Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (6)

Burik Cilampakna Kindang


By : IjhalThamaona

 

Baca kisah sebelumnya : Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (5)

Di tengah keremangan kabut, pada sebuah ladang di pinggir hutan Bawakaraeng. Dua orang lelaki muda tampak sibuk menyiangi rumput dengan parang.  Salah seorang dari mereka, dari tadi terlihat gelisah. Sesekali Ia berhenti menyabetkan parang pada semak-semak di hadapannya, lalu memandang ke arah perkampungan. Tempat itu memang letaknya berada di ketinggian. Dari sini, Kindang bisa dilihat lebih leluasa.  Namun dalam situasi berkabut seperti pagi itu,  saat sinar matahari pagi yang telah beranjak semakin tinggi belum sepenuhnya mampu membuat cerah suasana,  rumah-rumah, pohon-pohon dan semua yang ada di Kindang hanya terlihat seperti bayang-bayang.  Walau demikian anak muda ini tetap saja mengarahkan pandangannya ke arah kampung itu.

Anak muda yang terlihat gelisah ini mengenakan baju kapa-kapa warna coklat tanah. Baju khas Makassar dengan bagian dada terbelah. Dada anak muda yang bidang  ini terlihat dari balik bajunya. Celananya, saluarabarocci  hitam, celana ringkas yang panjangnya sampai di pertengahan betis. Bagian bawahnya disulam melingkar dengan benang berwarna kuning. Rambutnya yang panjang sampai ke pundaknya diikat dengan passapupatinra terbuat dari serat daun lontar yang dianyam, berwarna merah cerah.  Sebagian rambut pemuda ini tertutup dengan passapupatinranya, sementara rambutnya di bagian belakang, tetap terlihat, terurai sampai ke pundaknya. Passapupatinra ini adalah  pengikat kepala yang dipasang berdiri tegak, dengan simpul pada bagian kepala sebelah kanan. 

Ada kesan gembira dan berwibawa menggunakan passapu dengan model patinra ini. Passapupatinra ini memang biasanya dikenakan dalam kehidupan sehari hari atau saat ada acara-acara pesta.  Walau  demikian, kesan gembira dari passapu ini tidak bisa menghilangkan raut gelisah dari wajah pemuda ini. Padahal jika wajah pemuda ini tidak terlihat muram dan gelisah, Ia akan tampak cukup gagah. Matanya tajam, alis  tebal hitam melengkung tegas, kumis melintang bagas di atas bibirnya. Di tingkahi dengan passapupatinra itu, maka Ia seharusnya makin terlihat cerah dan berwibawa.

“Aduh....”

Tiba-tiba pemuda berteriak. Tangannya Ia kibas-kibaskan.

“Ada apa Daeng Ranrang”. 

Temannya yang berada tak jauh darinya berteriak sambil melompat mendatangi anak muda gagah tapi terlihat muram.  Tubuhnya yang agak pendek dan gemuk seakan kesulitan melompat ke arah anak muda yang dipanggilnya Ranrang tadi.  Usianya sepantaran dengan anak muda yang gagah  itu. Menggenakan passapu yang sama, meski warna yang dikenakan pemuda ini berwarna hitam.  Berbeda dengan Ranrang, meski wajah anak muda ini tidak cakap, tapi parasnya yang bulat berkeringat terlihat ceria. Matanya yang bundar bersinar jenaka.

“Tanganku kena sabet parang. Aku menyiangi rumput sambil memegangi ujung rumput itu dengan tangan kiriku”. Jawab  Ranrang sambil memperhatikan temannya itu dengan senyum simpul. Ia merasa lucu melihat temannya datang melompat dengan perut buncitnya yang bergoyang-goyang dari balik baju kapa-kapanya yang tidak terkancing.

“Ah tidak biasanya kau begitu Daeng, kau orang yang cermat” . Sahut anak muda berperut buncit ini.   “Tapi kuliat memang  hari ini Daeng tidak seperti biasanya. Dari tadi saya perhatikan kau kadang bermenung-menung. Jasadmu di sini tapi pikiranmu mengembara”.
Buru-buru dia melanjutkan ucapannya  sambil tangannya meraup rerumputan,  meremasnya sampai keluar air,  lantas meneteskan  di tangan Ranrang yang luka.

“Entahlah Tompo, tapi ingatanku terus tertuju pada Bunga. Bayangannya terus menari-nari dalam bilik ingatanku”.

“Eh....eh....eh...ingat Daeng !,  Bunga sudah menjadi miliki orang lain. Bukankah ada pesan leluhur yang  harus kita camkan baik-baik teakoalangkai batang, teakongallekaju......” . Ucapan  pemuda gemuk berperut buncit  yang tadi dipanggil Tompo ini, tidak diselesaikannya. Seperti  sengaja menunggu Ranrang yang melanjutkan ujar-ujar itu.

Mendengar ucapan temannya, Ranrang tersenyum simpul. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. 

“Gayamu di situ Tompo, seperti Tu Toa Amang saja, guru tua kita di kampung yang senang  memberi nasihat...”, demikian timpal Ranrang.

Tapi kemudian Ranrang melanjutkan “Teakoalangkai batang, teakongallekajutasanjeng, itu kan lengkapnya Tompo ?”

Tompo tertawa, sambil mengangkat jempol kanannya ke arah Ranrang, kemudian dilanjutkan lagi mengangkat jempol kirinya.

“Tidak ada yang salah dengan yang kau katakan itu Tompo, aku pun mengingat dengan jelas pesan leluhur kita itu, kusimpan dengan rapi dalam bilik ingatanku. Jangan sekali-kali melangkahi batang kayu  dan jangan pernah mengambil kayu yang disandarkan. Begitulah kira-kira yang engkau maksudkan ?”. Sahut Ranrang tidak menghiraukan dua jempol Tompo. Sebab jika diacuhkan bisa-bisa Tompo juga akan mengangkat jempol kakinya.

“E...e..e......jangan salah, itu makna harfiahnya, bukankah ada maksud yang lebih dalam dari itu ?”. Tompo menggoyang-goyangkan telunjuknya tepat di depan wajah Ranrang. Persis gaya Tu Toa Amang, menasihati muridnya.  Tu Toa Amang ini adalah guru tua yang biasa mengajarkan membaca lontara dan beberapa ilmu kesusastraan Bugis-Makassar.

“Jangan pernah mengganggu istri orang dan jangan pernah usil terhadap gadis yang telah dipinang”.  Ranrang menyambar cepat memperjelas maksud sesungguhnya dari pesan leluhur itu.  Ranrang seakan ingin mempertegas pada Tompo temannya itu, bahwa Ia pun paham dan ingat akan pesan leluhur mereka. Apalagi gaya Tompo membuatnya gemas meski juga sedikit terhibur dengan tingkah polanya.
 
“Tompo aku paham dengan pesan leluhur itu. Aku memang pernah jatuh hati pada Bunga, tetapi sejak Ia menjadi miliki La Tahang, semua perasaanku telah saya kubur dalam-dalam. Bunga telah menjadi milik sah dari La Tahang. Bohong jika aku katakan rasa sayangku pada Bunga telah lesap tak berbekas. Tapi aku juga tahu diri. Aku memiliki siri.  Hanya karena harga diri yang bernama siri itulah aku bisa disebut manusia”.  Ucap Ranrang dengan nafas terengah-engah.  Untuk sesaat emosi mengaduk-aduk perasaannya. Air mukanya yang tadi sudah terlihat cerah dengan tingkah Tompo, kembali terlipat muram.

“Maafkan daeng kalau aku membuatmu tidak enak hati”. Buru-buru Tompo menimpali.

“Ah...tidak, engkau benar telah mengingatkanku. Tapi ingatanku pada Bunga ini lain. Aku merasa cemas dengan keadaannya. Bukankah hanya berhitung hari Ia akan melahirkan ?. Sementara La Tahang tidak ada di rumahnya.”

“Dia bersama ibunya daeng”

“Ibunya sudah tua Tompo dan ah....aku tidak mengerti dengan perasaanku ini, rasanya aku ingin melihat keadaan mereka. Lagi pula Bunga masih terhitung sepupuku, aku adalah keluarganya, jika ada apa-apa, aku seharusnya bisa membantunya”. Ranrang semakin terlihat cemas. Ia mondar-mandir  di depan Tompo, temannya.

“Aku mau ke rumah Bunga Tompo, aku ingin melihat keadaan mereka”. Lanjut Ranrang kemudian.

“Daeng Ranrang pertimbangkanlah baik-baik, sebaiknya biar sepulang dari ladang daeng ke sana, bersama Rannu adik perempuan daeng. Aku pun bisa ikut serta”. Timpal Tompo mencoba menghalangi niat Ranrang. Kali ini raut wajahnya terlihat serius.

“Tidak aku mau ke sana saat ini juga”. Sahut Ranrang cepat.
 
“Ingat dulu saat daeng Ranrang membantu membajak di sawah Bunga, lalu Bunga datang membawakan bekal untuk makan siang, lalu daeng duduk berdua di dangau, setelahnya daeng mengantar pulang”. Ucap Tompo sambil menatap dalam-dalam teman karibnya itu.
Dahi Ranrang terlihat berkerut, alisnya seakan mau bertaut mendengar kata-kata Tompo.

“Maksudmu Tompo ?”
 
“Setelah peristiwa itu bukankah berhembus kabar angin yang kurang sedap, desas-desus bahwa Bunga saat suaminya tidak ada malah berduaan dengan dirimu daeng”

“Ah…desas-desus itu” ,  demikian kata Ranrang,  “Tidak usah kau pedulikan lah  itu meski pun dilakukan dengan bergotong royong,  ”.  Ranrang berucap sinis diiringi senyuman yang dingin. 

“Sudahlah,  aku tidak bisa berlama-lama di sini, ada sesuatu yang seakan-akan menarik-narik hatiku untuk melihat Bunga dan ibunya”. Lanjut Ranrang sambil memperbaiki ikatan passapu di kepalanya.  Memasukkan parangnya dengan tergesa-gesa ke dalam banoangnya. Kemudian  melangkah cepat meninggalkan Tompo temannya.

“Eh…tunggu, jangan pergi daeng…ah…sial keras kepala daeng Ranrang ini”

***

Breet…tring…!!!..

Auh..Aduh…..!!

Terdengar pakaian robek dan deting senjata diiringi dengan pekikan lirih. Sekali lagi pakaian Bunga robek di pundaknya. Saat Ia memperhatikan pakaiannya yang sudah robek di beberapa bagian, tiba-tiba salah satu lawannya kembali menghantam badik di tangannya.

Kali ini Bunga tidak bisa bertahan.  Badiknya melayang jatuh. Buru-buru Ia melompat ingin meraih badiknya yang tergeletak di dasere rumahnya. Tapi belum sempat tangannya menjangkau badik itu, satu kaki melayang. Menendang badik Bunga menjauh dari jangkauannya.
Bunga berdiri dengan gemetar. Saat itu Ia memang tidak lagi dibekap ketakutan, tapi geram berbaur sedih yang kini mengoyak-ngoyak perasaannya. Lawan-lawannya dengan sengaja mempermainkan bahkan melecehkan kehormatannya.

“Kurang ajar...! Ayo kita bertarung !. Berikan badikku ! Kalian laki-laki apa bukan, kenapa  bertarung dengan cara licik begini ?”. Teriak Bunga. Suaranya bergetar meninggi. Ketiga lawannya hanya memandangnya sambil terkekeh-kekeh.

“He..he...he.... sudahlah...!,  perempuan cantik sepertimu tidak pantas untuk bertarung”. Salah seorang dari tiga lawannya, dari komplotan Empat Momok Merah Pulau Silaja    menimpali.

“Lebih baik kau diam saja, atau kita bertarung di tempat yang lain, yang lebih asyik dan nikmat”. Kata anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja  lainnya .

“Melihat perempuan cantik yang hamil sembilan bulan, gairahku rasanya naik ke ubun-ubun”.  Anggota ke tiga dari lawannya itu ikut nimbrung bicara.

Bunga semakin gemetar menahan geram yang sudah sampai ke ubun-ubunnya. Matanya berkemilap tajam seakan ingin membakar tiga orang yang tegak di depannya. Tanpa memedulikan pakaiannya yang sobek di sana sini, tanpa menghiraukan dirinya yang lagi hamil besar sembilan bulan, Bunga menerjang dengan garang. Tangannya mencakar ke paras salah seorang lawannya yang tegak paling depan. Yang diserang sambil terkekeh berkisar selangkah ke samping. Bersamaan dengan itu tangannya mendorong pundak Bunga ke samping. Bunga terdorong ke kanan. Dari arah depan, seorang lawannya tiba-tiba bergerak ke arah Bunga yang sedang melintir ke kanan, lalu mendekap Bunga erat-erat.

Merasa dirinya didekap orang, Bunga memberontak berusaha melepaskan diri. Sikunya dihantamkan ke belakang. Kakinya menendang tulang kering orang yang mendekapnya.

“Aduh... sialan kau perempuan binal”. Anggota Empat Momok Pulau Silaja yang mendekap Bunga mengaduh sambil mengumpat.

Tangannya tetap mendekap Bunga erat-erat. Melihat Bunga memberontak dalam dekapan salah satu teman mereka, dua anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja  yang lain datang membantu. Mereka memegangi kedua tangan Bunga. 

Bersambung...

Tag :

sulsel
  • 314 Dibaca