Foto bersama Nurdin Halid dan Munafri Arifuddin yang jadi perdebatan Netizen di Stadion Mattoanging, Senin, 6 November 2017

Tak Mungkin Memisahkan Politik dan Sepakbola


Seputarsulawesi.com, Makassar,- Lini masa kembali gaduh. Penyebabnya, tak lain adalah kekalahan PSM Makassar 0-1 atas Bali United di Stadion Mattoanging, Senin, 6 November 2017. Netizen saling adu kicauan, mulai dari biang kekalahan hingga lemparan botol ke bench Bali United oleh sebagian fans PSM Makassar. Tapi, hal yang paling jadi perdebatan adalah isu politik yang dikaitkan dengan kekalahan PSM Makassar.

Beberapa netizen banyak mengaitkan antara aktivitas politik CEO PSM Makassar, Munafri Arifuddin dengan kekalahan menyakitkan malam itu. Seperti diketahui, Munafri sedang melangkahkan kakinya ke gerbang politik, pasca niatan Partai Golkar mengusung menantu pemilik Bosowa Group, Aksa Mahmud, menuju Pemilihan Walikota Makassar.

Pun, beredar dua buah foto yang jadi hujatan netizen pasca pertandingan. Yang pertama, foto Nurdin Halid dan Munafri, bersama official dan pemain PSM Makassar jelang laga berlangsung. Di mana gestur mereka dalam foto, sedang melakukan salam khas NH. Yah, salam yang digunakan sebagai kampanye jelang Pemilihan Gubernur Sulsel tahun depan. Kedua, pada saat pertandingan berlangsung, spanduk bertuliskan “NH Gubernurku, App1 Walikotaku, PSM Kebanggaanku!” berukuran 1x1 meter dipajang seorang penonton di tribun selatan Stadion Mattoanging.

Dari sekelumit kenyataan itu, netizen sampai berspekulasi bahwa kekalahan PSM Makassar karena membawa-bawa politik dalam ranah sepakbola. Naasnya, beberapa media kemudian memblow up spekulasi tersebut, hingga kian menggiring opini publik. Padahal, baik secara psikologis dan permainan para punggawa PSM Makassar saat laga versus Bali United, tak ada sesuatu yang janggal. PSM Makassar tetap menyuguhkan permainan terbaiknya, meski harus mengakui keberuntungan berada di pihak Bali United.

Pengamat Politik Sulawesi Selatan, Arif Wicaksono angkat bicara. Ia mengatakan kekalahan PSM Makassar dari Bali United di Stadion Andi Mattalatta, Senin 6 November 2017 kemarin yang kemudian dikaitkan dengan persoalan politik adalah sesuatu yang mengada-ada.

"Saya kira kekalahan PSM Makassar yang dikaitkan dengan isu politik itu terlalu mengada-ada, terlalu dikait-kaitkan," kata Arif Wicaksono kepada Seputarsulawesi.com, Selasa, 7 November 2017.

Menurutnya, kekalahan PSM Makassar semalam murni soal teknis lapangan, tak ada kaitannya dengan persoalan politik. Meski di pertandingan PSM Makassar melawan Bali United itu dihadiri politisi, menurutnya, itu tak lebih dari hak mereka sebagai penonton.

Politik Perhatian dan Sepakbola

Keberadaan pesan atau kampanye politik sebenarnya telah melanggar jargon yang selalu digemborkan oleh FIFA, “Politik seharusnya tidak pernah ada dalam sepakbola”. Mudah mengatakannya, namun sulit dalam penerapannya, karena politik masih kental di sepakbola hingga saat ini.

Muskil memisahkan sepakbola dan politik. Dalam sejarah, kedua hal ini lumrah saling berkait kelindan. Apakah politik mempengaruhi sepakbola, atau malah sebaliknya, sering mengemuka sepanjang sejarah perjalanan olahraga termasyhur sejagat ini. Politik dalam sepakbola bukan lagi hal yang tabu, namun memang ia adalah hal yang memberi bumbu-bumbu tersendiri.

Perkembangan sepakbola tak bisa dijauhkan dari keputusan-keputusan yang sifatnya politik. Pun, seorang politisi butuh sepakbola untuk mencuri perhatian khalayak ramai. Tersebutlah nama Mantan Perdana Menteri Italia, Berlusconi, yang merupakan seorang politisi, cum pemilik klub sepak bola, AC Milan Dia juga adalah pemimpin partai Forza Italia yang dibentuk khusus pada 1994 untuk keikutsertaannya dalam politik .

Berlusconi menjadi Perdana Menteri selama tujuh bulan (10 Mei 1994-17 Januari 1995), namun pada 2001, dia kembali diangkat ke dalam jabatan itu. Pemimpin yang sering membuat keputusan aneh dan sering terkait skandal sex itu, adalah politisi yang memanfaatkan sepak bola untuk karir politiknya.

Dalam sebuah laporan CNN, proyeknya bersama AC Milan dilakukan untuk meningkatkan elektabilitas dirinya dalam Pemilu. Untuk mendongkrak namanya dan memenuhi harapan penggemar AC Milan, dia tak segan-segan membeli beberapa nama besar untuk meningkatkan popularitasnya, seperti Robinho dan Ibrahimovic. Memanfaatkan Milan sebagai kendaraan publisitas besar dan suka bersaing dengan pemain besar-nama yang dapat menarik Ini semua bagian dari gambar, itu sebabnya David Beckham telah dua kali bermain di sini.

Keberhasilan AC Milan pasti membantu mendorong aspirasi politik Berlusconi dan telah mengantarkannya duduk sebagai PM Italia. Ia berhasil memanfaatkan fanatisme massa pecinta sepakbola, sebagai alat direct selling suara guna memenangkan pencalonan dirinya, serta memperkuat posisi politiknya.

Jauh ke belakang dan masih di Italia. Dikator fasis Italia, Benito Mussolini sering berada di tengah-tengah tim sepak bola. Pada Piala Dunia 1934, sang diktator memaksakan untuk digelar di Italia, dan kesebelasan nasional Italia dipaksa harus menang meski harus "mati" di lapangan.

Semasa dengan diktator Italia, Adolf Hitler juga memanfaatkan Federasi Sepak Bola (DFB) untuk propaganda politik Nazi. Sepak bola bagi Hitler adalah simbol ke-perkasaan seorang menusia dalam menunjukkan eksitensi diri, kelompok, dan bangsanya di hadapan publik. Bos Nazi memberi subsidi kepada 10.000 fans agar bisa melakukan perjalanan ke Inggris guna mendukung tim nasional Jerman, untuk tujuan propaganda.

Junta militer di Argentina, juga pernah melakukan hal yang sama. Jenderal Jorge Videla memanfaatkan Sepak Bola untuk meneguhkan kekuasaan. Hal ini bisa dilihat saat Argentina menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 1978.

Junta militer Argentina menarik perhatian rakyat, di antaranya dengan menguasai sekolah dan rumah sakit hingga menghapuskan kredit yang berjumlah hingga jutaan dollar. Usaha-usaha itu membuahkan hasil. Saat Argentina juara, jalanan dibanjiri orang yang mengelu-elukan para jenderal yang berdiri di balkon istana presiden.

Dalam laporan yang dilansir dari dw.com, Rabu, 8 November 2017, sepakbola juga Indonesia juga tak kalah menarik perhatian para politisi lintas partai.  “Jika anda bisa mengontrol sepakbola, berarti anda sudah setengah jalan untuk menguasai Indonesia,” kata seorang pejabat senior di asosiasi sepakbola Indonesia PSSI.

“Tak ada kampanye partai politik yang bisa mendapat kerumunan orang begitu besar, setia, dan bersemangat. Tak heran jika mereka (para politisi-red) mati-matian berusaha mendapatkan ini,” paparnya.

Sepakbola punya penggemar yang luar biasanya banyak, sekalipun pada taraf lokal. Pun, sepakbola adalah ruang publik itu sendiri. Ruang publik bisa diisi oleh banyak hal, termasuk politik. Para politisi bisa menggunakan sepakbola sebagai ajang politik perhatian. Para elit sedang berkompetisi di hadapan publik untuk memberi perhatian terhadap sepak bola yang mulai bergairah kembali, khususnya di Makassar. Dengan demikian pamornya juga naik sebagai sosok yang dianggap memiliki perhatian terhadap sepak bola.

  • 151 Dibaca