Tren Baru Pengajaran Kitab Kuning di Pesantren


Seputarsulawesi.com, Makassar-  Bagi pesantren, kitab kuning menjadi sesuatu yang tak terpisahkan.  Aneh rasanya bila sebuah pesantren tidak mengajarkan kitab kuning. Karena itu, tidak berlebihan jika kitab kuning disebut sebagai rukun terselenggaranya pendidikan pesantren atau  tidak sah disebut pesantren jika kitab kuning tidak diajarkan di dalamnya. Bahkan Kementeriaan Agama sendiri menyebut kitab kuning sebagai salah satu unsur terpenting dalam penyelenggaraan pendidikan pesantren.

Demikian disampaikan tim peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar pada Seminar Hasil Penelitian Tahap I Bidang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi yang bertajuk "Pemanfaatan Kitab Kuning Di Pesantren" di Hotel Clarion Makassar, Selasa 24 April 2018.

"Meski ada beberapa pesantren yang ditemukan tidak mengajarkan kitab kuning karena beberapa sebab, antara lain kurangnya SDM di sebuah pesantren, tetapi secara garis besar penelitian kami masih menemukan banyak pesantren yang mengajarkan kitab kuning," papar Syarifuddin, peneliti Litbang yang bertugas meneliti pesantren di Palu.

Untuk mengatasi kekurangan SDM tersebut, urai Syarif lebih lanjut, beberapa pesantren mendatangkan tenaga pengajar dari Pesantren Sidogiri Jawa Timur. "Tenaga pengajar ini juga membawa tren baru pengajaran kitab kuning khususnya ilmu-ilmu alat tingkat dasar seperti metode al-miftah untuk pengajaran ilmu nahwu dan sharaf.


Abu Muslim, salah satu peneliti yang menelusuri pemanfaatan kitab kuning di kota Balikpapan mengatakan, pengajaran kitab melalui metodologi tulis pegon tetap dipertahankan. Hal yang sama ditemukakan di pesantren As'adiyah Sengkang Wajo Sulawesi Selatan yang diteliti oleh Husnul Fahimah. Keduanya menjelaskan metode pengajaran kitab kuning yang sedang diteliti tetap mempertahankan model lama karena ada berkah di sana. 

Ada banyak masukan dari peserta seminar terkait penelitian yang dikerjakan para peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, baik terkait metodologi penelitian maupun subtansi penelitian.

Doktor Muhammad Zain, Kepala Pusat (KAPUS) Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi Litbang Pusat Jakarta mengkritik terkait minimnya referensi yang digunakan para peneliti. Selain itu, kata doktor yang juga alumni salah satu peaantren di Sulawesi Barat mempertanyakan sejauhmana temuan peneliti terkait pengajaran kitab kuning yang diajarkan ulama Nusantara semacam Syeikh Arsyad Al-Banjari. Termasuk bagaimana peran ulana perempuan. 

"Dalam diskursus kitab kuning, hampir-hampir 'perempuan' tidak memiliki tempat yang 'baik'. Padahal dalam khazanah pemikiran ulama-ulama Nusantara, ditemukan sejumlah karya yang ditulis oleh ulama perempuan," terang Zain.

Terkait masih banyaknya pesantren yang istiqomah terhadap pengajaran kitab kuning khususnya ilmu-ilmu alat seperti nahwu sharaf dengan menggunakan metode lama, Mukammiluddin, dosen bahasa Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin mengatakan bahwa sekarang pesantren tidak boleh tertutup dengan metode baru seperti tamyiz dan metode iftitah. 

"Metode Tamyiz hanya butuh 100 jam untuk dapat membaca kitab kuning," katanya.

Sementara itu,  Amrah Kasim, Dosen pascasarjana UIN Alauddin memperkuat usulan Mukammiluddin bahwa ilmu alat bertujuan untuk menguasai kitab kuning, tidak hanya nahwu sharaf tapi juga butuh perangkat ilmu-ilmu lain seperti semiotika. 

"Karena itu pesantren memang harus bermitra dengan berbagai disipilin ilmu untuk memajukan pengajaran kitab kuning," ujar Amrah yang juga Direktur Pesantren IMMIM Putri Minasate'ne ini.

Laporan: Mubarak Idrus

  • 392 Dibaca