Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (7)

Burik Cilampakna Kindang


By : IjhalThamaona


Baca kisah sebelumnya : Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (6)

Bunga kini betul-betul tidak berdaya diringkus tiga anggota dari Empat Momok Merah Pulau Silaja ini. Jangankan untuk menendang atau pun memukulkan tangannya, untuk bergerak saja Ia kesulitan. Tangannya dipegang oleh dua anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja, sementara dari belakang,  badannya juga didekap dengan kuat oleh salah satu lawannya.

“Kurang ajar kalian...., ayo lepaskan !”. Bunga bertempik. Matanya yang tadi memancarkan sinar kemarahan, tampak berkaca-kaca. Tiga lawannya tidak menghiraukan, malah mereka semakin erat memegang tangan dan mendekap Bunga.

Situasi ini tidak lepas dari pengamatan Ibu Bunga.  Cemas dan marah merasuk sampai ke ubun-ubunnya . Ia berteriak dahsyat.....suaranya melaung menyeruak ke angkasa. Tapi rumahnya yang cukup jauh dari rumah-rumah yang lain membuat tak ada orang yang mendengar teriakan itu. Apalagi saat itu orang-orang kampung rata-rata juga sudah menuju ke ladang atau sawahnya.

Begitu suaranya lenyap, Ibu Bunga  segera merangsek cepat ke arah pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja.  Badik Luhuk Kanre Apia dientakkan bertubi-tubi ke sekujur tubuh lawannya itu. Ia bertarung seperti lupa diri. Cemas akan keselamatan putrinya membuat dia tidak menghiraukan keselamatannya sendiri.  

Semakin engkau hilang kendali, semakin mudah lawan menundukkanmu. Itulah rumus dalam bertarung. Kini Ibu Bunga mengalami situasi itu. Ia menyerang membabi buta tanpa perhitungan. Memang untuk sesaat pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja kelabakan. Ia harus beberapa kali berloncatan mundur. Sambaran sinar merah badik Luhuk Kanre Apia tidak bisa dipandang enteng.  Namun segera Ia menemukan berbagai kelemahan dari serangan Ibu Bunga ini. Maka sambil berkelebat menghindar, tombaknya pun dientakkan pada bagian tubuh Ibu Bunga yang tidak terlindungi.

Serangan pertama masih bisa dihindari Ibu Bunga dengan memiringkan tubuhnya ke kiri. Serangan kedua, tombak pancena silaja haris ditarik kembali karena dipapaki oleh badik Luhuk Kanre Apia. Namun begitu tombak ditarik, lalu dengan cepat menyusup berkelebat ke arah bawah, Ibu Bunga masih berusaha mengelak dengan melemparkan tubuhnya ke samping.

Seettt......Breett....

Suara berkesiuran tombak Pancena Silaja, diringi dengan pakaian  yang robek.  Ketika Ibu Bunga sudah berhasil lepas dari serangan. Ia merasakan lambung sebelah kirinya dingin dan perih.

Luka.....!

Ia kembali kena sambar tombak Pancena Silaja. Tadi luka di pundaknya, kini di tambah lagi luka di lambungnya. Darah dari dua luka di tubuhnya itu merembes keluar membasahi pakaiannya.

Ibu Bunga menggigit bibirnya. Bersiap kembali untuk menyerang.

“Perempuan tua kalau kau ingin melihat putrimu ini perutnya terburai, dan jabang bayi calon cucumu dalam perutnya ikut-ikutan nongol, silakan lanjutkan seranganmu !”.

Satu suara terdengar dari salah seorang  dari tiga orang yang meringkus putrinya. Langkah Ibu Bunga terhenti. Ia memandang ke arah Bunga. Dua tombak kini terancung ke arah perutnya.

Ibu Bunga mengeram.

“Kalian betul-betul pengecut, ayo kita mengadu nyawa, lepaskan anakku itu”. Bentak Ibu Bunga.

“Sudahlah, dikau dan putrimu itu  jelas sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang cepat serahkan kitab yang saya minta”. Kali ini pimpinan Empat Momok Pulau Silaja yang berkata.

“Tidak ada kitab, harus berapa kali saya katakan bahwa kami tidak tahu menahu dengan segala kitab yang kau katakan itu”.

Pimpinan Empat Momok Pulau Silaja mendengus. Tiba-tiba Ia melompat ke arah Bunga, tangannya bergerak cepat.

Breeettt.....

Baju yang dikenakan Bunga pada bagian dadanya yang sudah robek sebelumnya, kini bertambah robek lagi.

“Hei…dikau ingin putrimu ini bugil di depanmu  ha..!. Bentak pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja.

Menyaksikan itu, Ibu Bunga menghentikan gerakannya. Tubuhnya menggigil bagai diserang demam hebat. Marah, cemas tetapi sekaligus tidak tahu harus berbuat apa-apa, membuatnya untuk sesaat mematung dengan tubuh yang bergetar. Sementara Bunga sendiri tak kalah marah dan cemasnya. Matanya yang memancarkan sinar berapi-api tampak digenangi butiran-butiran bening. Ia juga didera kebingungan. Tapi yang paling dicemaskannya adalah ucapan Pimpinan gerombolan itu. Ingin melucuti seluruh pakaiannya. Sekujur tubuhnya akan menjadi santapan mata-mata liar dari gerombolan ini. Jika sudah demikian kejadian yang lebih buruk bisa menimpanya. Bunga menggeleng-gelengkan kepalanya. Memejamkan matanya. Berharap saat ini Ia hanya bermimpi. Tetapi ketika matanya kembali terbuka, ia mendapatkan dirinya masih dalam ringkukan tiga orang yang berpakaian dan bertopeng kain merah.

“Lekas berikan padaku kitab Manca Rahasia Sulappa Appa, kalau tidak seluruh pakaian anakmu ini akan kulucuti dari tubuhnya. Dan.....he..he...anak buahku itu, tidak sepertiku yang hanya tahunya membunuh, mereka doyan pula dengan tubuh perempuan, apalagi yang tengah hamil seperti putrimu itu”. Pimpinan gerombolan ini, menyodorkan tangan kanannya ke depan meminta kitab yang dimaksud, sementara tombaknya dipindahkan ke tangan kirinya.

Ibu Bunga melihat sepintas pada tiga orang yang sedang memegangi anaknya. Mereka terlihat tersenyum-senyum senang, mata mereka jelalatan ke sekujur tubuh Bunga. Ibu Bunga ngeri melihat sorot-sorot mata mereka. Mata itu laiknya mata kucing yang  melihat daging teronggok di depannya. Mata yang benar-benar lapar dan jahat.

“Tidak ada jalan lain, keselamatan dan kehormatan putriku jauh lebih penting dari kitab ini”. Demikian bisik Ibu Bunga dalam hatinya. Perlahan Ia berbalik melangkah ke sudut dinding, di mana sekarung padi terongok di atas sebuah peti kayu yang sudah tua.

***

Sementara itu. Ranraang berjalan cepat menuruni jalanan dari ladangnya menuju ke Kindang. Hatinya semakin berdebar-debar tidak karuan. Dari berjalan cepat, Ia berlari-lari kecil. Di belakangnya Tompo dengan tubuh bulatnya berjalan terpontang-panting mengikutinya. Melihat Ranrang berlari Ia berteriak ;

“Oei...tunggu aku, aku tidak bisa berlari cepat”

Ranrang hanya mengangkat tangannya. Tapi ia tidak berhenti, malah larinya semakin di percepat. Untuk sampai ke kampung Kindang dari ladang tersebut, kira-kira harus ditempuh dalam sepenanakan nasi, cukup lama. Apalagi rumah Bunga berada di ujung sebelahnya dari kampung tersebut.

***

“Bantu aku mengangkat karung berisi padi ini”. Sahut Ibu Bunga setelah sampai dekat karung yang berisi padi yang diletakkan di atas sebuah peti tua.

Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja memberi isyarat pada salah seorang anak buahnya yang memegang Bunga untuk membantu Ibu Bunga mengangkat karung itu. Perlahan-lahan karung berisi padi itu diangkat. Ibu Bunga menarik peti tua yang ada di bawahnya. Membukanya. Tangannya kemudian dimasukkan dalam peti tua itu. Ketika tangannya ditarik sebuah kitab dengan sampul dari daun lontar mencuat keluar. Kitab Manca Rahasia Sulapa Appa. Satu kitab silat Manca Rahasia yang langka. Kitab ini diketahui berisi jurus-jurus silat Manca Rahasia yang hebat dan beberapa ilmu kesaktian.

Menyaksikan itu mata pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja berbinar-binar. Kitab yang dicari oleh berbagai satria baik dari kalangan lurus maupun yang dari dunia hitam, kini ada di depan hidungnya. Tak menunggu lama, pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja melompat ke arah Ibu Bunga. Setelah tegak di hadapan ibu Bunga, tangannya kembali diulurkan ke depan meminta kitab tersebut.

“Berikan padaku cepat !”. Sahut Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja ini.

Ibu Bunga menatap paras muka yang tertutup kain merah itu lekat-lekat. Matanya bersinar-sinar seakan ingin membakar kain penutup wajah itu dan melihat siapa yang berada dibaliknya. Sejurus Ibu Bunga tegak bergeming. Kitab dipegangnya erat-erat.

“Hei apa dikau tiba-tiba jadi budek ha…!. Membentak Pimpinan Gerombolan ini. Tangannya memberi isyarat pada anggotanya yang tengah meringkus Bunga.

“Brettt….”

Sekali lagi terdengar pakaian robek. Kini bagian dada Bunga semakin tersingkap. Bagian atas dadanya yang membukit terpampang jelas. Kali ini Bunga tidak menjerit, hanya air matanya yang semakin menderas.

Ibu Bunga tersentak. Tak ada pilihan. Kitab diangkatnya. Tangan yang memegang kitab diangsurkan ke depan. Buru-buru Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja menyambarnya. Begitu tangannya menyentuh Kitab itu,  di langit tiba-tiba kilat menyambar, guruh meledak dua kali. Meski pun suasana berkabut, dan saat itu telah memasuki ujung musim kemarau,  tapi mendung tidak menggantung di angkasa. Adalah aneh ketika kilat dan petir datang menyambar diangkasa.

Ibu Bunga tertegun sesaat, Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja terhenyak. Ia sampai surut selangkah. Anggota Momok Merah yang ikut membantu Ibu Bunga mengangkat karung terlonjak kaget sambil memegang dadanya. Sementara dua orang yang memegang Bunga sejurus merenggangkan tangannya. Bersamaan mereka mendongak ke atas, walau tentu saja pandangannya segera terhalangi atap rumah.

Saat itulah tiba-tiba selarik sinar merah tua berkiblat ke arah pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja. Sambaran Badik Luhuk Kanre Apia.

Sesaat setelah guruh meledak di langit, Ibu Bunga melihat ada kesempatan untuk menyerang. Lawan-lawannya saat itu sedang terbagi perhatiannya terhadap ledakan guruh yang mengagetkan itu. Ibu Bunga sendiri sempat tertegun, tapi segera menyadari situasi. Maka badik Luhuk Kanre Apia yang masih terhunus di tangannya dengan cepat menohok ke depan.

Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja baru tersadar setelah Ia merasakan sambaran hawa panas yang mengarah ke tubuhnya. Sekilas Ia melihat cahaya merah berkiblat ke arahnya. Ia segera sadar serangan berbahaya tengah mengincarnya. Dalam situasi demikian Ia  melontarkan tubuhnya ke samping, tanpa sadar tangannya yang memegang kitab di sampukkan ke arah cahaya yang berkiblat. Sambil melontarkan dirinya, tombak yang berada di tangan kirinya dilantingkan ke arah tubuh Ibu Bunga. Tombak melesat cepat dalam jarak pendek.    

“Plakk..”.

“Desss...”.

“Ahhh….”

Ibu Bunga berdiri terdiam. Sebilah tombak pendek menancap di lambungnya. Jika sebelumnya, tombak itu hanya menyerempet , kini tombak itu betul-betul menancap di lambungnya. Ia memegang tangkai tombak yang pendek. Darah mengucur deras. Untuk sejurus lamanya Ia berdiri dengan kaki goyah. Tubuhnya bergetar.

Sementara itu, hal luar biasa terjadi saat badik Luhuk Kanre Apia menerpa Kitab Manca Rahasia Sulapa Appa. Hawa panas yang menghampar dari sumpak kale badik itu  seakan ditangkis oleh hawa dingin yang memancar dari kitab. Sementara pamornya yang menyala merah redup bagai diguyur dengan air. Pamor yang merah menyala bagai api itu, untuk sejurus terlihat meredup di tangan Ibu Bunga yang mulai gemetar. Namun tak lama kemudian kembali memancarkan warna merah tua seperti semula.

Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja memperhatikan kitab di tangannya. Terlihat sampul kitab itu tergores, namun tidak sampai robek.

“Luar biasa, kitab ini memang betul-betul luar biasa”. Ucapnya lirih.  Perhatiannya kini beralih ke arah ibu Bunga.

Saat itu Ibu Bunga yang awalnya bisa berdiri meski terlihat goyah, perlahan mulai terduduk. Kakinya yang gemetar tak bisa lagi menyanggah tubuhnya. Sementara itu rasa perih seperti mengiris-ngiris lambungnya. Mukanya semakin pucat. Darah semakin banyak keluar. Mulutnya berucap, meski nyaris seperti bisikan.

“Bunga, selamatkan dirimu nak !”

Beberapa langkah dari tempat itu, Bunga yang sedang diringkus oleh dua anggota gerombolan itu, melengak menyaksikan kondisi ibunya. Matanya yang sedari tadi sembab oleh butiran air, terbelalak menyaksikan ibunya yang berdiri gemetar, kemudian akhirnya jatuh terduduk. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut Bunga. Mulutnya bergerak-gerak seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak ada seuntai kata pun yang keluar.

Tiba-tiba Bunga merasa pandangan matanya mengabur. Di hadapannya hanya ada warna yang kelabu. Atap rumah terasa semakin merendah mengimpitnya, sementara dinding rumah bergerak menjepit tubuhnya. Warna kelabu semakin pekat. Lalu semuanya tiba-tiba berubah menjadi gelap.

Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja memberi isyarat meninggalkan tempat itu. Dua orang yang memegang Bunga saling pandang.

“Bagaimana dengan perempuan ini ?”. Tanya salah seorang di antara mereka.

“Tinggalkan saja, merepotkan jika harus membawanya”. Jawab Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja ini.

“Tapi sayang sekali, perempuan ini cantik. Meski sedang hamil tapi tidak membuat aku kehilangan gairah terhadapnya”. Kata salah seorang yang memegang Bunga.

“Pokoknya kau tidak bisa membawanya”. Kata pimpinan mereka.

“Baik ketua, tapi biarkan saya memondong perempuan ini ke kamarnya kasihan kalau harus diletakkan di sini”. Ucap anggota Empat Momok Merah Pulau Silaja yang dari tadi terlihat segan meninggalkan Bunga. Sambil berucap demikian tangannya mengelus punggung Bunga yang terbuka. Matanya terlihat menyala-nyala dipenuhi gairah. “Silahkan kalian berangkat dulu nanti aku menyusul”.  Demikian Ia lanjutkan ucapannya.

“Kita sama-sama daeng, biar aku juga menyusul belakangan”. Timpal temannya yang ikut memegang Bunga.

“Aku....”. Anggota Empat Momok Merah yang lain, yang tadi membantu mengangkat karung yang di bawahnya terletak peti tempat menyimpan kitab,  ikut menimpali. Namun Ia tidak melanjutkan ucapannya, Pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja sudah memotong.

“Tidak...., kau ikut denganku”. Sambil berkata demikian, pimpinan gerombolan ini melangkah ke hadapan Ibu Bunga. Mencabut tombaknya. Bersamaan dengan itu Ia berusaha merampas badik yang ada di tangan Ibu Bunga.  Ibu Bunga yang masih sadar mencoba mempertahankan badiknya. Apalagi Ia mendengar semua percakapan tadi. Ia sadar betul, Bunga putrinya berada dalam keadaan bahaya. Mungkin nyawa putrinya itu akan selamat, tetapi sesuatu yang lebih mengerikan segera akan merenggutnya.

Dengan kaki yang semakin gemetar dan tubuh yang semakin lemah Ibu Bunga menyentakkan badiknya. Tetapi semuanya hanya bisa dilakukan setengah jalan. Tombak Pancena Silaja yang tadi sudah tercabut dari lambungnya kembali berkelebat. Bagian sisinya yang setajam mata pedang berkesiuran menyambar ke arah leher Ibu Bunga. Ibu Bunga berdiri tertegun. Kini tidak hanya lututnya yang gemetar. Bagian tubuhnya terasa dilucuti satu demi satu. Lalu hawa dingin terasa mengelumuni tubuhnya. Tangannya berusaha menggapai lehernya yang kini juga basah oleh darah. Tapi tangannya tidak pernah sampai. Perlahan bayangan kelam seperti datang menyongsongnya. Tangannya yang diangkat terkelepai.  Badik Luhuk Kanre Apia jatuh. Lalu seperti seonggok karung basah, tubuhnya terhempas ke dasere rumah.

Begitu Ibu Bunga roboh, pimpinan Empat Momok Merah Pulau Silaja berkelebat ke pintu setelah sebelumnya menyambar badik Luhuk Kanre Apia di lantai. Seorang anggotanya ikut menyusul di belakangnya. Sementara dua anggotanya yang lain dengan tertawa-tawa memondong tubuh Bunga yang pingsan ke kamar.

Saat itu matahari sebenarnya telah berada di puncaknya, kabut mulai sirna, namun suasana muram kini justru semakin kelabu.  Awan mendung bergulung-gulung di angkasa, pekat, seakan muntahan dosa-dosa dari neraka.  Angin meradang, datang mengentak-entak. Daun-daun berkesiuran geram. Pepohonan bergoyang dahsyat bagai tangan-tangan raksasa yang menggapai-gapai berusaha menghalangi sesuatu.  Langit, bumi , gunung dan segenap mayapada merampang.

Dalam suasana kelabu itulah, saat alam seakan memuntahkan murkanya, seseorang berlari dengan cepat. Lalu semakin cepat, menerjang semak-semak, dan bagai terbang melompati rawa-rawa. Ia bagaikan berlomba dengan angin yang juga mengentak-entakkan tiupan yang searah dengannya. Bersamaan dengan itu, lamat-lamat dari kejauhan terdengar pulau derap kaki kuda yang berlari sangat cepat.  Suara kaki kuda itu juga seperti berpacu menuju ke rumah Bunga. Dari suara kaki kuda yang berderap timbul tenggelam, jarak orang yang menunggang kuda ini masih lebih jauh dari orang yang sedang berlari cepat tadi.  

Dua orang.  Satu berlari bagai terbang, dan yang lainnya berpacu dengan kuda bagai dikejar setan. Tapi, jangankan terbang, jangan pula berpacu kuda bagai dikejar setan, andai pun keduanya bisa melipat bumi, memendekkan jarak dan menghentikan waktu, tak akan bisa mengubah garis hidup yang sudah disuratkan. Semua boleh menginginkan yang lain, tapi suratan Tuhan itu jualah yang terjadi. Ibarat kata; ‘Lain diniat lain ditakdir, lain diacah lain yang jadi’.

Bersambung...

Tag :

sulsel
  • 390 Dibaca