To Malaqbiqna untuk Mandar, Dari Raja Hingga Jaksa

Konsep Malaqbiq bagi masyarakat Mandar secara umum, sebetulnya abstrak dan mengalami penafsiran yang terus-menerus. Tak ada catatan tersendiri yang menyebut malaqbiq dalam teks-teks kebudayaan Mandar. Konsep siriq lebih dulu muncul, seperti banyak disebutkan dalam lontaraq. Bahkan, konsep siriq dalam tafsiran masyarakat Bugis-Makassar, digunakan pula dalam kebudayaan Mandar.


Seputarsulawesi.com - Bagi masyarakat Mandar, tak mudah kiranya menyematkan “To Malaqbiq”kepada seseorang. Sebab, untuk dianggap sebagai To Malaqbiq, orang tersebut mesti diakui “ke-malaqbi-annya oleh beragam lapisan masyarakat.

Idham dan Saprillah (2011) dalam Malaqbiq: Identitas Orang Mandar, menyebutkan bahwa dibutuhkan prosedur kultural untuk menjadi to malaqbiq. Olehnya, to malaqbiq itu sendiri adalah sebentuk piagam sosial yang diberikan langsung oleh masyarakat.

Konsep Malaqbiq bagi masyarakat Mandar secara umum, sebetulnya abstrak dan mengalami penafsiran yang terus-menerus. Tak ada catatan tersendiri yang menyebut malaqbiq dalam teks-teks kebudayaan Mandar. Konsep siriq lebih dulu muncul, seperti banyak disebutkan dalam lontaraq. Bahkan, konsep siriq dalam tafsiran masyarakat Bugis-Makassar, digunakan pula dalam kebudayaan Mandar.

Namun secara umum, mereka yang dianggap sebagai to malaqbiq merupakan seseorang yang memiliki kelebihan yang tercermin dalam perilaku sehari-harinya. Kelebihan yang dimaksud adalah sesuatu yang sifatnya positif.

“Orang yang malaqbiq memiliki karakter pemaaf dan mengedepankan pendekatan kemanusiaan. Malaqbiq adalah titik akhir dari siriq. Di mana, malaqbiq dan siriq memiliki keterkaitan makna,” tulis Idham dan Saprillah (2011).

To malaqbiq tidak hanya berasal dari mereka yang memiliki atribut akademik dan kebangsawanan. Hal ini karena yang terpenting adalah pengakuan yang berasal dari masyarakat. Bagi mereka yang pernah dan mampu memberi kontribusi positif bagi masyarakat Mandar. Baik mereka yang berasal dari masa lalu, ataupun periode sekarang.

Idham dan Saprillah (2011) menyematkan to malaqbiq kepada beberapa orang yang telah berjasa bagi masyarakat Mandar, dengan beragam kontibusi masing-masing. “Penyematan itu, tak lain berasal dari kemampuan tokoh-tokoh tesebut memberi pengaruh pada transformasi masyarakat Mandar dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat,” tulisnya.

Raja-Raja Bijak hingga Penentang Kolonial

Nama pertama yang disebut Idham dan Saprillah (2011), tak lain adalah founding father sistem pemerintahan di Mandar, I Manyambungi Todilaling. Pada era pemerintahannya, konstruksi maraqdia (pemimpin pemerintahan) mulai terbangun. Maraqdia diangkat oleh kelompok adat. Konsep pemerintahan yang ia usung, mengedepankan populisme dan keterlibatan banyak elemen masyarakat.

Di masanya pula, I Manyambungi Todilaling berhasil mengorganisir kerajaan-kerajaan yang berada di wilayah pesisir, guna melawan supremasi kerajaan Pasokkorang. Berkat gabungan kekuatan beberapa kerajaan ini, Pasokkorang berhasil ditaklukkan. Pun, hal ini kelak melahirkan ikrar persaudaraan yang dikenal sebagai Pitu Baqbana Binanga, menggantikan persekutuan Bocco Tallu.

I Manyambungi Todilaling tak sendirian dalam membangun kerajaan Napo. Terdapat seorang bernama Puang Dipojosang, seorang ketua adaq yang berdampingan dengan I Manyambungi Todilaling sebagai Maraqdia. Ia juga merupakan sahabat kecil dari sang Maraqdia.

Darmawan Mas’ud (1988), menyebut Puang Dipojosang sebagai inisiator peletakan dasar hukum ketatanegaraan yang nantinya dilaksanakan oleh I Manyambungi. “Keduanya pun menjadi arus pertama dari sejarah kepemimpinan Mandar terutama polarisasi daeng yang merupakan simbol aristokrasi dari maraqdia dan puang sebagai simbol dari dewan adaq,” tulis Idham dan Saprillah (2011).

Selepas masa pemerintahan Todilaling, putera hasil pernikahannya dengan anak bangsawan Gowa bernama Tomepayung, diangkat sebagai maraqdia Balanipa kedua. Di masa Tomepayung, Balanipa semakin jaya dan melakukan sejumlah pembaharuan di bidang hukum dan pemerintahan.

Pertemuan Tamajarra I dan II dilakukan demi mempererat hubungan antar kerajaan di wilayah pesisir. Pada pertemuan Tamajarra II inilah, istilah pitu baqbana binanga mulai dikenal. Diawali dengan kata pitu (tujuh) karena terdiri atas tujuh kerajaan pesisir, yakni Balanipa, Sendana, Banggae, Pamboang, Tappalang, Mamuju dan Binuang.

Tak hanya sampai di situ, Tomepayung juga menginisiasi pertemuan antara pitu baqbana binanga dengan kerajaan yang ada di pitu ulunna salu. Pertemuan yang diadakan di Luyo ini kemudian dikenal sebagai sepamandaq di Luyo, yang ditandai dengan adanya prasasti Allamungan batu di Luyo.

Nama lain yang diangkat Idham dan Saprillah (2011), adalah Daeng Rioso. Sebetulnya, Daeng Rioso sendiri dianggap tidak pantas mendapatkan gelar To Malaqbiq, menurut anggapan sebagian masyarakat Mandar. Karena, pada saat memegang tampuk pemerintahan di Balanipa, ia pernah lupa diri. Diceritakan bahwa dirinya merebut dan menikahi paksa istri Maraqdia Pamboang. Akibat ulahnya, Daeng Rioso terbunuh oleh rakyatnya sendiri.

Meski demikian, Daeng Rioso bisa dibilang berjasa kala memukul mundur Belanda yang hendak menguasai Balanipa. Dikisahkan, dirinya dengan gagah berani merangsek ke medan pertempuran, dengan hanya mengandalkan sebilah parang. Berkat kegigihannya dan juga bantuan dari kerajaan Banggae, ia berhasil mengalahkan pasukan Belanda. Tak berselang lama, Daeng Rioso diangkat sebagai Maraqdia Balanipa.

Masih di zaman penjajahan Belanda, Calo Ammana I Wewang merupakan salah satu pejuang Mandar yang hebat. I Wewang lahir di Kampung Lutan, Banggae (Majene) pada tahun 1854. Sebagai keturunan bangsawan, I Wewang terkenal sangat dekat dengan masyarakat dari kalangan mana pun. Sikapnya juga begitu pemberani, bahkan sejak ia masih kecil.

Penjajah Belanda dengan politik pecah belahnya, berusaha membuat tunduk kerajaan Balanipa. Sejumlah bangsawan lebih memilih mengekor ke Belanda. Namun, I Wewang justeru menyusun kekuatan bawah tanah demi menghadapi Belanda. Beberapa bangsawan perlahan-perlahan mengikuti langkah I Wewang. Padahal sebelumnya, mereka tak setuju dengan cara perlawanan.

Dalam beberapa pertempuran, pasukan I Wewang membuat Belanda kewalahan. Hal ini tak lain, karena strategi gerilya dan serangan kejut ke kamp atau iringan-iringan pasukan Belanda. I Wewang juga seorang yang berilmu tinggi. Ia diyakini memiliki kekebalan terhadap terjangan peluru.

Perlawanan I Wewang baru bisa diredam, ketika Belanda melakukan tipu muslihat. Belanda mengirim kembali pengikut I Wewang yang sebelumnya telah ditangkap, dan membunuh I Wewang saat ia sedang terlelap di tempat tidur. Pengikut ini diberi hadiah oleh Belanda apabila berhasil membunuh I Wewang. Kematian I Wewang membuat sejumlah pengikutnya kehilangan semangat perlawanan.

Ulama, Pejuang Kemerdekaan dan Jaksa yang Jujur

Tak mudah mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pasca 1945. Begitulah yang dialami oleh masyarakat Mandar, ketika Belanda dan sekutunya berniat kembali menguasai wilayah tersebut. Namun, perlawanan rakyat kembali digalakkan demi mempertahankan tanah air. Salah seorang bagian dari perlawanan tersebut, bernama Ibu Agung Andi Depu. Seorang perempuan, cum pejuang tangguh yang begitu disegani.

Ibu Agung Andi Depu memimpin Kris Muda (Kelasykaran Rahasia Islam Muda), dan secara aktif melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Andi Depu kemudian jadi sasaran penangkapan. Pada operasi penangkapan Desember 1946, Belanda berhasil menciduk sang perempuan pejuang. Kris Muda tetap tak menyerah, meski pimpinan mereka ditangkapi. Alhasil, pasukan Westerling dapat dikalahkan di Simullu, Majene pada 1 Februari 1947.

Selain pejuang, beberapa ulama dari tanah mandar juga merupakan sosok to malaqbiq. Sebut saja, ulama-ulama penganjur islam pertama di Mandar yang sebagian besar keturunan sayyid atay habib. Seperti Abdurrahim Kamaluddin yang menyebarkan islam di Banggae (Majene), Abdurrahman Al-Adyi sebagai peletak dasar ngaji kitab di Pambusuang, dan Habib Alwy bin Abdullah bin Sahl Jamalullail yang berdakwah ke Manjopai, Campalagian dan Pambusuang.

Pada generasi berikutnya, muncul beberapa ulama besar yakni Annagguru Muhammad Saleh dan Annangguru Muhammad Thahir, atau yang lebih dikenal sebagai Imam Lapeo. “Generasi to malaqbiq dari sisi keagamaan selanjutnya adalah annangguru yang secara suka rela mengabdikan diri kepada pembangunan kehidupan spiritual,” tulis Idham dan Saprillah (2011).

Nama terakhir sebagai sosok to malaqbiq, tak lain adalah Baharuddin Lopa. Idham dan Saprillah (2011), menyebut Baharuddin Lopa sebagai contoh tokoh Malaqbiq di zaman modern. Tak ada yang akan menyangkal ketokohan seorang Baharuddin Lopa. Baik itu di level nasional, terlebih di tanah kelahirannya sendiri, Mandar.

Bagi masyarakat Mandar, Baharuddin Lopa adalah sosok yang sangat membanggakan, karena telah membawa karakter Mandar dalam dirinya. Baharuddin Lopa dikenal sebagai seorang jaksa yang sangat jujur, tegas dan tidak pandang bulu dalam soal penegakan hukum. Pria yang lahir di Pambusuang pada tahun 1935 ini, begitu disegani oleh semua kalangan di Mandar.

Baharuddin Lopa merupakan sosok yang begitu mengedepankan kejujuran dan kesederhanaan dalam setiap laku hidupnya. Pria yang pernah menjabat sebagai jaksa agung ini, wafat pada 2003 lalu. Dan hingga sekarang, masyarakat Mandar begitu merindukan sosok Baharuddin Lopa dan berharap akan lahirnya kembali tokoh sekaliber beliau.

 

  • 282 Dibaca