Takdir Corona Antara Usaha Dan Doa

  • 16-03-2020

Masalah takdir antara doa dan usaha adalah persoalan diskursus teologi yang sudah lama dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam. Oleh karena saat ini, penyebaran virus corona yang semakin merajalela, tiada hari tanpa pemberitaan mengenai korbannya yang bertambah terus, akhirnya masyarakat menyikapinya sesuai dengan keyakinan dan aliran teologi yang dianutnya.

Dalam sejarah pemikiran Islam atau teologi, ada beberapa aliran yang terkait masalah takdir, doa dan usaha, yaitu:

Pertama, Aliran Jabariyah. Mereka ini punya keyakinan bahwa manusia hidup dan apa saja yang terjadi pada dirinya semuanya adalah takdir Allah, manusia tidak punya kemampuan apa-apa untuk berusaha mengubah apalagi menolaknya. Manusia seperti dipaksa menerima semua ketentuan takdir.

Mereka mendasarkan pemahamannya terhadap ayat al-Qur’an: Kamu tidak menghendaki, kecuali apabila dikehendaki Allah. (QS. al-Insan 76: 30).   Atas dasar inilah, muncul kepercayaan kepasrahan diri sepenuhnya tanpa berusaha, semuanya itu Allah yang mengatur dan menentukan.

Akhir-akhir ini, ada postingan yang tersebar, “nggak usah panik sama virus corona. Malaikat Izrail (pencabut nyawa) sudah punya daftar nama siapa saja yang harus dipanggil duluan. Itu pasti, nggak akan tertukar dan nggak bisa dinego”.  Saya kira ini cerminan dari pemahaman aliran Jabariyyah. Berlebih-lebihan dalam kepasrahan diri kepada takdir Allah mengabaikan usaha manusia.

Kedua, Aliran Qadariyah atau Mu’tazilah. Mereka berkeyakinan bahwa manusia mempunyai Qadar (kemampuan) untuk merubah dan menentukan segalanya termasuk merekayasa takdirnya. Alasannya, Allah sudah membekali manusia berupa akal, hati, nafsu, fisik, dan alam semesta ini.

Mereka mendasarkan pada pemahaman terhadap ayat al-Qur’an;   Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (QS. ar-Ra’d, 13: 11). Aliran pemikiran ini juga dianggap berlebih-lebihan, karena terlalu percaya terhadap kemampuan manusia, dan mengabaikan doa dan kekuasaan Allah.

Ketiga, Aliran Asy’ariyyah. Mereka yang mempercayai bahwa manusia diberi kebebasan dan kemampuan oleh Allah untuk berusaha, tetapi Allah lah yang menentukan segalanya. Manusia yang makan dan minum, tapi yang menentukan manusia itu bisa kenyang dan hilang rasa hausnya adalah Allah.

Manusia yang berusaha berobat dari sakit dan penyakitnya, tapi Allah-lah yang menyembuhkan segalanya. Manusia yang belajar, tapi Allah lah yang menentukan kecerdasannya. Manusia yang berusaha mencari rezeki, tapi Allah lah yang menentukan kaya dan miskinnya seseorang.

Aliran Asy’ariyah inilah yang disebut Aliran Ahlussunnah Wal Jamaah. Inilah aliran pemikiran Islam yang moderat, wasathiyyah, adil dan terbaik. 

Aliran Jabariyyah bertolak belakang dengan aliran Qadariyyah atau Mu’tazilah. Tapi dua-duanya berlebih-lebihan. Jabariyyah berlebih-lebihan pasrah kepada Allah tanpa usaha. Mu’tazilah atau Qadariyyah berlebih-lebihan percaya pada kemampuan manusia mengabaikan doa dan kekuasaan Allah.

Aliran Asy’ariyyah Ahlussunnah Wal Jamaah, kalau di Indonesia namanya Ahlussunnah Wal Jamaah an-Nahdliyyah, inilah paham moderat atau tawassuth dan  tawazun.

Pemahaman dan keyakinan seperti inilah yang cocok dan relevan bagi masyarakat Indonesia dalam menyikapi berbagai masalah bangsa, termasuk masalah wabah virus Corona. Tidak boleh terlalu panik, terlalu percaya driri, terlalu pasrah, tanpa ikhtiar.

Dalam hadis, Rasulullah SAW. Bersabda, tidak ada yang menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan itu sendiri. (HR. Tirmidzi dari Tsauban asisten Nabi SAW).

Kita yakin bahwa Allah adalah sumber keselamatan, maka berdoa kepadanya adalah hal mutlak, bahkan dalam hadis ini, keampuhan doa bisa merubah dan menolak takdir. Bahkan dalam hadis lain, disebutkan doa adalah senjata bagi orang beriman.

Itulah sebabnya para ulama khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama seringkali mengadakan kegiatan Istigatsah, permohonan doa secara berjamaah beramai-ramai. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan himbauan agar umat islam melakukan Doa Qunut Nazilah dalam shalat. Makin banyak orang berdoa, tentu makin dahsyat dan cepat terkabulnya doa itu.

Di samping berdoa juga harus diiringi dengan usaha yang maksimal. Dalam hadis di atas, dijelaskan bahwa usaha kebaikan yang dilakukan juga bisa merubah takdir, termasuk memperpanjang umur. Doa dan usaha harusnya berbarengan dalam menyikapi takdir.

Usaha terhadap sakit dan penyakit termasuk wabah virus corona adalah dengan mencegahnya dan mengobati bagi mereka yang sudah terserang virusnya. Dalam kaedah ushul fiqh, para ulama menggunakan; mencegah sesuatu yang bisa mendatangkan bahaya dan kerusakan didahulukan dari pada yang mendatangkan maslahat.

Usaha memakai masker, membiasakan pola hidup bersih, dengan mencuci tangan, mandi bersih, teratur, menghindari tempat-tempat yang berpotensi penularan wabah virus corona serta usaha-usaha lainnya termasuk kebijakan pemerintah membatasi kegiatan keramaian yang dianggap berpotensi, bahkan meng-isolasi pasien-pasien adalah bagian dari usaha pencegahan.

Ketika terjadi wabah di suatu daerah, Nabi SAW, mengisolasi melarang keluar sebagai bagian dari usaha agar tidak terjadi penularan yang lebih meluas.

Nabi SAW bersabda: Apabila kamu mendengar berita wabah virus menjangkiti suatu negeri, maka janganlah ke sana, tapi jika telah terjadi wabah virus di suatu negeri dan kamu berada di dalamnya, maka jangan kamu keluar lari dari padanya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Auf).

Semoga bencana kemanusiaan dengan virus corona ini segera berakhir. Semoga semua usaha yang dilakukan oleh pemerintah bersama rakyat berhasil mengatasinya. Bagi mereka yang sedang sakit, semoga segera sembuh dan sehat kembali. Semoga kita semua tidak panik berlebih-lebihan, juga tidak menganggap remah dan lalai dari usaha pencegahan virus corona dan virus-virus lainnya.

Penulis: Wajidi Sayadi

(Dosen IAIN Pontianak)

Post Tags:

NU