Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (8)

Burik Cilampakna Kindang


By : IjhalThamaona


Baca kisah sebelumnya : Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (7)

Sosok itu bagai terbang menaiki tangga rumah Bunga. Namun begitu berada di depan pintu rumah Bunga yang hancur berantakan, Ia bagaikan dipaku ke dasere. Sejurus ia tegak bergeming bagai dicengkau suatu pesona. Namun setelah tersadar orang ini segera menghambur masuk ke dalam. Tapi begitu mendapatkan sosok orang yang menggeletak di lantai, langkahnya terhenti tiba-tiba.

“Celaka-celaka...., Ibu Bunga ketewasan”. Bisik orang ini dengan bibir bergetar. Wajahnya pucat.

Ia melihat beberapa luka di tubuh Ibu Bunga. Dengan gemetar tangannya bergerak memeriksa luka-luka itu, sekaligus memeriksa denyut nadi Ibu Bunga.  Berkali-kali Ia memeriksa nadi Ibu Bunga, tetapi ia sama sekali tidak mendapatkan lagi tanda-tanda kehidupan.

“Dia sudah  tiada. Batara Rihatanku musibah apa yang menimpa mereka”. Gumamnya perlahan. Tiba-tiba saja Ia tersentak.

“Bunga....Bunga....di mana dia”.  Orang ini segera berdiri, matanya menyusuri seluruh rumah yang tidak seberapa besar itu. Matanya tertuju pada pintu kamar yang terbuka. Dengan langkah panjang-panjang Ia menuju ke kamar itu. Begitu pandangannya tertumbuk pada sesosok tubuh di atas ranjang, tanpa sadar Ia memekik.

“Bunga...!!”. Orang ini segera melompat mendekati Bunga. Ia tidak melihat luka di tubuh Bunga, tapi saat itu tubuh Bunga nyaris telanjang. Yang lebih membuat orang ini mendelik kaget saat menyaksikan darah mengalir di selangkangan Bunga.  Orang ini segera memeriksa denyut nadi Bunga.

“Masih hidup”. Ucapnya lirih. Ia menyambar kain sarung yang tergelatak di tempat itu, menutupi tubuh Bunga yang nyaris telanjang lalu buru-buru memondongnya ke luar. Ia berlari menuju tangga dan tepat pada saat itulah seekor kuda yang berlari dengan kecepatan tinggi berbelok masuk ke rumah Bunga.

Seorang lelaki melompat dari atas kuda. Orang yang memondong Bunga seketika menghentikan langkahnya. Sementara lelaki yang baru datang menatap lekat-lekat ke arahnya.

“La Tahang….”.Ucap orang yang memondong Bunga.

“Daeng Ranrang….”. Timpal, orang yang baru datang yang tidak lain adalah La Tahang adanya. La Tahang memperhatikan orang yang dibopong oleh Ranrang. Matanya tampak berkilat-kilat marah.

“Daeng Ranrang, perbuatan jahat apa yang telah kau lakukan”. Teriak La Tahang dengan gusar.

“La Tahang, saya mohon jangan salah paham, aku juga tidak tahu apa yang terjadi tapi saat ini yang paling penting kita menyelamatkan nyawa Bunga dan nyawa calon anakmu”.

“Menyelamatkan nyawa Bunga ?, nyawa anakku ?. Anak yang mana ?”.

“Sudahlah….ayo cepat bawa Bunga ke nenek Minasa”

“Tidak…tidak ada yang bisa meninggalkan tempat ini”. Sahut La Tahang, suaranya seperti teriakan. Tangannya terkepal menggantung di kedua sisi tubuhnya. Matanya menyala-nyala menatap Ranrang. “Letakkan kembali Bunga di tempat di mana engkau mengambilnya”

“La Tahang…sekarang bukan saatnya saya berbantah denganmu, ambil istrimu bawa ke atas, sekaligus kau lihatlah apa yang terjadi atas Ibu Bunga,  mertuamu. Sekarang saya akan mencari Nenek Minasa. Semoga Bunga baik-baik saja, nanti kau bisa minta penjelasan padanya mengenai apa yang terjadi ”.

Tanpa menghiraukan La Tahang, Ranrang bergerak maju ke depan kemudian mengangsurkan tubuh Bunga ke La Tahang. Mau tidak mau La Tahang menerima sosok Bunga lalu memondongnya. Sesaat Ia memperhatikan wajah Bunga yang pucat, kemudian beralih ke arah bagian bawah tubuhnya, dilihatnya darah mengalir semakin banyak. Melihat itu, meski rasa gusar masih memukul-mukul dadanya, tak ayal Ia pun tercekat. Buru-buru La Tahang memondong tubuh Bunga lalu bergegas naik ke atas rumahnya.

Begitu Ranrang menyerahkan tubuh Bunga ke La Tahang. Ia pun segera hendak berlalu dari tempat itu, namun dari arah depan Tompo datang berlari dengan terengah-engah. Belum sempat Tompo berkata. Ranrang sudah mendahului bicara.

“Tompo cepat engkau ke tempat meronda, pukul kentungan tanda bahaya. Kau juga bawa beberapa orang ke sini. Aku sendiri akan menjemput nenek Minasa”.

“Tunggu… daeng…., ah…tu…tunggu dulu ada apa…?”. Timpal Tompo dengan terbata-bata.  Dadanya terlihat kembang kempis, sementara nafasnya masih mengap-mengap.

“Sudahlah tidak usah banyak tanya, ini ketewasan…., cepat lakukan saja apa yang saya katakan”.   Sahut Ranrang sambil melangkah meninggalkan tempat itu dengan setengah berlari. Tapi baru beberapa langkah Ia menghentikan langkahnya.

“Lebih baik aku naik kuda itu supaya aku bisa menjemput Nenek Minasa lebih cepat”.

Sementara itu begitu La Tahang sampai di atas rumahnya dan menyaksikan Ibu Bunga, mertuanya terbaring bersimbah darah, Ia berseru tertahan. Buru-buru Ia memondong Bunga ke dalam kamarnya dan meletakkan di atas pembaringan. Selanjutnya Ia berbalik keluar memeriksa tubuh ibu Bunga. Namun tubuh Ibu Bunga yang bersimbah darah sudah kaku dan dingin. La Tahang duduk terhenyak. Mukanya menjadi pucat pasi, tubuhnya gemetar dan bibirnya bergetar. Ia betul-betul terkesiap menyaksikan apa yang sekarang terjadi di depan matanya.

***

 “Aduh…!!!”

“Terus dorong keluar nak, sedikit lagi”.  Nenek tua itu memberi semangat. Tangannya mengelus-ngelus perut Bunga sesekali ia meniupkan mantra-mantra di ubun-ubun perempuan cantik itu.

Bunga kini tengah berjuang keras. Ia harus mengeluarkan jabang bayi dari perutnya. Dalam keadaan setengah sadar, yang diingat olehnya adalah saat itu dirinya tengah mengandung sementara sesuatu yang sangat perih dirasakan menyayat-nyayat selangkangnya. Ia melihat darah mengucur dari selangkanya. Naluri keibuannya mengatakan ada hal yang membahayakan anak yang dikandungnya. Karena itu begitu mendengar suara, meski samar, yang memerintahkan Ia untuk mengedang, mendorong keluar si jabang bayi, ia pun berusaha sekuat tenaga.

Bunga tidak sadar dengan kondisi tubuhnya yang lemah dan di beberapa tempat terlihat memar-memar. Bahkan Ia pun tak sadar bahwa sesungguhnya saat itu dirinya setengah tidak sadar dan baru saja mengalami peristiwa memilukan. Dalam bilik ingatannya, hanya ada satu, jabang bayi harus selamat. Jika perlu nyawanya Ia pertaruhkan.

Bunga terus mengedang, matanya terpejam, bibir dan mukanya pucat, sementara keringat membanjir di sekujur tubuhnya. Syukurnya pendarahan tidak sebanyak tadi.  Meski tidak sepenuhnya berhenti nenek Minasa telah berusaha menahan dengan keahlian sebagai sanro anak  dan obat yang dimilikinya.  Saat ini darah memang masih menetes keluar setiap kali Bunga mengedang, namun tidak sebanyak tadi. Beberapa perempuan yang ada di sekitar Bunga mengelap keringat Bunga di dahinya. Yang lain mengipasinya. Beberapa orang komat-kamit melantunkan doa-doa pada Yang Maha Kuasa. Mereka semua terlihat dicengkau perasaan tegang.  Hanya nenek Minasa yang terlihat berusaha untuk tenang, meskipun sinar matanya tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.

Di luar kamar La Tahang, Ranrang, Tompo dan beberapa lelaki terlihat duduk bergeming. Tak ada suara yang terdengar dari mereka. Hanya sesekali La Tahang terdengar mendesah. Ranrang menghisap rokok kawungnya dalam-dalam. Tompo beberapa kali melongok ke arah kamar.  Rumah yang semakin sempit dengan datangnya beberapa orang itu, terasa pengap. Meski udara  senja di Kindang terasa dingin menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum  tapi orang-orang di atas rumah itu terasa gerah didera gelisah.

Ketika senja kehilangan garis merahnya dan gelap luruh ke Bumi, tiba-tiba petir menyambar di angkasa. Senja yang segera akan dipeluk oleh kegelapan itu terasa bergetar. Sekali lagi petir meledak di angkasa, suaranya seakan-akan ingin membelah bumi. Rumah kecil Bunga yang terbuat dari bambu itu berderak-derak. Bersamaan dengan itu, seperti ditumpahkan dari langit hujan mencurah dengan derasnya.  Saat itulah, seorang perempuan tergopoh-gopoh keluar dari kamar.

“Sudah keluar...sudah keluar....”

“Apa yang keluar, perjelas kata-katamu”. Timpal Tompo. Sementara orang-orang yang ada di tempat itu menegakkan kepalanya.

“Maksudku sudah lahir, seorang anak laki-laki, tapi....”.

Perempuan ini tidak menyelesaikan ucapannya. Dua orang bersamaan bangkit. La Tahang dan Ranrang. Namun Ranrang segera menahan langkahnya, dibiarkannya La Tahang bergerak duluan, kemudian Ia mengikutinya.

Begitu La Tahang sampai di dalam kamar, dilihatnya Bunga masih tergeletak tak sadarkan diri. Kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya berlumuran darah. Nenek Minasa tampak memijit-mijit beberapa bagian dari tubuh Bunga. Mulutnya komat-kamit. Sementara seorang perempuan tua lainnya terlihat mengoleskan ramuan di tubuh Bunga.

“Anakmu selamat..., tapi istrimu kondisinya sangat lemah. Pendarahan dan apa yang dialaminya sebelum melahirkan membuat ia berada dalam keadaan bahaya”. Kata nenek Minasa. La Tahang tidak menanggapi, Ia bergerak menuju ke orang yang sedang menggendong bayi yang baru terlahir itu. Tangannya membuka sarung yang dipakai menutupinya.

“Astaga...”. La Tahang berteriak tertahan. Ia surut ke belakang. Lalu pelan-pelan ia kembali maju menatap lekat-lekat bayi laki-laki yang sedang berada dalam gendongan seorang perempuan. Matanya terbelalak. Bibirnya bergerak-gerak. Raut mukanya berkernyit, sesekali terlihat memerah namun kadang berubah menjadi pucat pasi.   Dalam gendongan perempuan itu dilihatnya seorang bayi laki-laki. Sebenarnya wajahnya adalah rupa bayi laki-laki yang gagah. Hidungnya bagas, bibirnya terlihat pas di atas dagunya yang bagus. Di atas matanya yang terpejam, dua alisnya tebal hitam melintang. Ketika mata anak itu membuka, seakan balas menatap ayahnya. Mata yang bundar itu seolah-olah bersinar gembira.

Yang membuat La Tahang melengak kaget adalah  sebelah kiri pipi dari anak itu dipenuhi bintik-bintik berwarna coklat kehitaman. Sementara bagian kanan bawah dari pipinya, terus turun ke leher  seperti ditumbuhi sisik-sisik halus berwarna keperakan.  Sementara rambut bayi ini sangat lebat, anehnya rambut itu tidak berwarna hitam, layaknya rambut-rambut bayi lainnya. Tapi berwarna putih seperti perak. Hanya pada bagian depan, persis di tengah kepalanya, terlihat sejumput rambut berwarna hitam.

Raut tampan dari bayi ini tertutupi oleh totol-totol berwarna coklat kehitaman dan sisik yang berwarna keperakan. Tampang  bayi itu jadinya terlihat aneh, bahkan terkesan angker. La Tahang mundur beberapa tindak. Ia hampir menabrak Ranrang yang ada di belakangnya.  Ranrang menyisi.  La Tahang menatapnya dalam-dalam, sinar matanya memancarkan amarah.  Seribu kata-kata, atau tepatnya sumpah serapah seakan-akan ditumpahkan melalui tatapan matanya yang sengit itu. 

“La Tahang, harap kau mencari tabib untuk istrimu, aku hanya bisa membantunya melahirkan, tapi akibat dari pendarahan ini terus terang saya tidak bisa mengobatinya”. Terdengar Nenek Minasa berucap lirih.  Meski demikian semua orang dalam kamar yang sempit itu bisa mendengarnya.

“Cari Sanro Kalu di kampung Muntih, Ia tabib yang hebat”. Kata Nenek Minasa, setelah dilihatnya La Tahang masih tegak menatap Ranrang.

“Nenek Minasa kau suruh aku pergi sementara di sini tidak ada yang jaga Bunga. Saya tidak akan biarkan Bunga diurus oleh orang tak berhak”. Sahut La Tahang tiba-tiba. Sambil mengatakan itu tatapan matanya lekat-lekat tertuju pada Ranrang.

Ranrang menghela nafas, Ia paham La Tahang menyindirnya. Maka sambil berdehem, Ia pun berkata :

“Biar aku dan Tompo yang mencarinya Nek”.  Setelah mengucapkan kalimat itu, Ranrang segera berbalik, keluar dari kamar itu.  Selanjutnya Ia menemui Tompo. Sejurus kemudian keduanya tampak berbincang-bincang serius

La Tahang sendiri tidak berkata apa-apa. Untuk sesaat Ia masih tegak dalam kamar itu memandang bergantian antara anak bayi yang merupakan darah dagingnya dan pada istrinya Bunga. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia tidak juga mengambil dan mengendong anaknya. Tidak pula mendekati Bunga untuk sekedar menyentuh atau melihat lebih jelas keadaannya. Sejurus kemudian, La Tahang malah melangkah keluar dari kamar. Terus melewati ruang tamu, lalu keluar melewati pintu. Tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda meninggalkan rumah itu membelah pekatnya malam yang diguyur oleh hujan yang bagai tumpah dari langit.

Bersambung....

  • 207 Dibaca