Suburnya Lembaga Pendidikan Agama di Kampung Arab Manado


Seputarsulawesi.com, Manado- Manado tidak hanya memiliki bentang alam dan kekayaan bawah laut yang indah. Kota di ujung Pulau Sulawesi ini, menyimpan harta karun lain yang tak ternilai harganya. Harta karun itu, tak lain adalah keragaman etnis dan agama. 

Keragaman di Manado bukanlah untuk dipertentangkan. Tetapi, saling menghidupi satu sama lain.

Dulunya, Manado hanyalah tanah kosong yang tak bertuan. Lama kelamaan, banyak pendatang yang kemudian memilih untuk menetap di kota ini. Salah satu suku yang pertama kali menghuni kota ini adalah suku Minahasa, yang kala itu masih menganut agama Alifuru.

Anggapan sebagai kota toleran memang pantas disematkan pada Manado. Saat ini, mayoritas penduduk di Kota Manado berlatar belakang agama nasrani. Tetapi, hal ini tidak membuat tersisihnya penganut agama-agama lain. Hal ini bisa dilihat dari jumlah rumah ibadah, yang cukup sebanding dengan jumlah penduduk masing-masing agama.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Manado per tahun 2016, jumlah banguan gereja protestan sebanyak 529 buah, gereja katolik sebanyak 21 buah, masjid 192 buah, musala ada lima buah, Pura sebanyak tiga buah dan Vihara 20 buah. Selain itu, untuk jumlah penduduk kota Manado, yakni sebanyak 427.906 jiwa. 

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Balitbang Agama Makassar (2017) mengenai Peran Orang Arab dalam Pendidikan Keagamaan di Kota Manado, dijelaskan bahwa di Kota Manado, perayaan hari raya agama, tidaklah menjadi milik penganut agama tertentu, melainkan menjadi milik bersama dan menjadi mementum untuk mempererat hubungan persaudaraan di antara mereka.

Meski kerap kali, sentimen keagamaan muncul di media sosial, orang-orang Manado menyikapi hal ini dengan kedewasaan. Orang-orang Manado, selalu berusaha agar isu tersebut bisa diredam secara bersama-sama. Dan hal ini sudah menjadi sesuatu yang alamiah bagi penduduk kota Manado. Bahkan, peristiwa gesekan antar umat beragarama yang terjadi pada akhir 90-an dan awal 2000-an di beberap daerah, tak mempengaruhi aktivitas keberagaman di Kota yang berjuluk “nyiur melambai” ini.

Dari segi etnis, Kota Manado dihuni oleh berbagai macam latar belakang etnis, di antaranya seperti Minahasa, Cina, Sangir, Jawa, Bolaan Mangondo, Bugis, Makassar, Arab, Minang, Buol, Papua dan Gorontalo. Ke semua etnis ini, kebanyakan tersebar di berbagai pelosok kota Manado. Tetapi, tak sedikit pula yang terdapat dalam satu kampung tertentu.

Untuk pelembagaan satu etnis dalam satu daerah atau kampung tertentu, sebenarnya dilakukan oleh pemerintah Belanda pada zaman kolonial. Pada tahun 1848, kota Manado dibagi menjadi delapan kampung. Namun saat ini, perkampungan yang masih bisa ditemukan, yaitu Kampung Islam di Tumintin, pemukiman Borgo di bagian utara kota Manado dan Kampung Arab di Kecamatan Wenang.

Toleransi dan Suburnya Pendidikan Keagamaan

Kehidupan toleran di Kota Manado, membuat orang-orang dari berbagai etnis dan agama, bisa mengembangkan kehidupan mereka masing-masing dengan baik. Salah satu di antaranya adalah etnis Arab yang cukup mewarnai dinamika kehidupan di kota Manado. Orang-orang Arab di Kota Manado, bisa dengan baik mengembangkan fokus mereka di dunia pendidikan islam.

Perkembangan agama islam di kota Manado, tak bisa dilepaskan dari peran orang Arab. Berdasarkan penelitian Balitbang Agama Makassar (2017), orang Arab diperkirakan telah ada di Manado sejak Abad XVIII. Pada mulanya, mereka datang untuk berdagang, namun lambat laun turut menyebarkan agama islam melalui dakwah. 

Asal orang Arab ini pun beragam, mulai dari yang datang dari Tidore, ternate, Palembang, Suarabaya, Sangir, Tondano, palu dan Ambon.

 Versi lain juga menyebutkan, bahwa orang Arab yang pertama kali menginjakkan kaki di Manado adalah marga Al Habsyi. Marga ini diduga punya hubungan dekat dengan Sunan Ampel. Karena, sebelum ke Manado, marga Al Habsyi menetap di Surabaya, Jawa Timur. 

Mereka bukan datang untuk berdagang, tetapi memang berniat untuk menyebarkan agama islam.

Kebanyakan orang Arab, saat ini bermukim di Kampung Arab, Kecamatan Wenang, Kelurahan Istiqlal, Kota Manado. Sebelum menghuni kampung Arab, mereka sebelumnya tinggal di perkampungan islam di Kecamatan Tuminting dan kemudian berpindah ke wilayah ini, guna mendekati pusat perdagangan.

Salah satu konsen orang Arab di Manado adalah pengembangan pendidikan Agama Islam. Baik lembaga yang bersifat formal maupun non formal. Menurut catatan LWC Van Den Berg, yang dikutip dari penelitian Balitbang Agama Makassar (2017), orang Arab dikenal sangat mudah memberi bantuan kepada penuntut ilmu, mengikhlaskan sebagian hartanya untuk disumbangkan ke pembangunan masjid, sekolah, yayasan keagamaan dan bahkan dikirimkan kepada cendekiawan yang orang Arab Hormati.

Begitu juga dengan yang dipaparkan oleh Ilham Deng Makkelo (2010), dalam Ruang di Kota Manado, bahwa sejak tahun 1854, sudah ada taman pengajian di Kampung islam.

“Pengajian di Kampung Islam memberikan pengajaran kepada anak-anak berusia enam tahun ke atas dan bahkan hingga akhir masa kolonial, telah berdiri sekolah formal, salah satunya adalah sabililhuda di Kampung Arab,” tulisnya.

Saat ini, selain mendirikan masjid, orang Arab juga mendirikan banyak lembaga pendidikan. Lembaga Pendidikan Agama Islam, yang pertama kali berdiri adalah Perguruan Al Khairat, sejak tahun 1950-an. Pada saat berdiri, perguruan sabilihuda juga melebur ke dalam perguruan Al Khairat. Perguruan ini tak lepas dari peranan marga Al Jufri. Saat ini, Perguruan Al Khairat terdapat di setiap kecamatan di kota Manado.

Ada juga Lembaga Mualaf Mutmainnah, asuhan Ustad Yasir Bin Salim Bachmid. Lembaga ini konsen dalam membimbing orang-orang yang baru memeluk agama islam. Ustad Yasir yang juga Rais Aam Nahdlatul Ulama (NU) Kota Manado, juga memiliki lembaga pendidikan agama yang intens melakukan pengajian terhadap anak-anak usia dini.

Terdapat pula Yayasan Al Hikam yang bertempat di Kecamatan Tikala, Kelurahan Malendeng, Kota Manado. Yayasan ini didirikan oleh Habib Muhsin bil Faqih pada tahun 2000. Al Hikam mengelola lembaga pendidikan di bawah naungan Dinas Pendidikan Sulawesi Utara dan Kementrian Agama Sulawesi Utara.

Selain itu, lembaga pendidikan formal yang didirikan oleh Arab dan sudah cukup berkembang adalah Yayasan Pendidikan Islam (YAPIM). Pada zaman kolonial, YAPIM bernama Madrasah Diniyah dan pasca kemerdekaan, barulah bernama YAPIM, dengan konsep sekolah rakyat.

Yayasan YAPIM sendiri membawahi lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menegah Kejuruan (SMK). Gedung Lembaga Pendidikan yang dikelola oleh YAPIM berada di Cik Ditoro 5 dan 7, Kelurahan Istiqlal, Kecamatan Wenang, Kota  Manado. 

YAPIM mempunyai dua gedung sekolah yang masing-masing berlantai tiga. TK dan SMP YAPIM berada dalam satu gedung yang sama, demikian pula dengan SD dan SMK Islam YAPIM juga berada dalam satu gedung yang sama.

 Pendidikan keagamaan di kota Manado, yang diinisiasi oleh komunitas Arab, baik yang bersifat formal dan non formal, dikelola dengan cara swadaya. 

Dalam penelitian Balitbang Agama Makassar (2017) menyebutkan bahwa kondisi sosial masyarakat Manado yang terbuka, harmonis, dan toleran juga menjadi bahagian dari faktor pendukung pengembangan pendidikan keagamaan tersebut. Sehingga dengan demikian, warga keturunan Arab di Kota Manado leluasa mengelola dan mengembangkan lembaga pendidikan keagamaan.

Tag :

pendidikan
  • 249 Dibaca