Terompet, Lonceng dan Beduk


Oleh:
Saiful Jihad (Dosen Unhas)

Ketiga benda ini sebenarnya tidak memiliki agama dan keyakinan tertentu. Dan agama pun dalam ajaran sucinya tidak pernah menjadikan ketiga benda ini sebagai identitasnya.

Lalu kapan benda ini dimaknai sebagai sebuah label dan identitas agama dan keyakinan tertentu ?

Saat umat Yahudi ingin memberi tanda waktu pelaksanaan ibadah ritual kepada sesama (sekeyakinan) mereka yang mungkin letak rumahnya jauh dari tempat pelaksanaan ibadah, maka mereka memilih terompet sebagai media penanda waktu. Tiupan terompet,  dapat menjadi tanda bagi umat Yahudi untuk berkumpul melaksanakan peribadatan di tempat ibadah mereka. Srjarah awalnya, mereka menggunakan terompet yang dibuat dari tanduk binatang, dan seiring dengan perkembangan zaman, terompet juga berkembang model dan bentuknya.

Demikian halnya, saat umat Kristen ingin mengajak sesama mereka untuk melaksanakan ibadah, dan memberi tanda kepada yang lain bahwa waktu ibadah sudah akan di mulai, maka mereka memilih Lonceng sebagai media penanda. Menjadikan Lonceng sebagai media penanda ini berawal dari daratan Eropa, sementara umat Kristen di Timur Tengah,  seperti Kristen Koptik, memilih naik ke tempat yang lebih tinggi untuk menyeru dan memanggil umatnya melaksanakan ibadah, cara ini mirip dengan model adzan dalam Islam.

Saat umat Islam, saat ingin memberi tanda masuknya waktu Salat, dan menyeru umat Islam untuk melaksanakan sholat (ibadah), maka Rasulullah SAW. menyuruh Bilal untuk melantunkan kalimat-kalimat Adzan, sesuai petunjuk yang diperoleh dalam mimpi yang diyakini sebagai petunjuk Allah dari salah seorang sahabat, dan inilah yang menjadi sunnah dalam ajaran Islam.

Di masa awal, umat Islam Indonesia (nusantara), saat menemukan kenyataan bahwa dalam sebuah kampung yang letak rumah penduduk agak jauh dari Masjid,  dan tidak memungkinkan mendengar suara adzan yang waktu itu belum ada pengeras suara, maka mereka memilih Beduk sebagai media untuk memberi tanda waktu dan mengajak umat untuk melaksanakan Salat, dengan tidak meninggalkan ajaran adzan yang diyakini sebagai ibadah yang disunnahkan tersebut.

Dengan demikian, Terompet, Lonceng dan Beduk, adalah hasil pilihan umat masing - masing agama untuk menandai waktu pelaksanaan ibadah, bukan ajaran agama itu sendiri, dan tidak menjadi identitas tersendiri bagi sebuah agama.

Terompet, Lonceng dan Beduk adalah benda netral, kitalah yang memberi identitas atasnya, kitalah yang memberi "agama" untuk benda-benda tersebut.

Lalu, bolehkah kaum kristiani memukul beduk dan meniup terompet, umat Islam meniup terompet dan membunyikan lonceng, atau umat Yahudi memukul beduk dan membunyikan lonceng ?

Bagi saya, tidak ada larangan. Benda-benda itu bersifat netral. Itulah sebabnya, saat anak-anak di madrasah meniup terompet dipertunjukan marching band, atau membunyikan lonceng tanda masuk waktu belajar, itu tidak dilarang. Demikian pula seorang pejabat non muslim yang memukul beduk tanda dimulainya sebuah kegiatan, juga tidak haram.

Apakah seorang muslim yang meniup terompet dan membunyikan lonceng tidak dianggap menyerupai umat Yahudi dan Kristiani ?
Membunyikan lonceng dan meniup terompet dalam konteks tidak untuk menjadi tanda pelaksanaan ibadah seperti yang dilakukan oleh umat kristiani dan Yahudi, maka itu bukan bentuk penyerupaan (tasyabbuh). Yang dikategorikan penyerupaan adalah saat menjadikan bunyi lonceng dan atau terompet sebagai tanda masuk waktu Salat, menggantikan panggilan adzan.

Tag :

sulsel unhas
  • 885 Dibaca