Sumber foto : Pixabay

Sepasang El-Maut Aneh dari Bawakaraeng

Serial Burik Cilampakna Kindang

Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng Episode XI


By : IjhalThamaona

Baca Kisah Sebelumnya : Bayangan Misterius di Puncak Bawakaraeng (10)

Dua pukulan dahsyat menggebu ke arah bayangan dalam kabut. Saat itulah kabut yang menggantung beberapa tombak di atas tanah itu semakin menebal.  Kabut yang tadinya masih bisa ditembus pandangan mata dengan menggunakan ilmu tertentu, kini semakin sulit, karena pekatnya.  Kabut semakin tebal bergumpal-gumpal. Malah kini dari kabut ini tampak menetes butiran-butiran air, semacam tetesan embun. Udara yang sempat terasa panas, akibat dua pukulan yang dilepaskan oleh nenek Canning dan orang yang dipanggil Kamannyang, tertindih dengan udara yang semakin dingin. Udara di puncak Bawakaraeng yang memang dinginnya sudah mencucuk tulang,  kini semakin menggigil. Udara seakan mengalirkan hawa yang membekukan darah.  

“Dess…desss….”

Dua pukulan susul menyusul menghantam kabut tebal nan pekat itu. Jangankan hanya sekadar kabut, batu cadas sekalipun akan hancur lebur dihantam salah satu dari dua pukulan sakti ini, apalagi jika dua pukulan bersamaan dilontarkan.  Kedua orang yang melepas pukulan memandang tajam ke arah kabut yang menggantung beberapa tombak di atas mereka itu. Keduanya yakin, kalaupun sosok di balik kabut bisa menyelamatkan diri, tapi  kabut pasti akan ambyar dan sosok dibaliknya pasti akan segera terlihat. Namun ketika dua pukulan dahsyat itu tepat menghantam pertengahan kabut tebal yang menggantung di angkasa,  kabut hanya terlihat bergoyang-goyang, tapi tidak musnah sama sekali. Dua pukulan yang dilepas seperti amblas terserap ke dalam kabut tebal itu. Di saat yang sama kedua orang tua sakti yang melepaskan pukulan ini seakan ditindih hawa dingin yang sangat kuat. Nafas mereka menjadi berat, bahkan tampak mengepulkan uap. Paru-paru mereka berdua seperti disesaki ribuan es yang menusuk-nusuk. Aliran darah terasa membeku.

“Luar biasa...luar biasa...dua pukulan hebat”. Terdengar suara dari dalam kabut tebal itu.

“Rupanya engkau, Calalai Maut dari Bawakaraeng, sudah sempurna menguasai pukulan sakti Purnama Bersinar Badai Melanda, salah satu dari tiga rangkaian pukulan hebat”. Sosok yang berada di balik kabut itu melanjutkan ucapannya. Suaranya jelas terdengar dalam malam yang memang tengah dipeluk oleh kesenyapan itu.

Nenek Canning meski mendengar ucapan orang, namun tidak berkata apa-apa. Sebaliknya Ia segera duduk bersila sambil merangkapkan dua tangan di depan dadanya. Lalu perlahan-lahan Ia menghimpun tenaga inti api dalam perut, lantas berusaha mengalirkan ke seluruh pembuluh darahnya.  Udara dingin membekukan yang keluar dari gumpalan kabut itu dan seakan-akan menindih nenek Canning membuat aliran darahnya tidak lancar. Ia merasakan darahnya seperti membeku oleh udara dingin yang keluar dari gumpalan kabut.  

Udara dingin yang menindih tubuh dan membekukan aliran darah, juga dirasakan oleh orang yang berada di sisi nenek Canning.  Orang yang dipanggil Kamannyang ini pun segera melakukan tindakan yang sama dengan yang dilakukan oleh nenek Canning.  
    
Hawa hangat yang semakin lama semakin panas terasa berputar melingkar-lingkar dalam perut kedua orang itu, naik ke dada, terus menyusup ke aliran darah mereka. Asap tipis keluar dari atas kepala dua orang tersebut. Perlahan-lahan keduanya bisa merasakan darah mereka menjadi hangat kembali. Lalu  mereka berdua mulai merasakan darah masing-masing mulai mengalir lancar. Keduanya masih tetap dalam posisi semula. Duduk bersila,dan kedua tangan masih dirangkapkan di depan dada masing-masing. Ketika akhirnya udara dingin yang menyelubungi sekeliling mereka mulai bisa diatasi, barulah keduanya berhenti menghimpun tenaga murni inti api. Tangan mereka yang tadinya dirangkapkan di depan dada,  kini menggantung lemas di kedua sisi tubuh mereka masing-masing.

Begitu keduanya terlepas dari belenggu udara dingin, hampir bersamaan keduanya segera berdiri sembari mendongak ke atas. Mereka memandang ke arah segugus kabut tebal yang tampaknya mulai bergerak  dengan pelan. Melihat kabut itu bergerak naik, orang yang dipanggil Kamannyang kembali akan menghantam dengan satu pukulan. Tapi Nenek Canning segera menahannya.

“Jangan…Kamannyang, biarkan saja !”

“Hei…kenapa kau menghalangiku Canning, bukankah makhluk yang berada di balik kabut itu sudah bersikap kurang ajar. Siapa pun adanya,  sosok itu telah  melecehkan kemampuan kita”.

Nenek Canning baru akan membuka mulut, ketika dari balik kabut yang melayang semakin tinggi itu kembali terdengar tawa yang disertai dengan ucapan yang membuat telinga yang mendengarnya berdentam-dentam tidak karuan.

“He…he….he…., tidak usah buang-buang tenaga melepaskan pukulanmu Calabai Maut Bawakaraeng !.Simpan tenagamu !. Aku berharap kehebatan pukulan Kamannyang Merahmu itu kau gunakan kelak jika engkau bertarung menghadapi Siluman Puncak Lompobattang”.  

Suara itu pelan dan sareh, dan kali ini tidak dilambari oleh kekuatan tenaga dalam, tapi tetap saja mendatangkan perbawa yang mencengkau.
 
Begitu suara dari balik kabut itu sirna, kabut itu semakin melayang dengan cepat ke atas. Suara tawa sosok dari makhluk itu masih terdengar. Namun semakin tinggi kabut itu melayang, suara tawa itu semakin terdengar perlahan.  Bersamaan dengan sirnanya suara tawa dari sosok di balik kabut itu, dari dalam kegelapan, kembali terdengar suara gumaman, bahkan sesekali seperti  suara geraman.

Orang yang dipanggil dengan gelar Calabai Maut Bawakaraeng itu mendengus marah. Namun Ia tidak bisa menghantam pukulan jarak jauh ke arah kabut itu. Di samping karena kabut bergerak semakin tinggi, Nenek Canning juga memegang tangannya. Karena kesal orang ini akhirnya mengentak-entakkan kakinya ke tanah. Sambil merenggut kesal Ia berkata.

“Ihh....kalau kau tidak menghalangiku sudah aku sikat makhluk tak jelas itu”.  

“Sudahlah, siapa pun adanya sosok dibalik kabut itu, dia bukan makhluk sembarangan. Saya tidak bisa meraba, sosok itu makhluk apa adanya. Namun yang pasti dia sangat hebat, tapi tidak bermaksud jahat pada kita”. Jelas Nenek Canning sambil menatap  Kamannyang yang ada di depannya.  Dilihatnya Kamannyang masih bersungut-sungut. Bahkan ketika Nenek Canning menatapnya lekat-lekat, Ia memalingkan kepalanya menghadap ke arah rembulan, lantas tangannya merogoh sesuatu dari balik bajunya.  

Dari balik bajunya itu, Kamannyang keluarkan cermin kecil.  Dengan bantuan cahaya rembulan Ia melihat bayangan mukanya di dalam cermin. Tangannya sibuk merapikan pupur yang basah oleh embun.  Setelah itu Kamannyang  mengambil lagi botol kecil dari balik baju,  menuangkan sesuatu dari botol itu ke telapak tangan, lalu menggosokkan di leher dan tengkuknya.  Begitu Ia selesai menggosok leher dan tengkuknya,  bau angker kemenyan santer tercium.  Keadaan tiba-tiba terasa seperti berada di kuburan. Rupanya botol itu berisi semacam minyak wangi  yang berbau kemenyan.  
 
Saat rembulan menerpa wajah orang yang disebut dengan Kamannyang ini, maka jelaslah parasnya.  Wajah yang penuh dengan riasan. Berbeda dengan Nenek Canning yang meski jelas adalah seorang perempuan, tapi membiarkan wajahnya tanpa polesan sama sekali,  Kamannyang ini sebaliknya. Wajahnya yang sudah keriput itu diberi pupur berlapis,  bibirnya dipoles gincu tebal dan alisnya dicukur rapi kemudian diberi penghitam. Alisnya itu tampak hitam kereng melintang di atas dua matanya yang berbulu lentik.  Bulu mata palsu juga agaknya.

 Jika hanya melihat paras-rupanya, maka tidak jelas apakah orang ini sudah tua atau masih muda, justru karena tebalnya riasan yang digunakan. Namun melihat lehernya yang telah merunyut, tangannya yang kisut,  maka jelaslah bahwa Kamannyang ini bukanlah seorang muda, tapi seseorang yang sudah berusia lanjut. Riasan demikian tebal telah menutupi pipi yang kisut dan dahi yang meringsing, meski tidak bisa dikatakan bahwa Ia terlihat cantik dengan riasan itu.  Kamannyang ini malah terlihat seperti orang yang mengenakan satu topeng lain di wajahnya.Jika dipandang berlama-lama justru menggelikan.

Siapa sesungguhnya kedua orang tua berilmu tinggi tapi berpenampilan aneh ini ?.  Seperti yang disebut-sebut oleh sosok bayangan dalam kabut, kedua orang ini;  Nenek Canning dan Kamannyang dikenal dalam dunia persilatan dengan gelar Sepasang El-Maut Aneh dari Bawakaraeng.  Kedua orang  ini berilmu tinggi dan sakti. Sepak terjangnya selama ini telah menggegerkan dunia persilatan. Cuma sikap dan tindak tanduk keduanya membingungkan dan aneh. Mereka berdua dengan gampang memberi pertolongan pada orang-orang tertentu yang dikehendakinya, tapi semudah itu pula Ia menghabisi nyawa-nyawa orang-orang yang tidak disukainya. Konon yang paling banyak menjadi korban dari dua orang ini adalah para pria hidung belang dan lelaki yang dianggap tidak punya kesetiaan pada istrinya. Meski di antara para korban itu, kadang-kadang belum jelas betul, apa  mereka hidung belang,  laki-laki  yang berselingkuh atau tidak.

Keanehan lain dari sepasang orang tua sakti ini adalah perilaku dan penampilan mereka. Yang bernama nenek Canning  adalah seorang perempuan berusia lanjut, tapi penampilannya mirip laki-laki.  Mulai dari pakaian, ikat kepala, sampai potongan rambutnya mirip dengan laki-laki. Sikap dan gayanya juga tidak berbeda dengan laki-laki. Karena itu nenek Canning digelari pula dengan Balaki Maut dari Bawakaraeng.  Seorang perempuan yang berperangai laki-laki, berilmu tinggi dan bisa berlaku ganas terhadap orang yang tidak disenanginya.

Sosok yang berada dalam kabut tadi selalu menyebut nenek Canning dengan Calalai Maut dari Bawakarang bukan Balaki Maut dari Bawakarang.  Gelar Balaki dan Calalai sebenarnya sama saja, diberikan pada perempuan yang berperangai dan berwatak lelaki. Hanya saja istilah balaki sering digunakan oleh orang-orang seputar lereng Bawakaraeng dan orang yang tinggal di bagian utara pulau Sele Bassi ini. Sementara sebutan calalai, lazim digunakan oleh orang-orang dari selatan pulau ini.   Namun sesungguhnya dalam dunia persilatan nenek Canning lebih terkenal dengan julukan Balaki Maut dari Bawakaraeng. Sementara senjata andalan Nenek Canning, bukan badik, sebagaimana senjata yang lazim digunakan satria dari Pulau Sele Bassi,  tapi sepasang tongkat sakti dengan panjang selengan orang dewasa.  Tongkat itu bernama Sepasang Tongkat Sakti Batara riLattu.

Sebaliknya Kamannyang, sebenarnya adalah laki-laki. Meski demikian penampilan dan cara berdandannya mirip dengan perempuan. Sikap dan tindak-tanduknya menyerupai perempuan.  Ia kemudian digelari denganCalabai Maut dari Bawakarang, yang berarti seorang lelaki bertabiat perempuan, berilmu tinggi dan bertindak tanpa ampun terhadap musuh-musuhnya. Senjatanya juga tidak lumrah bagi orang di seputar pulau Sele Bassi, karena Ia menggunakan pecut dengan panjang sehasta. Pecut itu berwarna hitam.  Orang rimba persilatan mengenal senjata itu dengan nama Pecut Maut Tanah Kuburan.

Hal luar biasa lainnya adalah keberadaan Sepasang el-Maut Aneh di puncak selatan gunung Bawakaraeng ini. Bukankah tempat ini terkenal sebagai tempatnya para lelembut, makhluk halus dan binatang-binatang gaib yang aneh ?. Sejak dari dulu tempat ini tidak pernah disambangi orang, sekali pun Ia adalah seorang yang sakti. Tapi menilik dari sikap mereka yang terlihat seenaknya saja di daerah ini, menunjukkan mereka tidak bermasalah dengan para makhluk halus itu. Bahkan boleh jadi mereka bersahabat.

“Kita turun gunung !. Seperti kata sosok dalam kabut itu, kita akanmenyusur ke arah timur,”.  Nenek Canning tiba-tiba memecah kesunyian. Suaranya terdengar cukup jelas dalam kesenyapan. Suara-suara menggeraman kembali terdengar dari balik kegelapan. Nenek Kamannyang yang sedari tadi sibuk mematut-matut dirinya di depan cermin kecil dan berlagak tidak peduli pada nenek Canning, sontak memalingkan kepalanya. Menatap lekat-lekat ke arah Nenek Canning.

“Aih...apa katamu, kita turun gunung ?. Boleh-boleh saja....Tapi jika menuruti apa yang dikatakan makhluk sentoloyo yang ada di balik kabut itu, aku menolak”.

“Tidak Kamannyang, kali ini kita harus dengar kata sosok dalam kabut itu, siapa tahu pada arah yang disebut makhluk tadi ada lelaki brengsek hidung belang yang mau menggagahi seorang gadis”. Tegas nenek Canning. Ketika mengucapkan kata-kata itu matanya  berkilat-kilat. Rahangnya mengembung.

“Aih..aih......nenek tua, apa kau tidak dengar tadi si makhluk sentoloyo itu berucap. Kita bukan akan menghadang lelaki hidung belang di sana. Kita disuruh berseteru dengan Siluman Puncak Lompobattang”. Timpal nenek Kamannyang dengan gaya yang kenes.

“Terus...., apa kamu takut Kamannyang berhadapan dengan Siluman Puncak Lompobattang?”. Tanya Nenek Canning dengan nada mengejek. Tanpa berpaling ke arah Nenek Kamannyang dan juga tidak menunggu nenek itu menimpali, Ia melanjutkan ucapannya.

“Kalau kau tidak mau ikut, aku turun gunung sendiri, aku akan minta ditemani oleh binatang piaraan Makhluk Alam Gaib,  Asu Pancing Jarum Perak”

“Aih...aih..., kata siapa aku takut pada Siluman Puncak Lompobattang itu, sejak sepasang Kalung  Warisan Gaib ada pada kita, aku tidak gentar beradu dada dengan siluman mana pun. Bila sekarang aku tidak mau turun gunung berhadapan dengan Siluman Puncak Lompobattang , itu hanya karena aku tidak mau menuruti perintah sosok menjengkelkan dalam kabut itu”.

Nenek Canning berbalik, Ia menatap Kamannyang dalam-dalam.

“Kamannyang...!, aku merasa kali ini kita memang harus mengikuti perintah bayangan dalam kabut itu, meski aku tidak mengenali sosok tersebut, tapi rasa-rasanya aku memiliki ikatan batin”.  Ucapan Nenek Canning terdengar bersungguh-sungguh. Kamannyang yang ditatap dalam-dalam, untuk sesaat juga menunjukkan raut wajah yang serius. Keningnya berkerut, matanya balas memandang lekat-lekat Nenek Canning. Namun hanya sesaat, karena selanjutnya matanya yang berbulu lentik itu berkedip-kedip genit. Lalu Nenek Kamannyang bersiap menimpali ucapan Nenek Canning. Namun sebelum Ia sempat melakukannya, Nenek Canning sudah melangkah. Ia bergerak meninggalkan tempat itu. Tangannya meraba semacam mutiara yang ada pada kalung yang tergantung di lehernya.  

“Makhluk Alam Gaib, aku membutuhkan  salah satu dari Asu Pancing Jarum Perak untuk menemaniku”. Berteriak Nenek Canning.  Teriakannya itu mengalun menyelusup dalam kegelapan. Bersamaan dengan itu  dari kegelapan, suara-suara dari sosok yang tidak terlihat kembali terdengar.  Tak lama kemudian, dari kegelapan suara seperti angin menderu melesat menuju ke arah nenek Canning.
 
Samar-samar di samping Nenek Canning berdiri sesosok bayangan makhluk. Bayangan itu lebih tinggi dari keledai, namun lebih pendek dari seekor kuda jantang dewasa. Memiliki kepala, ekor dan berkaki empat.  Meski belum jelas betul rupanya, tapi makhluk ini menyerupai sosok binatang dengan bulu-bulu yang sangat lebat. Nenek Canning terlihat mengusap-usap bayangan tersebut,  lalu nenek ini melompat ke punggungnya.

“Aku pergi sekarang Kamannyang, terserah kamu mau ikut atau tidak”. Begitu ucapannya selesai, Ia  mengusap tengkuk  makhluk yang ditungganginya dan makhluk itu pun melesat membelah malam yang diterangi purnama penuh itu.  

“Aduh...aduh....kau serius rupanya nenek Canning, sial...., eih...eih....jangan tinggalkan aku !.  Aku ikut...”.  Ucap Kamannyang gelagapan.

Sambil mengentak-entakkan kakinya dengan kesal ke tanah Ia pun mengusap mutiara di ujung kalungnya dan berucap; “Aku juga membutuhkan salah satu Asu Pancing Jarum Perakmu  wahai Makhluk alam Gaib sayang....aih...aih....”. Teriak Nenek Kamannyang, ucapan aih-aihnya yang biasa diletakkan di depan, kini ditaruh di belakang kalimatnya.

Seperti sebelumnya, dari dalam gelap menderu angin, melesat ke arah nenek Kamannyang. Kini di samping nenek Kamannyang terlihat sosok samar-samar.   Nenek Kamannyang juga mengelus-elus sosok ini, tapi tidak seperti Nenek Canning yang mengusap kepalanya, Nenek Kamannyang justru mengelus-ngelus bokong makhluk ini.  Makhluk ini tampak menggoyang-goyangkan kepalanya.  Nenek Kamannyang tersenyum-senyum, kemudian melompat naik ke punggung makhluk ini.  Tak lama kemudian mereka pun melesat meninggalkan tempat itu, menyusul nenek Canning yang sudah berangkat terlebih dahulu.  

Bersambung...

  • 472 Dibaca