Sosial Distancing?

  • 21-03-2020

Sebuah terma sosial yang tidak baru, tetapi mendapatkan momentum untuk penerapannya seiring dengan semakin mewabahnya Covid 19. Saya sebenarnya agak mempertanyakan ketepatan penggunaan istilah 'social distance' ini yang kalau dimaknai secara harfiah: jarak sosial.

Sementara kata 'sosial' itu mempunyai makna implikatif yang sangat kompleks, dimulai dari situasi yang tampak, sampai pada hubungan yang lebih abastrak.

Saya mencoba mengambil lawan dari 'social distance' ini dengan istilah: 'social intercourse', atau keterpautan sosial atau keterlibatan sosial. Seseorang yang memiliki keterpautan sosial cirinya memiliki empati sosial yang tinggi, ditandai dengan perilaku yang tidak 'asosial'; mudah bergaul, paham situasi masyarakat, dan selalu terlibat dalam penyelesaian masalah sosial.

'Sosial distance' dalam pemaknaan ini, berarti jarak sosial yang direnggangkan. Melonggarkan keterlibatan sosial kita. Sosial distance berimplikasi pada merenggangnya silaturrahim. Padahal menurut saya, untuk menghindari virus ini, yang perlu adalah: 'physical distance', jarak fisik yang harus dikontrol, merumahkan diri, mejaga jarak, tidak berkerumun, tidak bersentuhan fisik, dan tidak berjabat tangan.

'Sosial interaction' dalam situasi seperti ini justeru mendapatkan momentumnya. Kita bisa mempererat hubungan sosial kita di saat kita berada di rumah. Jarak sosial dengan keluarga terdekat direkatkan. Jarak sosial dengan keluarga di kampung yang selama ini jarang ditelpon karena kesibukan di luar juga bisa dirajut. Jarak sosial dengan teman-teman lama bisa diperpendek dengan menghubungi mereka secara medsos.

Jarak sosial bagi pengguna medsos juga semakin dipangkas dengan banyaknya kita mengupload cerita-cerita lucu untuk mensiasati rasa stres dengan situasi pandemi ini. Termasuk saya yang rajin mencoret akhir- akhir ini, adalah upaya memangkas jarak sosial saya kepada teman-teman yang selama ini sering membaca pikiran-pikiran sederhana saya untuk memastikan bahwa 'I am just fine, alhamdulillah'.

Saya memahami bahwa istilah ini bukan untuk diperdebatkan apalagi dalam situasi seperti ini. Tapi poin saya bukan justeru karena pandemi ini 'sosial awareness and collectiveness' kita menjadi kocar-kacir. Termasuk peringatan bagi praktisi politik tertentu yang biasanya suka membantu pada saat ada perhelatan politik.

Saatnya sekarang kita juga kita ingin mendengar kalau mereka juga hadir dalam bantuan sosial yang mendesak: suplai masker, hand sanitizer dan alat kesehatan dasar lainnya yang sangat langkah.

Jadi 'sosial distance' dalam konteks ini bukan untuk merenggangkan kepedulian sosial tapi ibaratnya 'jaga jarak', kalimat yang sering tertulis pada bagian belakang Bis supaya berkendaraan aman dan tidak bersenggolan yang mencelakakan. Itulah manfaat berkendara di belakang bis, selain menguji kesabaran juga mengajarkan makna 'jarak'.

Penulis: Hamdan Juhannis

(Rektor UIN Alauddin Makassar)

Post Tags:

UIN Alauddin