Teseng: Alternatif Keluar dari Lingkaran Kemiskinan


Muhammad Aras Prabowo
(Mahasiswa Magister Akuntansi Univ. Mercu Buana Jakarta)

Teseng merupakan praktik ekonomi tradisional yang terdapat dalam Suku Bugis dari sejak zaman kerajaan. Praktik ekonomi tersebut juga terdapat di beberapa daerah, misalanya dalam warung Padang dikenal bagi hasil mato meskipun objek ekonomi dan penamaannya yang berbeda. 

Dalam ekonomi syariah, teseng sama dengan mudharabah atau bagi hasil. Seperti yang telah dijelaskan oleh penulis dibeberapa tulisan sebelumnya.

Kali ini, penulis akan berusaha mengurai secara sederhana, bagaimana teseng bisa menjadi salah satu alternatif dalam penanggulangan kemiskinan. Kita ketahui bersama bahwa kemiskinan masih menjadi masalah utama  bangsa Indonesia. 

Berbagai kebijakan telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk keluar dari lingkaran tersebut. Salah satunya adalah meningkatkan pembangunan infrastruktur guna merangsang pertumbuhan ekonomi setiap daerah. Dengan mempercepat akses dari satu daerah ke derah lainnya.

Bantuan-bantuan sosial dikucurkan dari berbagai sektor dengan tujuan yang sama, yaitu menanggulangi kemiskinan. Mulai dari bantuan kesehatan, pendidikan dan berbagai subsidi lainnya untuk meringankan beban masyarakat. 
Namun hal tersebut belum secara signifikan mengurangi kemiskinan.

Salah satu alasan yang mendasarinya sehingga belum efektif, karena program tersebut belum bisa membangun kemandirian ekonomi dalam masyarakat.

Penulis sepakat atas pernyataan yang pernah dilontarkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta (Sutioso) terkait program salah satu calon gubernur saat itu mengenai DP 0 % untuk pembelian rumah perumahan. 

Menurutnya, masyarakat tidak boleh dimanjakan secara berlebihan, akan tetapi yang terpenting adalah membangun kemandirian ekonominya.

Kehadiran Negara dalam penanggulangan kemiskinan merupakan tanggungjawab yang sangat diharapkan, hal tersebut adalah kewajiban Pemerintah. Tapi Negara harus menyadari betul bahwa yang terpenting dalam penanggulangan kemiskinan bukan hanya sekedar memberikan bantuan kepada masyarakat, yang akhirnya mereka menjadi ketergantungan kepada Negara. 

Sifat bantuan tersebut harus bisa membangun kemandirian ekonomi bagi masyarakat, sehingga Negara bisa menyentuh semua masyarakat yang berada dalam lingkaran kemiskinan.

Misalnya, pemerintah memberikan modal yang sifatnya tidak habis pakai dan modal tersebut bisa menghasilkan modal yang sama, bahkan modal awal bisa dipindah tangankan kepada masyarakat lainnya, kemudian menghasilkan kembali modal dan dipindahkan lagi ke masyarakat lainnya dan seterusnya. 

Konsep ini tidaknya hanya berpotensi membangun kemandirian masyarakat, namun juga dapat mengefisienkan pengeluaran Negara. Tinggal Pemerintah merumuskan konsep pengawasan yang baik, sehingga program tersebut bisa berjalan secara berkelanjutan.

Program yang sesuai dengan konsep pembangunan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan adalah teseng. Tidak hanya sampai di situ, teseng juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. 

Praktik teseng dalam Suku Bugis yaitu konsep bagi hasil dengan menjadikan sapi sebagai objek ekonomi. Pemilik sapi/pemodal dianggap (pappatteseng) dan pemelihara sapi disebut (pattesng). Misalnya pappatteseng menyerahkan sapi betina kepada patteseng untuk diteseng.

 Apabila sapi tersebut telah berkembangbiak dan telah memiliki dua anak, maka bagi hasilnya satu untuk pappatteseng dan satu untuk patteseng, namun induk tetap menjadi hak pappatteseng

Setelah itu, patteseng pun telah miliki sapi/modal. Pappatteseng bisa saja melimpahkan lagi sapinya kepada pateseng lainnya sampai dengan pateseng selanjutnya itu memiliki juga sapi/modal. 

Begitu pula dengan patteseng yang pertama, dia sudah bisa juga menjadi pappateseng, karena telah memiliki modal dari hasil teseng. Begitupula dengan patteseng kedua dan begitu seterusnya. 

Teseng akan berkelanjutan dari satu ke yang lainnya sampai setiap orang memiliki modal sendiri berupa sapi dan beralih posisi menjadi pemilik modal. Konsep teseng cukup ideal bagi pemerintah untuk dijadikan sebuah program penanggulangan kemiskinan. 

Objek teseng tidak selamanya harus sapi, bisa saja kambing, kuda, kerbau dan yang lainnya sesuai dengan kondisi geografis setiap daerah. Misalnya di Bima, yang cocok adalah kuda. Seperti kita ketahui bersama bahwa sebagian besar masyarakat Bima memiliki kuda sebagai hewan peliharaan.

Perlu digaris bawahi bahwa keberhasilan setiap program yang dilaksanakan sangat ditentukan oleh pengawasan yang proporsional terhadap program tersebut. Pengawasanlah yang akan membuat program tersebut terus berkelanjutan, mengurangi kemiskinan dan membangun kemandirian ekonomi dalam masyarakat. Bersambung...

Tag :

aras-prabowo
  • 410 Dibaca