PNS menggunakan Songkok dalam upacara

SONGKOK: Hikayat Asimilasi Budaya, Nasionalisme, dan Politik Penyeragaman


Seputarsulawesi. com, Makassar- Songkok atau kopiah-peci bagi kalangan muslim merupakan sebuah simbol. Tetapi dalam sejarahnya, khususnya bangsa Melayu, songkok dikenakan oleh tentara di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Soal asal muasalnya, berbagai versi mengenai sejarah songkok, kopiah atau peci ini. Dalam Wikepedia Indonesia, dikatakan  penutup kepala ini yang merupakan variasi dari fes atau Tharbusy berasal dari Maroko. Di bagian lain, dikatakan bahwa, songkok ini berasal dari kesultanan Ottoman Turki. Dalam kesusteraan Melayu, songkok telah disebut dalam Syair Siti Zubaidah (1840): "...berbaju putih bersongkok merah...."

Dalam konteks sejarah songkok di Indonesia, ada yang berpendapat, bahwa,  Laksmana Ceng Ho yang membawa peci ke Indonesia. Peci berasal dari kata “Pe” (artinya delapan) dan “Chi” (artinya energi), sehingga arti peci itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.

ikutip dari http://jabar.tribunnews.com/2015/12/14/, Konon, peci merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga. Pada mulanya beliau membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama kuluk yang memiliki bantuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, Raja terakhir Majapahit Brawijaya V. Sumber lain menyebut, saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, ia membawa oleh-oleh peci saat pulang ke kampung halaman. Tentang sejarah penutup kepala ini, memang masih memerlukan pelacakan, tetapi yang jelas, ia telah mewarnai dinamika bangsa Melayu sejak abad ke-XIII lampau.
 
Dalam sejarah pergerakan nasional, songkok dipopulerkan oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Soekarno pernah berkata,"Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia”. Soekarno mengenakan peci sebagai simbol pergerakan dan perlawanan terhadap penjajah.
 
Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Di masa itu kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa.

Dalam suatu kesempatan di bulan Juni 1921, dalam pertemuan Jong Java di Surabaya, Soekarno  datang dengan memakai peci. Menurut Bung Karno, kata “peci” berasal dari kata “pet” (topi) dan “je”, kata Belanda untuk mengesankan sifat kecil. Baik dari sejarah pemakaian dan penyebutan namanya, peci mencerminkan Indonesia: satu bangunan “inter-kultur”.

Tak mengherankan bila dari mana pun asalnya, agama apapun yang dianutnya, di zaman itu kaum pergerakan memakai peci. Dengan begitu, sesungguhnya peci dalam sejarahnya bukanlah sebuah simbol agama, tapi merupakan simbol budaya dari bangsa Indonesia khususnya dan bangsa Melayu pada umumnya.

Lalu mengapa kebanyakan ummat Islam Indonesia mengenakan peci atau songkok ? Maksudnya tak lain adalah untuk menutup kepala dari tertutupnya rambut di saat sujud ketika salat. Di samping itu, dikarenakan para santri yang menjadi ujung tombak perjuangan Indonesia (terutama santri NU)  telah memahami  bahwa “Cinta tanah air adalah sebagian dari Iman” sehingga dalam perjuangan untuk merdeka, peci menjadi salah satu bagian yang mesti dikenakan, khususnya kalangan santri.


 ***

Di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, songkok sering kita temukan dikenakan kalangan muslim pria dalam upacara perkawinan, salat Jum’at, salat taraweh, atau upacara keagamaan lainnya.

Di perkampungan Bugis-Makassar-Mandar, di era 1980-an, saat bulan ramadan, kaum muslim mengenakan songkok di kepala warna hitam pekat menuju masjid untuk menunaikan salat taraweh, salat subuh dan waktu salat lainnya. Ia dikenakan pria semua usia, mulai anak-anak hingga dewasa dan orang tua. Saat itu, pruduk songkok yang cukup populer di antaranya merk “555” Surabaya.

Tetapi bukan hanya itu, songkok sering pula dikenakan saat melawat ke kebun atau sawah, baik saat bulan ramadan, maupun di luar ramadan.  Ketika ada pertemuan/rapat di kantor desa sebagian besar pria yang hadir mengenakan songkok. Dan ketika ada pesta perkawinan, atau aqikah di kampung, para tetamu pria mengenakan songkok.

Seragam

Di zaman Orde Baru, boleh dikata bentuk songkok, seragam; berbentuk memanjang, dengan lubang untuk kepala di tengahnya, dan seluruh bagiannya dibalut kain berwarna hitam pekat. Sangat jarang ditemukan songkok berbentuk selain wujud seperti itu. Bilapun ada warga mengenakan songkok selain model seperti itu, yang bersangkutan seringnya jadi bahan gosip warga lainnya.

Begitulah Orde Baru mendidik warga dalam situasi yang seragam, bukan beragam. Seragam lalu dianggap wajib, dipandang lumrah, pantas, dan wajar. Sementara beragam dipandang sebagai keanehan, janggal, tak wajar, tak masuk akal dan sebagainya. Efeknya, warga tak terbiasa hidup dengan perbedaan. Sementara perbedaan--seperti yang kita tahu adalah takdir dan sunnatullah.

Dalam suatu kesempatan, di tahun 1980-an silam, seorang anak kecil mengenakan penutup kepala warna puti yang terbuat dari kain. Kakeknya yang pulang dari tanah suci menghadiahkannya saat itu. Warga kampung menyebut penutup kepala jenis itu sebagai “songkok haji”. Suatu Jumat, si anak ini menjadi objek ledekan rekannya yang duduk di shaf belakang. Ada yang bilang, bila itu bukanlah songkok, sebab songkok menurutnya adalah warna hitam pekat. Ada pula yang berkata bahwa, songkok putih itu khusus bagi orang yang pernah menunaikan ibadah haji, bukan oleh yang lain.

Begitulah salah satu wujud suksesnya politik penyeragaman Orde Baru melalui songkok.  “Songkok” dan “yang bukan songkok” kategorinya seolah ditentukan oleh rezim tua itu. Masyarakatpun mengikutinya, sebab rezim mencontohkannya. Bagi yang menolak kategori songkok itu, ia dianggap “membengkok”. Hukumannya, bukan instrumental Negara yang mengganjarnya, tetapi oleh warga lainnya—seperti Si anak kecil diatas yang menjadi objek ledekan rekannya saat mengenakan “Songkok (putih) haji” ke Masjid.



(A. Mirak)

Tag :

lipsus
  • 283 Dibaca