belakang. Meski tidak melihat jelas, Bunga merasakan ada sambaran dari arah belakangnya. Maka sambil berputar ke belakang, Bunga menyabetkan badiknya dari arah bawah ke atas. Orang yang bermaksud membekapnya dari belakang, terkejut bukan kepalang. Ia tak menyangka Bunga bisa bergerak memutar dengan cepat. Beberapa jenak, orang yang menyerang Bunga dari belakang terkesima.  Namun begitu  menyadari bahaya yang mengintainya, segera Ia bersikap . Buru-buru dia menahan laju lompatannya, sambil merendahkan badan mulai dari pinggang ke atas, sambil  kayang ke arah belakang.

Badik Lataring Tellu menyambar di atas tubuh orang ini.  Luput. Tetapi keterkejutannya beberapa jenak berakibat cukup fatal. Ia terlambat menahan laju gerakannya. Badik Lataring Tellu masih sempat menggores lengan kirinya. Orang ini segera melompat satu tindak ke belakang. Ia memperhatikan tangannya yang tergores badik Lataring Tellu. Goresan itu tidak mengeluarkan darah, tetapi sekelilingnya terlihat membiru.

“Hati-hati, badik di tangan perempuan itu beracun.” Teriaknya pada dua rekannya. Ia sendiri mengeluarkan semacam pisau belati dari balik ikat pinggangnya, kemudian menggores cukup dalam bekas sengatan badik Lataring Tellu. Darah berwarna hitam keluar sedikit demi sedikit. Orang ini segera menekan bagian atas dari goresan tersebut. Mukanya mengernyit menahan sakit. Setelah ditekan darah yang berwarna hitam semakin banyak yang mengucur keluar. Hal ini terus dilakukannya sampai darah yang keluar berubah menjadi merah.

Menyaksikan itu dua anggota Momok Merah Pulau Silaja, mengeluarkan senjatanya masing-masing.  Keduanya juga bersenjata tombak pendek.

“Jangan melukai perempuan itu, cukup sampuk saja badiknya.” Kata salah seorang dari dua anggota Momok Merah Pulau Silaja ini.

Sementara itu, menyaksikan badiknya berhasil menggores lengan kiri lawannya, Bunga justru berdiri termangu. Untuk pertama kalinya Ia melukai seseorang. Bunga baru tersadar ketika seseorang melompat sambil menghantam ke arah tangannya yang memegang badik. Bunga buru-buru bergeser ke samping sambil menarik tangannya. Sampukan tombak memang tidak menghantam tangan Bunga, tapi tetap menyambar badik di tangannya. Bunga merasakan badik di tangannya seakan-akan ingin terlontar dari genggamannya. Merasakan hal itu, segera Ia mencengkamnya kuat-kuat. Tangannya terasa panas dan sedikit perih.

Dari arah yang lain, menyaksikan badik masih belum lepas dari tangan Bunga, anggota Momok Merah Pulau Silaja yang lain ikut menghantamkan tombaknya. Yang diincar lagi-lagi tangan Bunga yang memegang badik. Bunga segera menghindar. Namun kali ini Bunga juga balas menyerang. Badik Lataring Tellu menderu mematuk ke arah lambung orang yang menyampuk badik di tangannya. Yang diserang tidak berusaha menghindar, Ia hanya memutar tombaknya ke bawah menangkis badik Lataring Tellu.

“Aduh...ihhh...” Bunga berseru pelan. Sekali lagi tangannya bergetar. Tapi Ia tak mau melepas badik yang ada dalam genggamannya. Badik Lataring Tellu digenggamnya kuat-kuat meski Bunga harus menggigit bibir menahan perih.

Sementara Ibu Bunga yang mendengar Bunga terpekik kecil untuk beberapa jenak kehilangan konsentrasi. Sepintas Ia melirik ke arah Bunga. Dilihatnya Bunga masih berdiri memegang badiknya tidak kekurangan satu apa pun. Namun dalam  satu pertarungan yang sengit, kehilangan konsentrasi, walau hanya sejenak, bisa berakibat fatal. Itulah yang terjadi dengan Ibu Bunga. Sesaat ketika Ibu Bunga berpaling, pimpinan Empat Momok Merah menyerang cepat dengan tombaknya. Ia menerkam dada ibu Bunga dengan sergapan tombaknya.  Sejengkal lagi tombak ini dari dada Ibu Bunga, barulah orang tua ini menyadari. Secepat kilat Ia memiringkan tubuhnya ke belakang sambil melangkah mundur menggunakan jurus tingkat kedelapan Jongka Sagantuju Matanna Anging. Kaki kanannya menendang ke atas, berusaha menghantam tangan Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja.

Tendangan Ibu Bunga menyipi tangan Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja. Tapi karena serangan tombak datang lebih cepat dan tenaga dalam Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja lebih kuat dari Ibu Bunga, tombak hanya berkisar sejari. Tombak tetap menyerempet bahu Ibu Bunga.

Sesaat setelah Ibu Bunga berhasil lepas dari sergapan tombak pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja, Ia segera memeriksa bahunya yang terasa perih.  Tangannya meraba bahunya. Darah. Luka di bahunya cukup parah meski hanya kena serempet tombak Pancena Silaja.

Tetapi Ibu Bunga tidak sempat berpikir terlalu lama untuk menahan darah yang mulai menetes dari bahunya. Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja, setelah melihat bahu Ibu Bunga terluka, kembali menggebrak. Tombak Pancena Silaja seperti elang menyambar-nyambar dan mematuk ke beberapa titik di tubuh Ibu Bunga. Sambil menahan perih Ibu Bunga berkelebat kian kemari, berusaha menghindar. Kini Ia tidak hanya mengeluarkan jurus Jongka Sagantuju Matanna Anging, tapi juga menggabungnya dengan jurus-jurus yang pernah dipelajari dari ayahnya. Pertarungan sengit kembali terjadi. Meski kini gerakan Ibu Bunga tidak segesit semula. Luka di bahunya, mendatangkan nyeri, yang sesekali terasa menggigit. Rasa khawatir akan nasib Bunga juga memengaruhi konsentrasinya.

Tak jauh dari tempat itu, keadaan Bunga sendiri tidak semakin baik. Beberapa kali ia terpekik kecil ketika senjata-senjata lawannya menghantam badik di tangannya atau merobek pakaiannya. Acap kali senjata lawannya yang berupa tombak-tombak pendek itu memang seperti disengaja merobek beberapa bagian pada pakaian yang dikenakannya. Baju di bagian punggung Bunga sudah menganga bolong. Kulit punggungnya yang bersih putih meta terpampang kini. Kain sarungnya di bagian paha juga telah robek memanjang ke atas. Paha Bunga yang putih mulus itu kini menjadi pusat tatapan dari mata-mata liar dibalik cadar yang menjadi selubung muka ketiga lawannya.

“Menyerahlah anak manis ! Jika tidak....hmmm. pakaian yang kau kenakan bisa kita lucuti semunya.” Salah seorang dari ketiga pengeroyoknya berkata sambil mengedipkan matanya.

Mendengar perkataan orang  itu, Bunga betul-betul muak. Matanya membersitkan sinar kemarahan. Wajahnya yang cantik memerah. Bibirnya yang biasanya melengkung manja, kini terkatup rapat-rapat. Sambil melaung Bunga menyerang orang tersebut dengan tusukan badik Lataring Tellu ke arah mulut nyinyir orang tersebut.

“Tringgg....”

“Auhhh.....”

Terdengar beradunya dua senjata yang diiringi dengan pekikan kecil dari Bunga.

Ternyata orang yang diserang tidak berkisar dari tempatnya. Hanya tangannya yang memegang tombak bergerak ke atas. Tombak pendeknya menangkis tusukan badik dari Bunga. Bunga sendiri yang badiknya disampuk tombak lawan untuk kesekian kalinya berseru tertahan.

Bersambung...

Tag :

sulsel
  • 266 Dibaca